Surat dari Dina – Yogyakarta

v.jpg

Saya  mau   “sharing ”  so’al bahtera kehidupan rumah tangga, yang sedang menimpa saya.  Nama saya Dina ( samaran ), usia 28 tahun, sudah menikah dan belum  mendapatkan momongan.  Sehari – hari bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta di kota Yogyakarta. Saya sudah lima tahun menikah dengan seorang pria yang juga berprofesi sebagai perawat. Suami saya dua tahun lebih tua,  dan bekerja di rumah sakit diluar Yogyakarta.

Sebenarnya saya dan suami saya hidup apa adanya. Dilihat dari segi finansial, kami tidak masalah. Bhakan boleh dibilang mapan, menurut kaca mata kami. Selama lima tahun pernikahan, kami tidak pernah mengalami masalah yang berarti. Namun akhir – akhir ini, suami saya menjadi cepat marah.

Dia menjadi cepat tersinggung. Kadang tanpa penyebab yang jelas. Selidik punya selidik, ternyata suami saya mempunyai WIL ( wanita Idaman Lain ). Bagaimana saya tau ? Saya mengetahui dari imel suami saya. Kebetulan suatu malam, suami saya asyik didepan komputer. Saya sih nggak begitu mencampuri apa yang dilakukan didepan komputer. Saat itu suami saya mengira saya sudah tertidur pulas.

Pada saat itu saya pingin buang air kecil ke kamar mandi, tetapi pintu kamar mandi tertutup, dan terdengar suara suami saya  didalam. Entah perasaan apa,  pada saat itu saya kok menjadi ingin tau  yang dilakukan suami saya didepan komputer. Sayapun mendekati  komputer.

Tetapi apa yang saya lihat ?

Ternyata ada gambar cewek yang berpose panas di e-mail suami saya. Dan  dari e-mail yang saya baca  agak tergesa – gesa  tersebut,  saya  menarik kesimpulan, kalau cewek tersebut adalah  teman selingkuh suami saya. Karena dari kata – kata yang digunakan, terlihat seperti orang yang sedang kasmaran.

Setelah membaca e-mail tersebut, saya langsung menuju tempat tidur. Saya memang sengaja tidak mengadakan konfrontasi  saat itu. Saya diamkan saja. Hati ini terasa seperti tersayat – sayat, dan darah disekujur tubuh ini terasa seperti mendidih. Begitu  rasa amarah yang menyerbu saya, tanpa saya bisa mengeluarkannya.  Saya tidak bisa memejamkan mata ini sedetikpun.

Pada malam itu juga,  suami saya  mendapatkan telepon, yang katanya dari temapt kerja. Menurutnya ada  operasi dan tenaganya sedang dibutuhkan. Operasi ?

Mungkin iya, atau bisa juga tidak. Mungkin yang dibilang operasi, menurut suami saya, adalah operasi menuju teman selingkuhannya. Saya menjadi muak sekali melihat suami saya sendiri. Saya biarkan saja dia pergi.

Seperti anak kecil tanpa dosa, dia masih sempat menuju kamar saya dan mengelus – elus rambut saya sambil bilang,

”  Sialan juga, nih. Kita tidak bisa melewatkan malam ini berdua. Tapi kamu mengerti khan, resiko kerja seperti ini ? ”

Diapun pergi dengan meninggalkan kecupan yang nempel dipipi saya. Tetapi saya bertambah muak saja. Karena dari suara dan kata – kata yang manis tersebut, ternyata hanya sebagai kedok belaka. Semuanya hanya kebohongan.

Setelah keesokan harinya, saya dan suami saya cek cok hebat. Awalnya dia masih  tidak mengakui kalau selingkuh, tetapi setelah saya bilang kalau saya memmergoi imel-nya, baru dia  mengakui.

Dan yang bikin masalah bertambah rumyam, ternyata wanita tersebut ( mahasiswi ) sedang hami 3 bulan,  dan menuntut dinikai oleh suami saya. Entah, kepala saya ini rasanya sudah seperti mau pecah.

Suami saya jelas tidak menghendaki jika wanita tersebut melakukan aborsi. Karena saya sendiri  juga melihat tindakan aborsi sebagai pembunuhan janin. Dan ini sangat berdosa dan biadap sekali.

Kini, kehidupan rumah tangga menjadi ambur adul. Saya menjadi stress, dan suami saya juga stress. Suami saya mempunyai usul untuk menikai gadis tersebut. Karena gadis tersebut mengancam mau bunuh diri, kalau suami saya tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

Saya tidak tau lagi harus berbuat apa. Haruskah saya bercerai dari suami saya, atau mengijinkan suami saya menikah lagi ???

Mudah – mudahan ada pembaca yang mau memberikan sumbang saran. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih.