Sebuah kalimat bijak  dari India bilang, ” Orang yang tidak mengakui masa lalunya,  membuat masa depannya sendiri menjadi suram. ”  DD sangat menggemari kalimat ini untuk  dijadikan bahan renungan.

Kenapa ? Karena setiap orang tidak akan terlepas dari masa lalu. Sebuah periode kehidupan yang telah dijalankan, baik yang menyenangkan atau masa yang menyedihkan. Periode ini akan mengikuti kehidupan seseorang  sampai mati.

Masa lalu tidak bisa dikuburkan begitu saja, melainkan  harus diakui keberadaannya,  dan diberi tempat dihati. Masa lalu juga memerlukan pengampunan diri, agar seseorang tidak dikejar – kejar perasaan  bersalah  secara  terus menerus.

Keberanian untuk mengakui masa lalu secara terus terang dan blak – blakkan, Dewa Dewi comotkan dari cerita seorang pelacur.

Mungkin setiap orang cepat – cepat merasa jijik,  jika mendengar kata pelacur. Wanita hina yang kerjanya menghibur pria – pria hidung belang.

Karena pelacur dipandang sebagai perempuan  hina, maka tidak ada seorangpun yang bercita – cita menjadi pelacur.  Hanya wanita gemblong azah, yang bisa bilang ingin jadi pelacur. Maka tidak heran, jika Karina Schaapman dimasa mudanya juga tidak ingin bercita – cita jadi pelacur. Lihat fotonya dibawah ini :

schaapman_karina_thumb_9430_full_11277.jpg

Wanita blasteran Belanda Indonesia yang kini menjabat sebagai anggota dewan parlemen kota Amsterdam tersebut, masa mudanya justru terjebak dalam dunia pelacuran. Dan siapa sangka, pelacur hina itu bisa  sukses ?

Karena Karina Schaapman mau berubah dan memperbaiki diri. Wanita kelahiran kota Leiden yang dibesarkan dari keluarga broken home tersebut, pada tahun 2004 membuat geger lewat pengakuannya yang blak – blakan, lewat  buku yang diluncurkan.

Karena wanita anggota parlemen yang menduduki jabatannya sejak tahun 2002 tersebut,  menelorkan buku yang berjudul ” Zonder Moeder “( Tanpa Bunda ) yang laris manis, bahkan dicetak berulang – ulang.  Bahkan tahun ini di London sudah muncul bukunya versi bahasa Inggris.

9041706003.jpg

Dia membeberkan habis seluk beluk dunia pelacuran, dan  menceritakan  tanpa tedeng aling – aling  atau sensor, bagaimana kehidupannya sebagai wanita penghibur pria. Makanya Dewa Dewi berani memastikan, kalo buku ini tidak akan ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.  Nanti malah dikira cerita porno.

Kesaksiannya ini mendapatkan begitu banyak simpati. Karena dia berani, jujur, dan mengakui apa adanya.  Saat ini Karina Schaapman  memperjuangkan dunia wanita dan pendidikan.

Tetapi, apakah segampang itu orang memandang masa lalu seseorang secara positip ? Tentu tidak.

Silahkan membaca curhat pembaca Dewa Dewi ini dan memberikan sumbang saran.

Bimo – Bekasi

kk_lonely.jpg

Hallo Dewa Dewi…..

Semoga penulis dan pembaca Dewa Dewi sehat semuanya. Setelah membaca berbagai cerita curhat, akhirnya saya beranikan untuk menulis isi hati saya ini.

Saya seorang pria berusia 30 tahun, sudah menikah dan dikharuniai seorang balita berusia 3 tahun. Buah hati kami gadis cilik yang imut – imut. Saya dan istri  bahagia, dan kehidupan berjalan lancar.  Keadaan  perekonomian kami terbilang cukup, walo kami tidak mengatakan kami bisa hidup mewah kayak juragan.

Satu hal yang membuat saya dan istri saya  agak sedih, adalah retaknya hubungan keluarga. Maksud saya, kami tidak ada kontak lagi dengan orang tua saya. Hal ini sudah terjadi sekitar 4 tahun lalu, sejak saya memutuskan untuk menikahi istri saya yang sekarang ini.

Bahkan anak kami, juga belum pernah melihat kakek dan neneknya. Hubungan saya dengan kakak saya laki – laki ( satu satunya ) juga amat sedikit. Makin hari  makin terasa renggang.

Yang menyebabkan keluarga saya memutuskan hubungan keluarga ini adalah karena pilihan saya memilih istri. Karena istri saya ini ngga se-level menurut pandangan orang tua saya. Dan yang sangat membuat mereka marah, yaitu ketika mereka mendengar bahwa istri saya adalah pernah jadi pelacur.

