Surat dari Yosie – Belanda

Pengalaman yang aku tuangkan didalam kata – kata ini memang nyata, dan apa adanya. Jika ada kata ‘ Valentine ‘ bukan berarti aku penggemar “fanatik. ”
Aku hanya berpendapat, bahwa menyayangi sesama manusia adalah sebagai kuwajiban yang layak dilakukan.

Seperti halnya menyayangi pasangan, orang tua, saudara dan sebagainya. Semua bisa dilakukan kapan saja. Jika ada perayaan hari kasih sayang, sepertinya sebagai peringatan, jangan sampai kita melupakan orang – orang yang kita cintai.Dan hari kasih sayang terasa hambar, jika sampai aku melupakan cinta Agung Sang Pencipta, yang menjadi sumber cinta dari segala cinta. Karena disaat hati menjerit,

“Siapakah yang mencintai aku ? “

Tanpa disadari, cinta Suci dari Sang Pencipta terus mengalir dihati, seperti tetesan air yang menyejukkan, tanpa diminta. Dihari Valentina, bola mataku selalu basah dan berkaca – kaca, dengan disertai tetesan air mata yang membasahi kedua buah pipi. Perasaan senang dan sedih berkecamuk menjadi satu.

Hatiku hanya bisa terucap,” Tuhan terima kasih. Ku bersyukur kepadaMu. Engkau tau, bahwa kata – kataku terlalu pendek, untuk dapat menggambarkan begitu besar suka citaku. Aku tau, Engkau menyayangi aku dan istriku. “

Pengalaman nyata yang pernah kualami, yang terjadi diseputar hari Valentine, kututurkan sebagai berikut :

Tanggal 27 Februari 2005

Keadaan dinegeri kincir angin pada saat itu begitu indah. Terlihat bentangan warna putih bersih, bagaikan selimut raksasa. Menutupi pepohonan, atap rumah, jalanan, mobil, dan semua yang ada dibelahan negeri kincir angin ini. Ya, negeri Belanda pada waktu itu sedang diguyur oleh hujan salju yang lebat. Warna putih berjatuhan bebas. Sungguh indah, dan elok dipandang mata.

Dari balik kaca, mataku memandang keluar. Melihat taman belakang yang tertutup salju. Tanaman bunga, gudang kecil, sebatang pohon anggur yang melingkar, semuanya nampak putih. Bahkan tidak secuilpun, lantai berbata yang lolos dari tutupan salju. Semua nampak membisu, kedinginan, disertai hembusan angin yang terdengar mendesis dan menderu.

Menikmati keindahan salju pada saat itu sungguh menyenangkan. Warna putih yang tebal. Karena menurut statistik negeri Belanda, hujan salju pada saat itu adalah yang terlebat, sejak empat belas tahun terakhir.

Apalagi pada hari itu aku dan istriku sedang libur. Jadi tidak merisaukan repotnya bepergian jika disana sini dipenuhi salju. Jalanan yang licin, yang memudahkan pejalan kaki tergelincir atau jatuh. Juga biasanya diikuti dengan kemacetan arus lalu lintas. Aku dan istriku menikmati liburan lebih banyak didalam rumah.

Walau pada siang itu, aku dengan dia juga sempat menikmati jalan santai diluar. Di hutan kecil, yang tidak jauh dari rumah. Sambil bermain lempar – lemparan bola salju, seperti layaknya anak – anak disini. Didalam rumah lebih banyak dihabiskan dengan acara ngobrol sana – sini berdua, membaca buku, sambil diiringi alunan musik, serta kepulan teh panas.Ketika malam sudah larut, aku dan istriku beranjak menuju tempat tidur. Mataku kembali menyempatkan untuk melongok keluar. Yang terlihat gelap, sunyi dan dingin. Tidak lama setelah aku dan istriku merebahkan badan dikasur yang empuk, sambil berpelukan mesra, matapun cepat terbawa kealam mimpi. Akupun terbuai kedalam alam mimpi.

Dan akupun tidak melihat hal aneh dalam mimpiku. Karena aku sudah terbiasa melihat orang tuaku, saudara dan kampung halamanku didalam mimpi. Ini logis. Perasaan kangen yang begitu dahsyat akan keluarga. Sehingga hasrat ini sering muncul dialam mimpi.

Malam itu aku bermimpi bertemu ayahku. Apakah ini karena perasaan kangen yang menderu? Mengingat aku waktu itu sudah 4 tahun belum berlibur ke Indonesia. Padahal aku sebelumnya sudah berjanji pada ayah dan ibuku, untuk bisa berlibur secara teratur. Namun karena suatu hal, sehingga menjadikan semua tertunda.

Malam itu, aku sedang ngobrol bersama ayah didalam dunia mimpi. Ya, tentu senang sekali. Sebagai pengobat rindu, walau hanya dalam mimpi. Mengingat pertemuanku dengan keluarga adalah amat jarang. Ya, kalau boleh jujur, pertemuan dengan orang tuaku sejak usia 16 tahun sudah mulai merenggang.

Ini disebabkan karena kegemaranku untuk merantau. Sehingga pertemuan fisik tidak bisa sering, seperti yang dinginkan. Bahkan sewaktu aku masih bekerja di Jakarta, aku hanya bisa berlibur ke keluarga hanya sekali dalam setahun. Biasanya aku menyempatkan dua minggu untuk berlibur dirumah orang tuaku.Walau aku sudah bertahun – tahun menjadi orang perantauan, setiap berada di rumah orang tuaku, aku merasa seperti anak kecil lagi. Teringat kembali masa kanak – kanak. Ada kedamaian yang lain. Perasaan stres ditempat kerja, atau sukarnya hidup ditanah rantau, terasa sirna.

Dan yang paling berat, adalah saat pergi meninggalkan keluarga. Setiap mengucap pamit, air mataku selalu bercucuran deras, tanpa bisa membendungnya. Walau sebelumnya hatiku sudah bersiap – siap dan berkata,” Nggak usah nangis. Nggak usah nangis. “

Tetapi dalam kenyataannya, aku tidak bisa menahan emosi yang ada. Dan biasanya suarakupun keluar tersendat – sendat, karena terhalang oleh suara tangis. Aku masih teringat nasehat ayahku, saat aku pamitan untuk kembali ke Belanda, setelah masa liburanku usai. Kudekap ayahku erat – erat, dan kuciumi kedua pipinya, dengan cucuran air mata. Ayahku tidak menangis. Tetapi dari bola matanya yang terlihat basah, aku membayangkan, kalau ayahku berusaha tabah, untuk menyokong semangatku.

” Tidak usah menangis, Nak. Bukankah sudah menjadi pilihanmu, untuk hidup bahagia dinegeri perantauan, walau kenyataannya jauh dari orang tua ? Kamu adalah anak yang berbakti. Aku sungguh bangga akan perjuangan dan semangat hidupmu. Akupun harus berlapang dada dan menerima kenyataan. Bahwa pertemuan kita secara fisik terlalu sedikit. Namun percayalah. Hati dan batin keluarga menyatu didalam dirimu, “ Ucap ayahku, yang kudengar dengan suara sesengguan.

” Jaga kesehatanmu yang baik, karena itulah modalmu yang utama. Rajinlah berdoá, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Usahakan sering menghubungi, dan memberikan kabar ke keluarga, agar famili yang dikampung ini menajdi lega dan tenang, “ Begitulah nasehat ayahku yang terus terngiang – ngiang.Tiba – tiba aku terjaga dari mimpi, setelah ayahku pergi. Aku menjadi kaget. Terasa seperti begitu cepat, dan menghilang. Aku spontan bangkit, dan duduk ditempat tidur sambil menarik nafas panjang. Kepergian ayahku yang kutemui dalam mimpi, seperti meninggalkan kepedihan yang dalam. Aku begitu tercengang akan mimpi yang baru saja berlalu.

