Beberapa waktu yang lalu DD pernah membaca artikel,  tentang berbagai kasus yang menggerogoti pejabat dan petinggi negara republik tercinta. Tiga kasus besar yang selalu muncul kepermukaan adalah : penyalah gunaan kekuasaan ( korupsi ), pelecehan seksual dan kasus narkoba.

Yang ingin DD bahas kali ini adalah tentang pelecehan seksual, khususnya yang sering terjadi ditempat kerja. DD sesuaikan materi ini dengan melihat berbagai kasus pelecehan seks dinegara dimana DD tinggal.

Kenapa melakukan  hubungan seks ditempat kerja ? Agaknya pertanyaan ini begitu menggelitik, sehingga pernah diadakan survei di Belanda sekitar 2 tahun yang lalu. Hasilnya ?

Ternyata tempat kerja merupakan fantasi seks yang menempati urutan pertama. Begitu menggiurkan dan menegangkan, sehingga banyak yang berfantasi untuk melakukan adegan ranjang ditempat kerja.

Adanya kontak yang terus menerus dengan rekan kerja, kejenuhan, stress dan perasaan coba – coba, yang tidak sedikit mengantar pria dan wanita untuk jatuh dalam petualangan,  yang bisa dibilang berbahaya.

Banyak sekali artikel yang menulis romance dikantor  kaitanya dengan efektifitas, kreatifitas, loyalitas dan produktifitas seorang tenaga kerja. bahkan banyak yang menunjukkan sisi kurang menguntungkannya, tetapi toch tetap banyak yang terjebak untuk mencobanya.

Lho, pacaran atau melakukan seks di kantor apa salahnya ? Jika dilandasi suka sama suka, saling mencintai,  tidak memaksakan, dan tidak diketahui oleh orang lain?

DD juga ngga akan mencampuri, kok.

Cuma yang jadi pertanyaan, apakah tindakan ini memuaskan dan  menguntungkan ? Apakah  bukan perbuatan  bodoh yang cenderung mengantarkan pelakunya pada pembunuhan karakter diri sendiri?

Bisa mungkin, kasus yang sebelumnya dilandasi iseng, coba – coba, cinta dan sebagainya berujung menjadi senjata makan tuan. Kasus yang justru berbalik 180 derajad, dan berubah menjadi pelecehan seksual. Baik yang berwujud isyarat ( bahasa tubuh ) , kata – kata hingga perbuatan. Atau bahkan dituduh melakukan pemerkosaan.

Ada 3 kasus yang menjadi gambaran, yang DD gunakan sebagai pedoman agar menjadikan ruang kerja tetap sebagai tempat profesional  untuk bekerja dan bergaul. Kasus tersebut sebagai berikut :

Kasus pertama,

Beberapa minggu yang lalu salah seorang anggota parlemen Belanda dituduh oleh seorang wanita Iran telah melakukan pelecehan seksual. kasus yang terjadi saat rombongan parlemen mengadakan kunjungan kerja di Iran. Kasus ini terjadi dikedutaan besar Belanda di negara Iran.

Apa yang dilakukan oleh pria Belanda terhadap karyawati kedutaan tersebut ? pria tersebut bilang, 

” Anda nampak sangat sensual. “

Kasus ini mendapat publikasi yang cukup besar dari kalngan media. Yang bisa dijadikan pelajaran adalah,  betapa pujian juga bisa berujung kepada bentuk ungkapan yang kurang menyenangkan, kalau tidak tepat dengan etika, norma, dan nilai sosial yang berlaku di negara ( masyarakat) tersebut.

Kasus kedua, 

Mr. Lubbers, mantan petinggi PBB yang membawahi urusan pengungsi dan korban perang, terpaksa dipanggil oleh pemerintah Belanda untuk dimintai pertanggung jawabannya, berkaitan dengan pelecehan seksual.

Kasus ini muncul sebagai berita besar dimedia. Apa yang dilakukan oleh Mr. Lubbers terhadap wanita tersebut ? beliau mencolek pinggul wanita tersebut disaat kerja. Tak heran, beliau akhirnya disindir media sebagai si pencolek pinggul.

Kasus ketiga,

Kasus yang ini bertaraf Internasional dan sudah sangat umum. Kasus Bill Clinton  yang dituduh melakukan hubungan seks dengan Monica, saat wanita muda ini melakukan program magang.

Kasus ini begitu panjang. Karena walo ditemukan bercak sperma dibaju Monica, akibat ceceran sperma yang keluar saat melakukan oral seks, tetapi kasus ini tetap muncul dengan berbagai versi.