Memang dia adalah mantan pelacur. Dia  mengakhui sendiri. Dia menjadi pelacur bukan karena kemauannya, karena akibat dipaksa. Waktu kecil, dia pernah diperkosa ayahnya. Karena ayahnya tergolong bengis, maka dia tidak berani berbuat  apa – apa.

Bahkan ketika dia sudah remaja, dia malah disuruh jadi pelacur di Jakarta, untuk memenuhi  hobi ayahnya sebagai penjudi. Awalnya dia ditawarkan ke teman – teman atau kenalan ayahnya, untuk membayar hutang akibat kalah judi.

Istri saya lahir dan besar di kota Sukabumi,  Jawa Barat. Karena dia tergolong cewek yang menarik, makanya dia dapat memikat banyak cowok. Dia bekerja keras sebagai pelacur, karena tuntutan ayahnya.

Semakin banyak pemasukan keuangan, judi  ayahnya semakin menggila. Untungnya, istri saya ini pintar menabung ( diam – diam ), dan  berusaha menyempatkan belajar.  Tidak heran, dia bisa menyelesaikan pendidikannya sebagai sarjana.

Dia mengakui, semua biaya dia dapatkan dari  bisnis seks.  Karena dia berpikir, hanya pendidikan-lah yang bisa dijadikan topangan hidup dimasa depan. Walo dia cepat mendapatkan uang, tetapi dia tidak menikmati kehidupan sebagai seorang cewek nakal.

Ayahnya meninggal beberapa hari, sebelum  istri saya diwisuda. Ayahnya juga mengetahui kalo dia kuliah, disela – sela waktunya memenuhi panggilan laki – laki. Ayahnya waktu itu mengijinkan, asal setoran kerumah tetap jalan terus.

Saya mengenal istri saya ini dikantor. Ditempat kerja saya dan juga dia. Jatuh cinta pada pandangan pertama, istilahnya. Kami pacaran selama satu  tahun. Yang unik, selama pacaran,  istri saya tidak mau dicium. Paling banter hanya gandengan tangan.

Ketika masa pacaran menjadi  serius, saya ingin menikahinya. Saya ajak dia berjalan disebuah taman. Disaksikan bunga – bunga berwarna – warni, suara kicau burung, saya mengajaknya duduk disebuah bangku taman.

Disaat warna merah tembaga senja sore sedang membias cerah, saya memegang tangannya. Saya mencium tangannya, dan bilang kalau saya berniat menikainya. Mendengar kalimat saya yang meluncur diliputi lautan emosi,  yang terlihat dibalik mata saya yang berkaca – kaca, dia menangis  terisak – isak.

Dia bilang, kalo dialah  wanita yang paling berbahagia saat itu. Akhirnya dia bercerita dengan terus terang, sebelum saya berniat untuk menikainya. Dia bercerita  tentang masa lalunya, yang pernah diperkosa ayahnya. Dan kehidupannya  saat  diceburkan kedalam lembah pelacuran, demi memenuhi kebiasaan buruk ayahnya sebagai penjudi.

Saya tidak tahan menahan air mata, demikian juga dia. Kita berdua jatuh  kedalam pelukan, dengan dipenuhi suara isak dan tangis. Dia juga bilang, kalo harus belajar untuk mencintai dan mempercayai pria dari awal.

Karena  dia pernah diperkosa, yang menyebabkan trauma pada laki – laki. Juga pengalamannya sebagai penjaja seks, yang  hanya bertemu pria – pria hidung belang. Dalam benaknya, laki – laki  hanya  menggunakan perempuan sebagai pelampias nafsu.

Makanya dia ngga pernah mau dicium saat pacaran, karena merasa risih. Dia sudah terbiasa dengan ciuman nafsu, sehingga merasa sangat kikuk, untuk mencium dengan orang  yang sangat mencintainya.

Ternyata kakak saya mengenali istri saya,  saat saya kenalkan ke keluarga. Saya nggak tau, kakak saya kenalnya gimana. Yang jelas dia mengetahui, kalau istri saya  pernah jadi pelacur.

Ayah dan ibu kecewa dengan pilihan saya. Kami tidak direstui. Akhirnya kami menikah tanpa dihadiri  keluarga saya. Dan hingga saat ini keluarga saya tidak mau berhubungan dengan saya, karena memperistri mantan pelacur.

Entahlah, sampai kapan. Saya dan istri saya hanya bisa berdoa. Kami saling mencintai dan menyayangi. Salahkah jika saya menyayanginya ? Walo masa lalunya kelam, dia kini menjadi istri, ibu rumah tangga, dan wanita pekerja yang baik. 

Mohon dukungan sahabat – sahabat Dewa Dewi.

Terima kasih