( Curhat Handoko – Surabaya ) Saya membaca beberapa curhat yang dimuat oleh Dewa Dewi, dan rasanya saya juga tertarik untuk berbagi pengalaman.  

Semoga kasus yang menimpa saya tidak terjadi bagi pasangan yang lain.

Saya adalah duda yang masih belum lama bercerai.  Perkawinan yang saya jalani dengan mantan istri saya hanya bertahan 4 tahun. Kini saya hidup  berdua dengan anak saya yang balita berusia 2 tahun.

Dia adalah salah satu penghibur dan pemberi semangat buat saya,  agar terus tabah dan berjuang didalam mengarungi jalan kehidupan yang masih panjang membentang.

Terus terang, jika  tidak  ada  anak yang kusayangi ini,  mungkin saya begitu kesepian. Bukan kesepian karena cinta,  atau tidak mempunyai pasangan. Tetapi kesepian hidup. Kalau masalah  cinta, hati  ini kayaknya saat  membeku.

Tak tahulah hingga kapan. Mudah – mudahan bisa pulih, dan dimasa mendatang bisa mendapatkan yang terbaik.

Disela – sela kelelahan saya habis kerja, mulutpun masih  bisa tersenyum melihat pertumbuhan dan perkembangan anak saya. Melihat   pertumbuhan fisik, motoris dan  kognitif  anak yang  bagitu baik, menimbulkan perasaan syukur. Walau kadang saya merasa iba, karena anak saya harus tumbuh tanpa mamanya.

Sebenarnya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan rumah tangga saya dengan mantan istri, tetapi  kenyataannya sukar. Istri saya yang begitu saya cintai dan  saya hargai , dan yang saya perlakukan dengan  penuh kesetiaan, ternyata berselingkuh dibalik punggung saya.

Rasanya tak terkira ! Lebih dari sekedar pisau yang menusuk dipunggung. Dan perselingkuhannya juga aneh, dan diluar  pemahaman saya. Saya  akan menguraikan kejadian tersebut.

Istri saya adalah dari keluarga berada. Tetapi dalam dunia pendidikan dia tidak beruntung. Karena otaknya lebih dekat dengan party daripada membaca buku. Mantan istri saya orangnya cantik dan menarik.

Setelah menikah saya ajak dia berubah untuk mengurangi dunia hura – hura. Apalagi saya bukan type yang suka ‘ ndugem. ‘  Saya dulu waktu bujangan juga suka jalan, tetapi semua dalam batas kewajaran dan penuh konrol diri. Dan saya ngga akan depresi, kalau ngga ke pesta !

Kebetulan saya juga menyukai nonton acara olah raga di televisi. Hobby ini kayaknya sudah mengurangi stress saya setelah kerja.

Salah satu hal yang akhirnya memicu permasalahan didalam rumah tangga kami yaitu perilaku seks mantan  istri. Dia bisa dibilang amat ‘doyan’ dalam hal ini. Atau mungkin saya bisa menyebutnya ‘hiperseks.’

Hampir tiap hari dia selalu minta hubungan seks. Mungkin ada pembaca yang berpikir seharusnya saya pria yang beruntung. Tetapi tidak seperti itu kenyataannya. Masalah stress ditempat kerja, kelelahan fisik, anak kecil, dan urusan sehari – hari, tentu menyedot energi, khan ?

Untuk mengatasi problem saya, istri saya yang kesana kemari nyariin ramuan dan obat peningkat stamina. Bukan berarti saya diam, saya juga berusaha fit. Tetapi kalau semua dipaksakan hanya untuk hubungan seks, akhirnya sudah tidak enak lagi.

Lagian kalau sudah bukan pengantin baru, khan wajar seksnya tidak sesering waktu pertama kali. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Asalkan cinta tidak menurun.  Mantan istri saya tidak bekerja, sehingga dia punya waktu banyak untuk memikirkan hal ini.

Bahkan dia banyak membaca buku, khususnya yang menyangkut  berbagai ‘tekhnik’ bercinta, dari Korea, Thailand, India dan jepang. Bahkan saya kadang dibuat terkejut dengan hal – hal baru yang  dipratekkannya.  Fantasinya  sungguh luar biasa dan diluar dugaan.

