Salah satu bentuk alam perasaan yang sangat berdampak buruk bagi kesehatan seseorang, adalah perasaan bersalah dan perasaan berdosa.
Perasaan ini begitu menyiksa, sehingga menimbulkan tekanan psikis, yang tidak jarang membawa seseorang menuju tahapan kearah depresi.
Dan tekanan psikis ini, yang akhirnya mampu menciptakan gangguan stabilitas fisik. Sehingga daya tahan tubuh menjadi menurun.
Dan salah satu bentuk mengeksplorasikan perasaan tersebut adalah dengan jalan menulis, untuk meringankan tekanan yang tertimbun. Apalagi kalau masalah ini tidak gampang dicurahkan ke orang lain secara terus terang.
Maka Dewa Dewi berterima kasih kepada Mr. Gundah ( samaran ), yang telah memanfaátkan Dewa Dewi sebagai blog untuk berbagi duka dan berkeluh kesah.
Silahkan membaca dan memberikan tanggapan !
Mr. Gundah – Luar Jawa
Saya, yang sudah bertahun – tahun menghantui pikiran dan hati. Bahkan merong – rong seluruh sendi kehidupan saya.
Perasaan tertekan ini juga sering muncul didalam mimpi. Yang membuat mata saya tidak mampu dipejamkan lagi. Air mata yang bercucuran mengiringi perasaan bersalah dan berdosa, yang amat luar biasa. Dan istri sayapun, tidak mengetahui hal yang sebenarnya.
Saya memang orang bersalah, pelaku kejahatan, yang masih diberikan hidup. Namun kehidupan yang saya emban ini, justru terasa begitu berat. Bahkan kadang ada pikiran untuk mengakhiri hidup saja.
Untunglah saya mendapat pertolongan yang baik dan begitu profesional dari seorang psikolog. Sehingga keadaan psikis saya membaik, dan semangat hidup Perkenankanlah saya mencurahkan hati dan perasaan saya, walo curhat ini keluar dari hati seorang yang telah berbuat biadab. Ijinkanlah saya mengeksplorasi kekalutan dan kegundahan berangsung – angsur tumbuh.
Tentang background yang membuat saya tersiksa ini akan saya uraikan. Tetapi ada beberapa hal yang menyangkut nama, tempat, waktu, yang sengaja tidak saya uraikan dengan jelas, demi alasan tertentu.
Sesuai dengan judul diatas, saya telah berbuat jahat memperkosa seorang wanita. Hal ini terjadi saat terjadi saat meletus kerusuhan Mei 1998. Peristiwa kelam, yang membawa bangsa Indonesia memasuki periode kelabu.
Pada saat kasus ini terjadi, saya masih berstatus sebagai mahasiswa swasta disalah satu perguruan tinggi Jakarta. ( saat ini saya berprofesi sebagai pengusaha ).
Di Jakarta saya juga termasuk orang perantau, karena saya berasal dari salah satu kota di Jawa Tengah. Walo perantau, tetapi saya tidak merasakan kesukaran dalam keuangan. Karena kedua orang tua saya tergolong mampu.
Pada hari kelam ini, saya sebenarnya sedang mengantarkan beberapa teman ke lokasi pertemuan. Saya nggak menanyakan kepada dia, pertemuan apa yang dimaksudkan. Karena saya tidak begitu tertarik mencampuri urusan orang lain.
Saya cuma mengantarkan, karena kebetulan sayalah yang mempunyai mobil. Mereka adalah teman – teman yang tidak begitu dekat. Karena hanya satu orang saja, yang saya kenal dengan baik.
Setelah sampai ketempat tujuan, turunlah teman – teman. Mereka bergegas menuju rumah tempat pertemuan tersebut. Pada saat itu saya sebenarnya langsung ingin pulang.
Tetapi saya merasa haus sekali, sehingga saya tidak menolak, saat teman mengajak mampir kerumah tersebut. Hanya sekedar minum coca cola.
Disaat saya minum coca cola, seorang pria muda berambut panjang menghampiri saya. Dia minta bantuan saya untuk mengantarkan mereka kesebuah tempat. Saya nggak nanya macem – macem dan langsung mengiyakan saja.