Anehnya, istriku yang aku kira masih tidur, ternyata sudah bangun dan duduk disampingku. Mulanya aku kira dia terbangun, karena kaget. Mungkin dia langsung terjaga, mendengar kegaduhanku akibat mimpi. Tetapi tidak !!

Hal ini aku ketahui setelah ngobrol dengannya. Aku menceritakan kepada dia, tentang mimpi yang aku alami. Istriku mendengar dengan wajah yang sangat serius.

Ternyata, istriku juga terjaga karena mimpi, yang baru saja dia alami. Dengan penuh rasa ingin tau, ku bertanya pada dia,

” Kamu barusan mimpi apa ?”

Ternyata dia bilang, kalau dia barusan bermimpi bertemu ayahku. Dalam mimpinya, dia sedang bercengkerama dengan ayah. Ini juga agak unik. Bagaimana obrolannya ? Istriku tidak bisa berbahasa Indonesia. Dia hanya mengenal beberapa kata saja, yang sering kuucapkan. Tetapi istriku bilang, dia tidak mengerti yang diucapkan ayahkku didalam mimpi. Tetapi dari kata – kata yang keluar, dia merasakan kesejukan dan kedamaian dihati. Seperti sebuah pesan damai yang terdengar.

Tanggal 28 Februari 2005

Setelah terjaga dari mimpi, aku dan istriku sudah tidak bisa tertidur lagi. Hanya ngobrol santai sambil berdekapan, dibalik selimut tebal yang menghangatkan. Dari obrolan seputar mimpi, juga obrolan tentang buah hati. Karena aku dan istriku, sudah merindukan momongan. Tetapi masih belum kunjung datang.

Tidak heran, setiap istriku terlambat menstruasi beberapa hari saja, dia langsung melakukan test kehamilan. Tidak sabar untuk menunggu dua atau tiga minggu. Tetapi seperti sudah menjadi nyanyian lama, hasilnya selalu nihil. Yang ada hanya hasil test kehamilan yang negatif, dan perasaan yang kecewa. Tetapi aku dan istriku selalu berusaha sabar dan tetap berharap. Mungkin waktunya saja yang belum tepat.

Ketika pagi masih dini sekali, istriku beranjak dari tempat tidur. Dia menuju kamar mandi. Saya sudah tau, kalau dia mau buang air kecil. Dan aku juga bisa menebak, kalau dia juga akan melakukan test kehamilan. Mengingat, dia sudah sekitar 14 hari terlambat menstruasi. Biasanya dia tidak selama itu untuk bersabar menunggu.

Setelah kembali dari kamar mandi, istriku tiba – tiba merangkulku dengan suara sesengguan. Ada apa ini ? Hasilnya negatif lagi, sehingga dia kecewa ? Ternyata kebalikannya. Hasil test-nya positip. Istriku hamil. Aku dan istriku saling berpelukan erat menyambut kebahagiaan ini. Tidak henti – hentinya hati mengucap terima kasih kepada Sang Pencipta. Ternyata doáku sudah terjawab. Apa yang kuinginkan, dan yang istriku impikan, akhirnya terkabul juga.

Ternyata saat merayakan hari Valentine pada tanggal 14 Februari 2005 istriku memang tidak menstruasi. Padahal, menurut siklus bulanan, dia harus menstrusi disekitar tanggal tersebut. Inilah keagungan Tuhan. Ternyata Tuhan memberikan kado hari Valentine yang terindah, yang sedang terbentuk dirahim istriku. Kado terindah, yang tidak terukur nilainya. Tuhan mengingatkan, kalau Dia mencintai umatnya. Lebih dari kasih sayang biasa, yang manusia mampu berikan.