Dari gambaran diatas, setidaknya bisa dipakai pelajaran, bahwa kasus yang berkaitan dengan romantika dan seks ditempat kerja begitu rawan. Begitu rawan, yang tidak jarang malah menjadi senjata yang makan tuan.

Tetapi benarkah kasus ini gampang dielakkan, kalo kebetulan mengalami sendiri ?

Theori seh gampang, tetapi prakteknya susah, lhoh?

Silahkan saja membaca surat curhat dibawah ini, dan memberikan pendapat serta sumbang saran.

Naning – Jakarta

Buat DD yang baik  serta pembaca DD yang budiman,

Saya ingin menuliskan tetang pengalaman yang menyangkut kehidupan pribadi saya dan dunia kerja. Saya adalah seorang karyawati perusahaan besar yang berskala Internasional. Umur saya menginjak angka 26 tahun dan masih berstatus single.

Saya tinggal mandiri disebuah appartemen. Pekerjaan saya berkantor dikawasan Kuningan Jakarta.  Saya mempunyai seorang bos pria yang penapilannya sangat oke.

Orangnya baik, ramah, sosial, berstatus terpandang, dan masih bujangan. Usianya 35 tahun. Saya bekerja dikantor ini sudah sekitar 6 bulan, dengan lima hari kerja setiap minggunya.

Sebagian besar ditempat kerja, saya banyak berhubungan dengan bos saya ini secara fisik. Semakin lama saya sering bertemu dengan bos saya ini, tidak bisa saya pungkiri kalo saya memang jatuh cinta sama dia.

Hal ini memang tidak saya tunjukkan lewat kata – kata pada bos saya, dengan pertimbangan tertentu. Tetapi dalam kesehari – harian sangat  terlihat sekali. Pria normal juga tau, kalo melihat cewek lagi kasmaran.

Saya selalu menjaga penampilan dengan   mengimbangi shopping untuk baju – baju yang sedang ngetrend,  menggunakan parfum yang  tepat, dan model rambut yang sesuai dan terbaru.

Hasilnya memang tidak seperti bertepuk sebelah tangan, karena saya sering mendapatkan pujian dari bos. Entah karena baju saya, bau parfum, atau prestasi kerja saya.

Saya menjadi berbunga – bunga dan senang ketempat kerja. Saya juga beberapa kali diajak bos saya ini untuk menemani makan malam. Biasanya saya dandan habis – habisan, dan menggunakan busana serta parfum yang paling oke.

Beberapa rekan saya banyak yang cemburu, baik yang cewek maupun yang cowok karena kedekatan saya dengan bos ini. bahkan ada rekan pria yang naksir saya, tetapi selalu saya tolak, karena saya hanya mengkosentrasikan pada bos ini.

Bos saya sering memuji kecantikan dan prestasi kerja saya. kalo ngobrol juga enak dan intim. Tetapi kok ngga menunjukkan tanda – tanda jatuh cinta ?  Bukannya saya yang terlalu agresif, lhoh.

Pernah saya dipanggil, dan dibilangin kalo baju yang saya gunakan akhir – akhir ini terlalu seksi, dan jadi bahan gunjingan dikalangan pria. Padahal memang saya sengaja  menggunakan baju seperti ini untuk memancing bos saya.

Pernah suatu malam saya kerja lembur, dan saat itu bos saya juga ada. Dia nampak  agak kecapaian.  Saat ngobrol, dia minta diberikan informasi tentang pemijat yang enak.

Pikiran saya waktu itu jadi cemburu. Karena kalao dia ke panti pijat, jangan – jangan malah digarap sama pemijat – pemijat, yang juga tidak jarang menjual jasa pemuas birahi.

Sayapun menawarkan untuk memijatnya. Karena memang saya bisa memijat. Tetapi bos saya malah bilang, kalau hal ini kurang layak bagi karyawati dan pimpinannya. 

Kalo saya berbicara dengan lawan jenis, kebanyakan mereka sedikit banyak melihat kearah dada saya. Karena dada saya memang tidak bisa dibilang kecil, dan saya juga tidak menyalahkan pria.

Tetapi bos saya ini tidak pernah  melihat kearah dada saya. Dia kalo ngobrol matanya terus tertuju pada wajah saya. Lama – lama saya jadi berpikir,  ataukah bos saya termasuk pria homo ?

Ataukah dia sebenarnya mempunyai hati kesaya, tetapi dia terlalu idealis untuk menjaga reputasinya di kantor ?  Mohon pendapat dari pembaca.

                                             ************