( Curhat ditulis Cintia ) Setelah  lama tinggal diluar negri, ada kerinduan yang mendalam untuk berlibur dan temu kangen dengan keluarga di Indonesia.

Tetapi ada satu hal  yang membuat hatiku teriris – iris, setiap  kali mau pulang.

Teringat kasus  kerusuhan di bulan Mei 1998 !

Karena dengan meletusnya kasus ini,  telah membuatku trauma berkepanjangan.   Saudaraku telah menjadi korban ! 

Maksud tulisan  ini juga tidak ada maksud yang muluk – muluk, apalagi   berjuang menegakkan keadilan.

Aku percaya, peristiwa pemerkosaan Mei memang  dibuat kontradiksi belaka.  Ada  pihak yang berjuang, tetapi apa hasilnya dalam 10 tahun setelah peristiwa itu ?

Bagaimana nasip berkas – berkas tebal yang diajukan oleh oleh mentri negara urusan pemberdayaan perempuan ibu Meutia Hatta ke Kejaksaan Agung ? Cuma hiasan belaka !

Bukti – bukti yang dikumpulkan oleh tim  gabungan pencari fakta tersebut lenyap  di Departemen Hukum. Ironisnya, berkas yang berkaitan dengan pemerkosaan lenyap total ! Siapa yang mencuri ?

Kalau  tidak ada sesuatu yang ingin ditutupi, kenapa berkas  – berkas yang jika ditumpuk  bisa menutupi ruangan berukuran 3 x 4 meter bisa lenyap ? Segampang itukah mencuri  tumpukan – tumpukan berkas – berkas penting ?

Tulisan ini hanya sebagai refleksi kehidupan, dan sebagai rasa kangenku buat Rara ( samaran ), kakakku yang sudah meninggal. 

Saya yakin, kasus yang menimpa Rara juga banyak dialami oleh korban lain. Tetapi dengan alasan dan pertimbangan tertentu,  tidak ada keberanian untuk mengangkat kepermukaan.

Tulisan ini disamping merangkum  obrolan dengan  Rara, juga lewat buku harian Rara yang masih kusimpan. Sebelum meninggal, Rara memberikan buku hariannya, yang banyak memuat kasus pemerkosaan yang dia alami dibulan Mei di Jakarta.

Setelah kasus pemerkosaan itu, Rara tidak banyak  membicarakan  tentang peristiwa  getir yang dialaminya. Dia  mengalami tekanan psikis yang luar biasa. Atas pertolongan keluargaku yang tinggal di Malaysia, akhirnya dia dibawa berobat kerumah sakit disana.

 Sekitar  tiga bulan setelah peristiwa tersebut, kesehatannya begitu memburuk. Infeksi radang hatinya semakin parah. Dan Rara yang   semenjak  akhir tahun 1997 penyandang virus HIV  tersebut akhirnya meninggal dunia. Selanjutnya dia dibawa pulang dan dimakamkan di Manado.

Mungkin ada yang  bertanya, Rara   adalah penderita   AIDS  saat  kasus pemerkosaan  terjadi ?

 Jawabannya : YA !

Dengan jujur aku mengakui, kalau kakakku memang bukan wanita baik – baik. Dia dilahirkan dengan wajah cantik dan body yang  menarik. Tetapi karena ini pula, yang mendekatkan dia dengan dunia maksiat.

Aku dan Rara adalah dua wanita bersaudara yang lain total. Dia berkulit putih mulus, bermata  agak sipit, dan berambut lurus. Mirip seperti cewek Tionghoa. Padahal dalam keturunan keluarga, hanya neneklah yang memang orang Tionghoa. 

Sedangkan  aku  berkulit agak kecoklatan, bermata biasa, dan berambut ngombak ( agak keriting ). Mungkin ini pengaruh mamaku yang ada darah  Maluku. Tidak heran, aku dan Rara seperti bukan dua saudara kandung.

Dia 2 tahun lebih tua. Saat kejadian, dia berusia 26 tahun.

Orang tua kami meninggal sewaktu aku dan Rara masih berusia puber. Tante dari mamaku berbaik hati menampung kami, dan  membiayai sekolah. Ketika SMA kami hijrah ke Jakarta. Ada tanteku yang sukses, yang berbaik hati menolong kami di Jakarta.

Aku dan Rara memang lain. Aku cenderung banyak di rumah dan membaca buku. Sementara Rara suka hang out di cafe, diskotik dan tempat remang – remang.  Sekolahnya amburadul.  Setelah lulus SMA, tante amat kesal dengan  kelakuan Rara.

Rara tidak dibiayai kuliah. Cekcok dengan tante, membuat Rara memilih keluar rumah. Dia tinggal di apartemen yang dihuni cewek – cewek asal Kawanua. Dan sudah bisa ditebak, Rara terperosok menjadi  cewek panggilan.

Aku dan Rara tetap mempunyai kontak yang baik. Rara adalah tipe periang dan spontan dalam segala hal.  Dia juga tidak canggung – canggung menceritakan pekerjaannya sebagai  wanita pemuas nafsu pria. Bahkan dia juga  pernah menjadi model sexy lingerie, wet dress, bikini, hingga topless untuk majalah  porno  di Thailand.

Dengan cewek – cewek Kawanua, dia mengelola  Love House Gadis – Gadis Kawanua, yang  memberikan suguhan tarian  tanggal baju, dan pesta seks untuk pria kalangan atas.  Dia bekerja sama dengan Dea,  sahabat akrapnya. Aku juga mengenal Dea, walau tidak begitu akrap.