Kabar gembira ini, dengan cepat aku kabarkan kepada keluargaku yang ada di Indonesia. Dengan suara riang jari tanganku menekan nomor telepon. Ternyata yang mengangkat adalah kakak kandungku, yang kebetulan pada saat itu ada di rumah orang tuaku. Dan tanpa berbasa – basi yang lebih lama, aku ceritakan semua. Seputar kehamilan istriku.

Kakakku menyambut dengan perasaan riang. Ini terdengar dari suaranya yang antusias. Tetapi, tiba – tiba nada suaranya berubah. Antusiasnya berubah melemah. Ada apa gerangan ? Tiba – tiba aku mempunyai firasat. Pasti ada sesuatu yang terjadi dikeluarga. Memang, saat itu aku sudah agak lama tidak menghubungi keluarga lewat telepon.

Tiba – tiba suara kakakku menjadi terbata – bata, seperti ada kesedihan. Akupun bertambah curiga, dan penuh penasaran.

” Jangan terkejut, ” Kakakku mengawali kalimatnya. Ternyata Tuhan berencana lain ditengah – tengah keluarga kita. Tuhan sudah mempersiapkan buah hati dirahim istrimu, tetapi juga ada anggota keluarga yang harus pergi dipanggil ke hadapannya. Ada yang datang, dan ada yang pergi. Seperti yang lazim kita dengar.Dan yang dipanggil Tuhan, adalah ayah kita. Ayah baru saja meninggal di rumah sakit, “ Kakakku menutup kalimatnya dengan suara tangis.

Luapan suara tangisku spontan meledak – ledak. Air mata dengan deras mengucur membasahi kedua pipi. Istriku begitu kaget, melihat aku yang meraung – raung. Aku jelaskan kepadanya, kalau ayahku baru saja meninggal dunia. Diapun tidak kuasa menahan tangis. Aku dan dia berpelukan dengan hujan tangis dan air mata.

Kebahagiaan karena istriku hamil, ternyata dengan cepat diselimuti perasaan duka. Ya, ayahku dipanggil menghadap ke hadiratNya. Dibalik gagang telepon, aku masih menanyakan kepada kakakku, bagaimana menit – menit terakhir sebelum ayah pergi.

“Ayah pergi dengan perasaan yang tenang. Ini terlihat dari wajahnya. Saat menutup mata, wajahnya nampak tersenyum, “kata kakakku. “Ayah pergi disaksikan oleh semua anggota keluarga. Beliau berpesan, agar anak – anaknya rukun, dan berbakti kepada ibu, “ Ucap  kakakku.

Walau ayah suaranya sudah lemah, tetapi anak – anaknya dan menantunya, disebut namanya dan didoákan satu persatu. Beliau mengawali dari anak yang sulung, hingga berakhir pada namamu dan nama istrimu. Setelah selesai berdoá, ayah menutup mata untuk selama – lamanya, “ Tuturnya menambahkan.

Hingga saát ini, aku selalu terpaku, serta meneteskan air mata, jika ingat peristiwa diatas. Aku dan istriku melihat keajaiban dari kejadian ini. Ternyata ayahku berpamit dan berpesan lewat mimpi. Dia pergi, tetapi juga “lega”karena Tuhan telah mempersiapkan bibit yang baru dirahim istriku, untuk meneruskan generasi keluarga. Terima kasih Tuhan.

Disaat hari Valentine tiba, aku dan istriku akan teringat semuanya. Teringat kasih sayang Sang Pencipta. Karena Tuhan telah memberikan kado, yang indah daripada yang terindah. Yang paling berharga dimataku. Dan tidak terukur.

Berupa putri cilik yang lucu. Dan sebagai kenang – kenangan akan hari Valentine, maka kususupkan kata indah tersebut ditengah – tengah nama anakku. Yang sekarang tumbuh dan berkembang, menjadi gadis cilik yang periang. Hobby-nya makan mie goreng dan krupuk udang.

Semoga cerita diatas bisa dipetik maknanya.