Yang hadir dirumah tersebut sekitar sepuluh orang. Sudah ada dua mobil, jadi mereka membutuhkan satu mobil lagi. Tanpa banyak nanya saya mengiyakan saja. Lagi pula saya waktu itu tidak ada janji atau kegiatan. Ah, cuma nganterin pake mobil saja kok. Apa sih salahnya ?
Setelah coca cola habis saya tenggak, kita semua langsung meluncur ke lokasi yang sudah disepakati. Saya mengendarahi mobil paling belakang, mengikuti dua mobil didepan saya. Perasaan waktu itu biasa – biasa saja, nggak ada yang mencurigakan.
Setelah saya memparkir mobil dipinggir jalan, kita semua masih harus berjalan menuju sebuah lokasi pertokoan. Letaknya tidak jauh dari mobil yang diparkir. Dari sini kita semua berhamburan menuju pertokoan.
Saya baru sadar, kalo saat itu sedang terjadi kerusuhan di lokasi. Disekitar pertokoan ramai sekali. Banyak orang – orang yang menyerbu toko dan menjarahnya. Pemandangan orang yang keluar masuk toko sambil menenteng barang – barang curian banyak sekali.
Sadar saya berada dilingkungan kerusuhan, saya sebenarnya mau pulang saja. Tetapi tiga orang yang masih bersama saya, mengajak untuk mendekati lokasi.
Saya juga goblok, kenapa saya mau saja. Padahal tidak ada yang saya cari disana. Rekan – rekan yang lainnya sudah meluncur ke lokasi dengan cepat. Mereka berhamburan, dan bersemangat sekali. Sebenarnya saya tidak enak berada ditempat orang – orang yang sedang menjarah.
Ketika kita berjalan agak cepat menuju lokasi kerusuhan, tiba – tiba datang seorang rekan yang barusan dari lokasi. Kita semua diajak menuju kesana. Memasuki sebuah toko yang boleh dibilang mewah. Barang – barang berserakan. Rupanya penjarah sudah habis beroperasi disini.
Saya diajak menuju keruangan bagian dalam. Betapa saya begitu kaget. Mata saya melihat dua wanita muda yang sedang menangis diperkosa !!!
Kalo dilihat dari wajahnya, sepertinya kakak beradik. Keduanya wanita berdarah Tionghoa. Mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat, dan sedang dipaksa melayani nafsu bejad dua pria.
Mereka menangis dengan suara yang tidak keras, karena sudah tidak bertenaga lagi. Terlihat mata saya, bagaimana dua pria tersebut dengan penuh nafsu sedang melampiaskan birahinya. Yang satu diperkosa diatas lantai, dan yang satu diperkosa disebuah meja yang tidak begitu tinggi.
Melihat pemandangan tersebut saya menjadi mual dan ingin cepat – cepat pergi saja. Secara keseluruhan ada enam pria ditoko tersebut ( keseluruhan yang yang berangkat bersama – sama ). Rekan – rekan lainnya tidak saya ketahui.
Tiba – tiba seorang pria ( yang datang menghampiri saya dan rekan lainnya, sa’at masih menuju lokasi ) berbicara dengan ucapan lantang. Kalo tidak seorangpun diperkenankan meninggalkan toko tersebut tanpa memperkosa dua wanita tersebut.
Mungkin dia khawatir, kalo kasus ini kelak muncul kepermukaan, ada yang bersaksi dan berkhianat. Makanya, semua pria yang hadir harus dilibatkan pada kasus kejahatan tersebut. Saya juga akhirnya tau, bahwa rekan – rekan lainnya yang tidak berada di toko tersebut, sedang sibuk menjarah di toko lainnya dilokasi tersebut.
Sebenarnya waktu itu saya ingin menolak, tetapi pria tersebut berbicara sambil mengacung – acungkan sebuah pisau yang sangat tajam. Saya seperti seorang laki – laki tolol yang terjebak dalam situasi. Lelaki yang bisu yang tidak dapat menolak.
Rekan – rekan pria lainnya sudah melepaskan celana. Tangannya sedang sibuk meremas – remas senjatanya, dengan pandangan yang liar seperti binatang. Bahkan ada yang mengerang menikmati senggama jahanam tersebut.
Ketika giliran saya. Saya merasa berat hati sekali. Bahkan ketika saya melepas celana saya, kemaluan saya justru mengkerut, dan sama sekali tidak bisa ereksi. Agar tidak kelihatan oleh rekan lainnya, saya menggenggam kemaluan saya.
Ketika saya dapat giliran menyetubui wanita muda tersebut, hati saya berontak. Bahkan saya sebenarnya jijik, ketika kulit saya bersentuhan dengan kulit wanita tersebut yang basah dengan sperma.
Tetapi saya melakukan gerakan – gerakan seperti orang bersetubuh ( pada saat kejadian tersebut, saya sebelumnya belum pernah sama sekali bersetubuh dengan wanita ).
Saat saya melakukan persetubuhan pura – pura tersebut, nampak kalimat – kalimat yang menyemangati saya dari belakang. Saya waktu itu merasa sudah menjadi setan.
Saya melakukan hanya sebentar saja. Saya berpura – pura seolah – olah saya sudah mendapatkan orgasme. Setelah itu, wanita tersebut digilir lagi dengan pria lainnya.
Tiba – tiba perasaan mual saya tidak ketulungan, sehingga membuat saya muntah – muntah.
Saya minta pergi dari toko tersebut, diikuti dua orang lainnya yang ingin numpang mobil saya. Selama perjalanan, saya hanya membisu saja. Mereka saya turunkan ketempat yang diinginkan, selanjutnya saya meluncur pulang.
Sampai di rumah, saya langsung menuju kamar mandi. Dikamar mandi saya muntah – muntah. Dan tiba tiba air mata mengalir begitu deras.
Saya menangis sejadi – jadinya. Setelah badan saya bersih, saya mengurung diri didalam kamar sambil terus sesenggukan. Saya merasa seperti orang yang paling durhaka.
Sejak kejadian itu saya merasa bersalah dan berdosa. Saya sering mimpi buruk, dan nafsu makan saya turun drastis. Kosentrasi belajar saya pudar. Untungnya saya masih mampu menyelesaikan kuliah dengan baik.
Setelah selesai kuliah, saya langsung meninggalkan pulau Jawa. Orang tua saya juga heran, melihat keputusan saya yang menurut mereka aneh. Karena orang tua saya mau membantu keuangan, sehingga saya bisa mengawali usaha dibidang perhotelan tanpa kendala.
Kini saya sudah menikah dan dikharuniai dua anak yang lucu – lucu. Istri dan orang tua saya, tidak pernah mengetahui pengalaman yang jahat ini. Hingga kini, saya jarang sekali datang ke Jakarta, kecuali kalau ada urusan usaha. Dan itupun, biasanya saya lebih memilih pergi menginap di Bogor.
Kalau saya dilanda gangguan tidur dan depresi, istri saya mengira dikarenakan masalah pekerjaan. Padahal kenyataanya tidak. Hanya psikolog yang mengetahui hal ini, karena saya bercerita terus terang.
Saya selalu bersembahyang minta pengampunan. Setiap kali ingat kejadian tersebut, mata saya selalu bersimbah air mata, dengan hati yang pilu.
Kepada dua gadis yang diperkosa,
Kalimatku terlalu pendek untuk mengungkapkan permintaan maáf yang ada dihati ini. Dengan segenap hati dan kejujuran dari lubuk hati yang paling dalam, ma ‘afkanlah aku. Karena aku tergolong pria penakut dan picik, sehingga membiarkan diri melakukan tindakan biadap terhadap kalian.
Dimanapun kalian berada, semoga kemurahan Tuhan mengayomi kehidupan kalian dengan kesehatan, ketabahan, rejeki, dan hidup yang bahagia. Walau aku mengetahui, kalian mempunyai luka menganga, yang harus kalian tanggung seumur hidup, karena kebiadapan saya dan rekan – rekan pada waktu itu.
Buat Dewa Dewi terima kasih sebesar – besarnya.


15 tanggapan so far ↓
Dion // 7 Oktober 2007 pada 23:42
____________________________________________________
DD Nulis :
Terima kasih sumbang sarannya, Mas.