Karena Dea lulusan Akademi Bahasa Asing, maka bahasanya inggrisnya cukup bagus dan lancar. Kemampuan ini dimanfaatkan untuk menggaet tamu dari manca negara. Tidak heran, di club ini banyak ditemukan pria – pria bule, yang konon  banyak diminati bule asal  Australia.

Akhir tahun 1997, Rara  jatuh sakit. Dia menderita hepatitis A, dan dirawat di rumah sakit. Setelah melalui test darah, ternyata darah Rara dinyatakan positip mengandung virus HIV. Hal yang bersamaan juga menimpa Dea. Dia mendapati dirinya sudah terinfeksi virus HIV melalui check up  yang dilakukannya.

Rara dan Dea menjadi sangat sedih, karena mereka sudah terinfeksi virus HIV. Mereka berencana meninggalkan Jakarta, dan mendirikan restoran di pulau Bali. Tetapi karena minimnya pengalaman dalam usaha ini, sehingga prosesnya molor.

Saat kerusuhan terjadi, Dea sedang mengantarkan Rara ke rumah sakit dikawasan  Jakarta pusat untuk berobat. Sepertinya hepatitisnya kambuh. Rara merasakan  mual – mual. Pada awalnya, dia mengira hamil. Tetapi kenyataanya tidak.

Setelah mengunjungi poliklinik dokter ahli penyakit dalam, mereka pulang menuju kawasan  Jakarta Utara.  Tiba – tiba mobil yang dikendarai Dea terjebak dengan keramaian. Jalanan dipenuhi dengan  massa dan terlihat aksi pembakaran sana – sini.

Sebenarnya Dea ingin putar haluan, tetapi terlambat. Mobilnya dikepung pemuda – pemuda  dengan pandangan yang liar dan beringas.  Mobil digedor – gedor dari luar. Dia juga tidak berani tancap gas kedepan, karena  kawatir melukai orang  yang didepannya.

Pemuda – pemuda yang liar tersebut dengan paksa mengeluarkan Rara dan Dea  dari mobil.  Mereka begitu yakin kalau Rara dan Dea adalah  cewek Tionghoa karena muka dan penampilannya. Mereka membawa Dea dan Rara ketempat yang terpisah.

Rara begitu ketakutan. Apalagi saat tersebut Rara  sedang sakit hepatitis, jadi cepat mual dan pusing.  Rara sudah memelas minta dilepaskan tetapi jusru mulutnya ditampar. Antara perasa takut, marah, dan kesal, yang membuat  Rara tidak mau  berdiskusi lagi dengan mereka.

Dia dibawa masuk kesebuah rumah. Jumlah pemuda yang ada saat itu  sekitar tujuh orang. Atau mungkin lebih. Dua pemuda memegang tangan kanan dan kirinya.  Rara berdiri menghadap meja, dan mukanya ditelungkupkan kedepan.

Seorang pemuda  dengan kasar membuka celana jeans dan celana dalam Rara. Ketika pemuda tadi mendapati sebuah tattoo yang menghiasi diatas pantat  Rara, semakin semangatlah dia. Mereka yakin 100 % kalau Rara adalah cewek bejad yang patut dilahap.

Rara diperkosa bergantian hingga kelelahan dan kesakitan. Ternyata ada seorang pemuda yang rupanya tidak begitu berpengalaman. Sehingga dalam suasana sadis tersebut dia tidak bisa ereksi. Salah seorang pemuda menyuruh Rara membuka mulutnya.

Rara yang sudah kesakitan, pusing dan mual sejak awal, langsung muntah – muntah. Pemuda yang kemaluannya disodorkan didepan mulut Rara  tersebut, begitu marah. Kemaluannya kotor  dilumurin muntahan.

Karena pemuda ini tetap tidak bisa ereksi, maka dia melampiaskan nafsu dan amarahnya dengan menggigit puting Rara hingga berdarah.  Tidak tahan sakit, Rara pingsan.

Ketika bangun dia sudah berada di ruang  gawat darurat.  Entah bagaimana ceritanya.  Mungkin dia ditemukan orang   yang berusaha   menyelamatkan barang – barang,  di area kebakaran tersebut. Dia juga tidak ingat lagi, berapa lama dia  pingsan. Mukanya bengkak dan kebiru – biruan.

Dia juga mengalami pendarahan dikemaluannya. Karena itu dia  mendapatkan jahitan. Setelah dua minggu  dirumah sakit, Rara diperbolehkan pulang. Atas saran Tante di Malaysia, Rara dianjurkan dirawat  disana. Waktu itu aku tidak menceritakan kepada Tante, kalau Rara sebenarnya positip virus HIV. Oleh karena itu Tante sempat marah ketika akhirnya aku menceritakan perihal ini.

Dalam periode tiga bulan, kesehatan Rara berangsur – angsur turun drastis.  Radang hatinya  cepat memburuk. Ini juga dikarenakan daya tahan tubuhnya yang cepat melemah karena infeksi HIV.

Tiga bulan berikutnya dia meninggal.

Banyak liku – liku kehidupannya yang banyak aku temukan  lewat buku hariannya.  Karena dia memberikannya, agar aku membacanya.   Sejak saat itu pula, aku tidak  pernah mengetahui dengan nasip Dea.  Masih hidupkah dia ?

Ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan  membaca buku harian ini. Yaitu  penularan  virus HIV kebanyak orang dengan kasus pemerkosaan ini.  Dan para pemerkosa ini, juga akan menularkan virus HIV ke calon – calon istrinya. 

 Marilah belajar hidup damai secara berdampingan, dan menghargai perbedaan.