Misalnya saja dia ke kantor saya, dan minta ML didalam kantor. Atau ngajakin ML saat mengendarai mobil. Hal – hal beresiko dan mengancam keselamatan nyawa !

Seks di kantor ? Saya sebenarnya  tidak suka  melakukan hal ini. Walau saya sebagai pimpinan di kantor, tetapi saya terbiasa memisahkan antara urusan pribadi dan kerja. Bahkan sekretaris saya biasanya tersipu – sipu kalau istri saya berkunjung ke kantor.

Suatu kali saya ditelpon sama rekan bisnis saya mengenai masalah pribadi, akhirnya kita ngobrol. Saya berhubungan dengan orang ini hanya sebatas bisnis saja. Dia pengusaha sukses, masih bujangan, dan suka bermain dengan wanita. Dia lebih suka menyebut dirinya Casanova. Figur yang suka menaklukkan hati wanita.

Dia bilang kalau dia pernah bertemu dengan istri saya dalam sebuah acara pesta seks.  Haahhh ??? Tentu saya terkejut luar biasa ! Rekan bisnis yang katakanlah bernama Boy ini memang biasa mengikuti acara – acara seperti ini. Saya juga ngga pernah minta dia bercerita hal beginian, karena saya nggak tertarik sama sekali.

Tak heran Boy menyebut saya suami yang kelewatan setia !

Saya hanya terkejut, apakah benar istri saya ikut acara beginian. Walau istri saya nafsu hubungan seksnya tinggi,  saya mempercayai dia 100%,  kalau dia ngga melakukan dengan orang lain. Atau memang saya yang terlalu bodoh, sehingga dia menyalah gunakan  rasa kepercayaan itu ?

Untuk mendapatkan bukti, maka saya diajak sama Boy ketempat yang dimaksudkan. Saya dianjurkan Boy memakai kumis dan rambut palsu, serta kaca mata agar tidak  gampang dikenali. Sedangkan Boy sendiri tampil apa adanya, karena dia sudah terbiasa dengan lingkungan seperti ini.

Lokasi yang dituju dikawasan Surabaya bagian timur. Terdapat sebuah kafe mewah. Pengunjungnya tidak begitu ramai, tetapi yang datang terlihat orang – orang berduit. Ini bisa dilihat dari penampilan dan mobil yang dibawa.

Didalam kafe, Boy ngobrol dengan seorang wanita muda. Tak lama kemudian saya diajaknya masuk.  Menurut Boy, gedung kafe tersebut terbagi menjadi 4 bagian. Ruangan depan tempat menerima pengunjung, dan tiga ruangan yang tidak sembarang orang boleh mengetahui atau memasuki.

Untuk bisa menuju ruangan ini, harus membayar harga tiket yang nilainya tidak kecil. Diruangan kedua ini, sepertinya ruangan santai. Banyak ditemukan pria dan wanita sedang ngobrol ditemani minuman,  sambil mendengarkan musik. Menurut Boy, ini merupakan tempat berkenalan atau basa basi.

Saya sempat bertanya sama Boy, kok dia bisa yakin kalau istri saya berada dilokasi  saat itu ?  Dia menjawab, kalau dia mengetahui  benar agenda pesta. Karena saat saya berada diruangan tersebut, malam itu juga sedang diadakan acara pesta. Jadi dimungkinkan istri saya datang.

Saya mulai tambah curiga, karena istri saya sejak siang bilang,  kalau dia ingin menjenguk orang tuanya dikota Malang, dan rencananya menginap disana. Menurutnya,  ayahnya sedang sakit dan di opname dirumah sakit.

Saya memang sedang ada konflik dengan orang tuanya. Sehingga setiap dia ke Malang,  saya hanya menghubungi nomor HP-nya, dan bukan telepon rumah mertua saya.

Setelah mengetahui istri saya tidak ditemukan diruang ke-2, Boy mengajak menuju ruangan ke-3. Sebelum menuju ruang ke-3, saya dibuat Boy kaget setengah mati. Karena untuk menuju ruangan ini, setiap pria hanya diwajibkan mengenakan celana dalam saja. Untuk wanita diwajibkan menggunakan lingerie.