Redbugs // 8 Oktober 2007 pada 00:56
_____________________________________________
DD Nulis :
Senang sekali, anda meluangkan waktu berbagi saran. Thanks
b_lost // 8 Oktober 2007 pada 04:45
b_lost // 8 Oktober 2007 pada 04:45
syafriadi // 8 Oktober 2007 pada 05:36
ichal // 8 Oktober 2007 pada 07:11
gimbal // 8 Oktober 2007 pada 10:25
almascatie // 8 Oktober 2007 pada 11:17
Anonim // 11 Oktober 2007 pada 10:58
masa iya sehhhhhhh!!!
extremusmilitis // 14 Oktober 2007 pada 17:58
Wow :surprise:
Pengakuan yang berani, dan aku secara pribadi salut!!!
Emang penyesalan selalu datang terlambat, tapi tidak ada kata-kata terlambat untuk ngakuin dosa kita. Dan aku setuju dengan beberapa komentar di-atas kalau hanya DIA yang bisa menentu-kan baik-buruk-nya kita
__________________________________________________________________
DD Nulis :
biru langit // 19 Oktober 2007 pada 03:27
wiih gila beneran, gua bener 2 ikutan tegang ( huss bukan tegang yang ono..ngeres aja ) mendengar cerita mas diatas saya seperti terbawa ke periode suram repvblik ini.
Saya seperti merasakan berada di lokasi, dan entahlah apa yang harus saya lakukan ketika berada di posisi mas yang diberkahi ini. Melawan dengan resiko mati, kabur atau menuruti dengan hati yang berat..benar 2 situasi yang sangat sulit.
Harga diri saya tentu akan jatuh jika saya menuruti binatang biadab yang mengacung-ngacungkan belati, mungkin saya akan melawannya atau mungkin tetap berpura 2.
Saya melihat kesalahan mas ini adalah ketika dia menuruti setiap detik episode menuju bagian maksimal kejadian ini. Ketika dia tidak menolak ajakan orang orang biadab itu di tempat minum.
Ketika dia dengan tanpa berfikir lagi mengiyakan turun dari mobil padahal situasi sudah sangat buruk, mas yang diberkati ini bisa saja langsung tancap gas meninggalkan lokasi gila ini, itu peluang dan seharusnya dia mampu membacanya.
Tapi sudahlah yang penting niat dan tuhan maha pengampun, saya doakan kondisi jiwa mas yang diberkati ini cepat pulih, dan menebus sedikit kesalahannya ini dengan melakukan kebaikan kebaikan yang lain, menyukseskan diri sendiri dan menyekolahkan anak miskin .
Itu saja, Semangat ya mas, hidup nggak sampai disini.
________________________________________________
DD Nulis :
RAM // 5 November 2007 pada 07:30
Pengalaman yang sebentar lagi aku ceritakan kepadamu ini tak lain adalah pengalaman buruk yang sejak dulu ingin kubuang dari ingatanku. Jadikanlah kisahku sebagai pelajaran, semoga tidak terjadi kepadamu atau kepada orang lain di dunia ini.
Waktu itu sore pukul 17.00 saat aku dan Z, calon istriku, keluar dari ITC Roxy Mas seusai membeli handphone. Setelah menunggu agak lama, kami akhirnya mendapatkan metromini jurusan Kali Deres. Saat kami naik, metromini dalam keadaan kosong, hanya kami berdua dan sang sopir. Meski masih sore, suasana terlihat gelap karena langit tertutup awan tebal sejak siang. Hujan turun dengan sangat deras ketika metromini baru saja melewati kolong jalan tol di daerah dekat Mal Citra Land. Beberapa menit kemudian metromini berhenti karena distop penumpang, yang ternyata adalah tiga orang mahasiswa dengan baju basah kuyup karena hujan dan tas menempel di pundak masing-masing.
Aku tak tahu mereka mahasiswa mana, tapi aku yakin mereka mahasiswa karena penampilan mereka dan kulihat usia mereka sekitar 5 atau 6 tahun di bawah usia kami. Awalnya mereka bertiga biasa saja, namun suasana terasa aneh ketika salah satu dari mereka, anak muda berkulit hitam, mulai melirik kami berdua yang duduk berdampingan di belakang mereka. Lalu anak muda yang melirik kami itu mendekat ke arah kami dan bertanya kepada kami, “mas dan mbak suami istri?” kami menggeleng. Lalu yang dua lainnya pun mendekati kami seperti mengerubungi. Mereka saling pandang satu sama lain lalu dua dari mereka menutup pintu metromini. “Bang, terus saja jalan, Bang,” kata yang berkulit hitam kepada sopir.
