Surat dari  Yani  di Denpasar

                                               erotic_arms.jpg

Sebenarnya aku agak enggan untuk nyeritain masalah yang beginian. Tapi setelah aku pikir – pikir,  khan nggak ada salahnya untuk berbagi pengalaman dengan  orang lain.  Dari sononya aku ini  memang agak  introvert, ya nggak tertutup banget sih.  Tetapi untuk yang satu ini, ya  iya. Jadi untuk ngomongin hal – hal yang berbau tabu,  kayaknya sukar banget.  Mahklum dari profesiku,  memang menuntutku sebagai panutan.

Oh, . ya… Aku lahir dan besar di Medan, dan bekerja sebagai  seorang guru. Tetapi sejak 3  tahun terakhir pindah ke kota Denpasar mengikuti tugas suami. Usiaku  37 tahun, dan mempunyai seorang putri  yang kini menginjak 4 tahun. Pernikahanku dengan suamiku yang 2 tahun lebih muda,   sudah berjalan 5 tahun. Boleh dikata, aku bukanlah gadis muda sewaktu memasuki bahtera rumah tangga. Sewaktu gadis aku tidak pernah melakukan hal – hal yang dilarang agama ( maksudku berhubungan seks ). Bahkan akupun tidak pernah melakukan yang namanya masturbasi. Pernah sih aku mencoba beberapa kali, tetapi diliputin perasaan bersalah. Akupun tidak pernah mengalami kenikmatan. Setelah itu aku nggak pernag nyobain lagi.

Sewaktu masih bujangan,  suamiku  pernah pacaran sekali dengan gadis  asal Jakarta. Waktu itu dia masih  bekerja di Bandung. Tetapi aku tidak pernah menanyakan apakah dia pernah melakukan hubungan seks atau tidak. Ditahun pertama pernikahan,  aku  tidak mengalami hambatan yang berarti dalam berhubungan intim. Semuanya berjalan dengan baik. Suamiku tergolong penyabar dan mempunyai banyak inisiatif. Tadinya aku pikir,  kok suamiku ngerti  sekali, ya ? Apakah dia  memang sudah berpengalaman ?  Menurutnya sih, suamiku tau banyak dari buku – buku panduan perkawinan.

Setiap melakukan  hubungan intim biasanya aku bisa orgasme atau  ” O ”   sekali. Dan biasanya ini terjadi  “tidak” disaat panetrasi.  Kalo saat panetrasi, biasanya aku hanya merasakan kenikmatan saja. Aku juga tidak ngerasahin sakit sih waktu suamiku melakukan panetrasi. Aku sendiri juga nggak tau penyebabnya. Tetapi tidak pernah aku omongkan kepada suamiku. Takut kalo menyinggung atau mengecewakan perasaannya. Jadi disaat aku mengerang, sebenarnya hanya  ” fake ” belaka.

Tetapi waktu bagian intimku dirangsang sama suami sebelum panetrasi, aku memang bisa ngerasain orgasme beneran. Untungnya setiap ngelakuin hubungan intim dengan suami, dia melakukan foreplay yang cukup lama. Biasanya sambil diselingi  rayuan dan pujian yang muncul dari mulutnya. Seperti orang yang sedang asyik  baca puisi gitu.  Suamiku memberikan rangsangan yang terus menerus sampe akhirnya aku mencapai titik kenikmatan.

Setelah itu baru melakukan panetrasi.  Seperti yang sudah aku tulis,  saat panetrasi aku sudah nggak bisa orgasme lagi. Aku hanya merasakan kenikmatan saja. Biasanya suamiku  melakukan hubungan intim dengan berbagai posisi. Dia biasanya mengawali dengan posisi tradisional ( aku dibawah ). Setelah itu dia minta variasi, aku yang diatas. Menurutnya,  supaya dia bisa mengatur agar tidak terlalu cepat mengalami orgasme.  Dan posisi yang digemari suamiku kalo dia ingin orgasme, adalah posisi  dimainin dari belakang.

Tiga bulan yang lalu   suamiku  pulang dari luar negri,  setelah  menyelesaikan   program Master-nya. Ya, biasalah setelah lama nggak ketemu. Ibaratnya seperti pengantin baru lagi. Tetapi ada yang lain yang aku temuin pada suamiku setelah datang dari luar negeri. Untungnya sih perubahan yang positif. Dan dampaknya juga bagus sekali buat perkawinan kami.

Disetiap melakukan hubungan intim, kini aku bisa ngerasain orgasme  beneran. Maksudku,  orgasme saat suami ngelakuin panetrasi. Jadi disetiap hubungan intim, aku bisa orgasme 2 kali. Saat masih pemanasan, dan saat dilakukan panetrasi. Bahkan kadang juga lebih dari 2 kali. Suamiku  pernah  bilang,

” Kita harus lebih terbuka,  jika ingin mendapatkan hubungan seks yang optimal dan menyenangkan.  Kalo cuma disimpan didalam hati, pasangan nggak bakalah tau,  apa yang diinginkan  oleh pasangan. ”

Akhirnya aku mengaku, kalo selama ini aku tidak bisa ngerasain orgasme saat panetrasi. Suamiku pada awalnya agak terkejut juga mendengar pengakuanku. Untungnya dia nggak tersinggung, dan mengerti kalo aku sebenarnya tidak ingin mengecewakannya.  Sewaktu diluar negeri, suamiku banyak bergaul dengan orang bule yang rata – rata terbuka dalam masalah seksual.

Suamiku juga mengerti tentang G-spot. Padahal hal ini sebelumnya nggak pernah aku ngerti. Pernah baca sih,   cuma   aku biarkan berlalu begitu saja.  Ternyata  suamiku mendapatkan pengalaman ini dari acara televisi, yang menyajikan acara bimbingan  seks bagi pasangan suami istri.  Sekarang dalam memberikan rangsangan,  suamiku mempraktekkan hal ini.  Bahkan akupun bisa merabanya dengan jari. Kalo tersentuh, rasanya  seperti kesetrum. Pokoknya gimana gitu.  Nggak bisa diceritakan.  Karena ini merupakan titik yang paling sensitif pada organ kelamin wanita.  Letaknya konon sekitar 3  hingga  5 cm  dibelakang mulut vagina. Dan tepatnya dibagian atas.  Dan titik ini  gampang diraba dengan jari.

Bahkan suamiku bilang, diluar negeri ada wanita yang melakukan operasi plastik. Maksudnya menyuntik G – spot ini dengan cairan silikon, agar menjadi lebih gede dan mudah tersentuh oleh kelamin pria, saat berhubungan intim. Kini,  kami setiap melakukan hubungan intim,  suami  berusaha menggunakan tekhnik dan posisi,  agar sebisa mungkin  memberikan rangsangan pada titik sensitif tersebut. 

Bahkan kalo aku sedang  berada diposisi atas, suamiku pinter memberikan improvisasi, yang akhirnya bisa mengantarkan aku ke titik kenikmatan. Sekarang aku sadar,  kalo  kenikmatan dalam hubungan seks itu tidak terjadi begitu saja.  Semua harus dipelajari bersama – sama, tanpa perlu merasa malu dan tersinggung.

Terima kasih pada Dewa Dewi yang telah memuat pengalaman saya ini.