Dengan perasaan kikuk akhirnya saya ikuti juga aturan ini.Memang sih diruangan tersebut temperaturnya sudah disesuaikan. Sehingga setiap orang merasa nyaman dengan pakaian minimnya.

Mereka tanpa malu bercanda dan ngobrol, dengan pakaian ala kadarnya tersebut. Ada yang bergoyang menikmati musik berpasangan, ada yang duduk santai. Ruangannya didekorasi  dengan dominasi warna merah. Bau ruangannya semerbak.

Setelah diruangan ini istri saya  tidak ditemukan, akhirnya saya mulai yakin kalau dugaan Boy salah !

Mungkin dia hanya melihat wanita yang mirip  istri saya. Bisa jadi khan ? Saya berharap demikian. Semoga Boy salah.

Tetapi Boy berpikiran lain. Dia yakin kalau istri saya ada diruangan ke-4. Dia mengajak saya keruangan tesebut. Dan untuk menuju ruangan itu, setiap orang diwajibkan menanggalkan  celana dalamnya, demikian juga bagi yang wanita.

Ya, ampun! Saya harus telanjang ?

Seumur – umur,  saya   tidak pernah saya telanjang didepan orang lain, kecuali didepan istri saya. Bahkan sewaktu saya dirawat dirumah sakitpun, saya minta dimandikan oleh  perawat pria. Karena saya merasa risih dan malu.

Setelah saya dan Boy dalam keadaan telanjang bulat, maka masuklah kita keruangan ke-4.

Boy sudah mengingatkan, kalau diruangan tersebut hanya ditemukan orang yang sedang berhubungan seks, atau orang  yang ingin ikut pesta seks. 

Sebenarnya saya ingin keluar saja, dan tidak ingin memasuki ruangan ini. Baru membayangkan saja saya sudah mual, apalagi melihat. Akhirnya saya kuat – kuatkan memasuki ruangan ini.

Didalam ruangan yang remang – remang tersebut,  telinga langsung disambut suara – suara rintihan yang keluar dari layar lebar yang menyajikan film biru. Mata saya  dihadapkan pada pasangan – pasangan yang sedang dimabuk nafsu. 

” Lihat, dia sedang main disana, ” Suara Boy  menghampiri saya yang sedang bengong. Saya tidak bisa melihat wajah wanita itu,  karena terhalang oleh dua pria yang sedang melampiaskan birahi dengannya.

Dan setelah saya mendekati, ternyata benar. Dia istri saya ! 

Tanpa menunggu sedetikpun, langsung saya keluar ruangan dan mengenakan baju. Hati saya seperti tersayat – sayat oleh pisau yang tajam.

Dengan air mata yang spontan bercucuran, saya meninggalkan  tempat tersebut. Ternyata Boy tidak tega, dan menemani saya pulang.

Inilah cobaan yang amat berat bagi saya.

Dan kejadian tersebut, komunikasi diantara kita menjadi semakin sukar. Mudah tersinggung dan  marah. Akhirnya kita lebih banyak diam.  Anak saya waktu itu  tumbuh dalam suasana rumah yang tidak tentram.

Setelah lama berpikir dan merenung,  akhirnya saya  menggugat cerai.  Memang dia waktu itu tidak ingin diceraikan. Dia  menangis  tersedu – sedu, dan bersimpuh dikaki saya. Oke,  saya memaafkan, tetapi bagi saya terlalu sukar untuk bersama dia lagi.

Perasaan ingin muntah selalu muncul, ketika membayangkan dia sedang  dimabuk nafsu dengan pria – pria yang menidurinya. Gairah seksual saya menjadi turun drastis.  Rumah tangga menjadi ambur adul, dan anak menjadi sasaran kemarahan.

Setelah bermusyawarah, akhirnya kita  cerai.

Kini saya menikmati kesendirian saya, sambil menyembuhkan luka.  Entah hingga kapan luka ini terus menganga.

Semoga kasus ini tidak  ada yang mengalaminya !