Hujan semakin deras saat metromini melintas di depan RS Pandawa. Pemuda hitam itu menarik bajuku dan menyuruhku mengeluarkan isi kantong. Karena gerakanku lambat akhirnya bajuku ditarik hingga koyak. Dua pemuda juga menarik-narik celanaku. Setelah dompet, arloji dan handphone yang baru kubeli sudah mereka dapatkan, mereka menyuruhku membuka seluruh pakaianku. Di bawah ancaman mereka aku membuka semuanya sehingga hanya tinggal celana dalam saja. Semua peristiwa ini disaksikan oleh Z yang menangis sangat ketakutan di tempat duduknya. Kuperhatikan sopir tidak menghentikan laju kendaraan dan seakan pura-pura tak tahu apa yang terjadi.
Yang kukhawatirkan terjadi. Salah satu dari mereka, salah seorang yang tubuhnya agak gemuk, menarik tangan Z dan melucuti pakaiannya dengan paksa. Dibantu dengan mahasiswa satu lagi yang kurus, Z ditelanjangi hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Hatiku benar-benar terbakar, seketika aku melawan namun si hitam memukulku dengan keras hingga aku terkapar ke belakang. Si hitam menyuruhku membuka celana dalamku. Karena aku menolak, mereka menarik paksa celana dalamku hingga aku jadi telanjang. Si hitam menggelandang tanganku dan aku dilemparkan kea rah Z. Dia menyuruh aku untuk bersenggama dengan Z.
Mereka bertiga tertawa. Seingatku, salah satu dari mereka mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat orang bersenggama secara langsung, dan mereka ingin kami melakukannya di depan mereka. Z menangis menggigil ketakutan. Aku tak kuasa menuruti perintah mereka. Saat itu metromini sudah memasuki fly over Daan Mogot, hujan bertambah deras dan langit semakin gelap.
Mereka mnyuruhku hingga tiga kali namun aku tetap diam saja meringkuk sambil menutupi kemaluanku. Z sendiri meringkuk menangis tepat di depanku sambil menutupi dadanya. Lagi-lagi si hitam berulah menarik pundakku ke belakang hingga aku jatuh terduduk. Lalu dia mulai membuka sendiri celana jeansnya di saksikan dua temannya, dan cepat sekali si hitam itu menelanjangi dirinya sendiri. Si kurus berlari ke depan menyuruh sopir menghentikan kendaraan. Metromini berhenti tepat di atas Kali Angke. Saat metromini berhenti, bukannya sopir itu lari keluar dan meminta pertolongan, dia malah bengong saja sambil melihat apa yang terjadi.
Di tengah hujan deras dan petir yang menyambar itulah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri mahasiswa berkulit hitam itu memperkosa Z. Melihat temannya sedang melakukan pemerkosaan, dua mahasiswa yang lain segera membuka pakaiannya hingga mereka pun telanjang. Sopir tak berbuat apa-apa melihat kami semua sudah telanjang dan ada pemerkosaan di depan matanya. Hal yang paling menjijikkan adalah si kurus itu menjambak rambutku dan menyuruh aku untuk menungging. Dibantu oleh temannya yang gemuk, aku tak berdaya ketika si kurus mulai memaksa memasukkan kemaluannya ke dalam duburku. Kejadian itu benar-benar membuat aku seperti bukan laki-laki lagi. Aku menyaksikan calon istriku diperkosa di depan mataku sementara dia menyaksikan aku disodomi oleh laki-laki lain. Saat semua itu terjadi mata kami berdua saling bertatapan dalam cucuran air mata. Setelah puas memperkosa Z, si hitam menyuruh si kurus berhenti menyodomi aku. Bukannya si kurus langsung pergi, dia justru mendekati Z yang terkapar di depanku dan mulai memperkosanya. Setelah itu si gemuk juga memperkosanya. Darah tergenang di sekitar tubuh Z yang tak berdaya.
Belum habis rasa marahku, kulihat sopir itu juga mulai membuka celananya. Dia melompat dan menduduki tubuh Z yang sudah ditinggalkan tiga biadab itu. Mata Z menatapku seperti minta pertolongan ketika dengan nafsu sopir itu memperkosanya dengan brutal, namun aku hanya bisa membalas tatapan itu tak berdaya.
Perbuatan bejat sopir itu berlangsung paling lama dibanding para masiswa itu. Saat ketiga bajingan itu sudah berpakaian lagi, sopir itu masih saja belum selesai memperkosa Z di depan mataku. Mereka bertiga tak menunggu sopir selesai, langsung membuka pintu dan kabur dengan membawa semua barang rampokannya berikut baju kami berdua. Melihat tinggal kami bertiga, buru-buru sopir itu mencabut kemaluannya dari tubuh Z dan berjalan ke arahku mendorongku dengan kakinya ke arah pintu. Aku terguling-guling sampai pintu dan dengan sekali tendingan terguling keluar dari metromini. Tak lama kemudian tubuh Z dilempar pula keluar dari pintu terjerembab di atas tubuhku. Kami berguling-guling di atas aspal diterpa hujan deras memukuli tubuh telanjang kami. Hanya beberapa detik setelah itu, tanpa menggunakan lagi celananya, sopir itu berlari ke arah bangku sopir dan melesatkan metromini meninggalkan kami berdua.
Di tengah hujan sangat deras yang menghantam tubuh-tubuh letih kami, aku berharap ada mobil berhenti untuk menolong kami. Beberapa menit kemudian ada mobil sedan berhenti di depan kami. Seorang laki-laki seumuran dengan kami keluar dari sedan itu hampir-hampir tak percaya menyaksikan kami berdua. Yang kuingat adalah dia bertanya, kenapa kami berdua telanjang di tengah hujan di atas fly over. Aku saat itu benar-benar tak bisa menjawab sementara Z masih saja menangis. Laki-laki itu kemudian membukakan pintu menyuruh kami masuk ke sedannya. Sambil masih menutupi buah dadanya, dengan tergesa karena kedinginan Z segera masuk ke jok belakang. Laki-laki itu kemudian menatapku tajam dan memegang tangan kananku dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya memukul rahangku dengan keras. Aku terhuyung mundur. Laki-laki itu setengah berteriak kepadaku menuduhku telah memperkosa Z. Dia terus menendangku dengan sepatu hak tingginya. Entah mengapa Z tak keluar dari sedang untuk menjelaskan masalahnya, bahwa aku tidak memperkosa dia, bahwa aku adalah calon suaminya.
Saat pemukulan itu terjadi tak ada satupun kendaraan yang melintas. Setelah laki-laki itu puas menyiksa saya, dengan tenang dia meninggalkan tubuh telanjangku di tengah hujan dan dia masuk ke dalam sedan. Aku masih sempat menyaksikan mata Z menatapku melalui kaca belakang sedang itu dengan tatapan kosong saat laki-laki yang menyiksaku itu membawa sedan itu melaju meninggalkanku.
Aku tak ingat lagi peristiwa selebihnya. Ketika mataku kubuka aku sudah berada di atas ranjang sebuah rumah sakit. Dokter memberi tahu bahwa aku pingsan semalaman.
Siang aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit itu. Sejak itu aku sama sekali tak pernah tahu bagaimana nasib Z. Dua belas bulan aku mencoba mencari Z melalui bantuan kepolisian tapi kami tak pernah bertemu lagi. Melalui tulisan ini semoga Z membacanya. Aku hanya ingin minta maaf karena tak bisa menolongnya saat dia diperkosa.
________________________________________________________
DD Nulis :
heni // 9 November 2007 pada 14:17
setiap manusia itu pasti pernah punya salah dan dosa… tapi yang berani mengakui perbuatannya dg tegar serta bertobat dg tulus, pasti akan mendapat tempat yang mulia….
_______________________________________________
DD Nulis :
Daftar Nominasi Penulis & Komentator Curhat Terbaik Th.2007/2008 « “Dewa Dewi” ( Nominator kategori Women’s Issues, Pesta Blogger 2007 ) // 16 Januari 2008 pada 11:37
[...] Jika aku gay hinakah ? 2. Misteri club Sheba Jakarta 3.Aku , suami & trio seks 4. Hati seorang pemerkosa 5. Istriku mantan pelacur 6. Anugrah terindah dalam hidupku 7.Tidak cukup satu pria 8. Gara – [...]
mawardi // 16 Juli 2009 pada 17:47
cari aku ya di facebook..nurjanah_@ymal.com