Sahabat Dewa Dewi yang baik,

Setelah memperingati hari  kemerdekaan, ternyata masih belum meresap benar kata “merdeka” bagi setiap insan. Ada yang nampak merdeka dari luar, namun dari dalam masih terjajah.  Tak jarang terlihat tubuh – tubuh yang bergerak leluasa. Namun hati, pikiran, perasaan  serta emosinya begitu tersiksa. Dan terasa  lebih  menyakitkan lagi, jika yang menjajah  tersebut adalah pasangan sendiri.

Tolong, luangkan waktu 2 menit anda untuk mencerahkan  hati  si penulis surat dibawah ini.  Sedikit apapun kalimat pencerahan anda,  akan turut membantu menyokong kekuatan hatinya.

Selamat membaca !

Surat Lona – Jakarta

hedda_08.jpg

Halo pembaca Dewa Dewi dimana saja berada,

Aku ingin berbagi pengalaman, tentang resikonya dijodohkan. Karena akibat dijodohkan, hidupku menjadi tersiksa.  Kepedihan yang kutanggung terasa berat sekali, sehingga tak terasa air mataku sudah bercucuran sebelum menulis surat ini.

Namaku Lona ( samaran ), berumur 25 tahun dan baru menetap sekitar satu tahun dikota Jakarta. Statusku sebagai istri pengacara.  Pekerjaan suamiku bisa dibilang  sukses. Nama suamiku juga biasa ditulis  dikoran dan majalah. Dan tak jarang wajahnya nongol dilayar kaca.

Tanpa berlebihan, suamiku memang pengacara yang boleh dibilang terkenal dikalangan artis. Tak heran, setiap menangani kasus public figur, namanyapun turut tersiar dimedia.

Sedangkan aku sendiri hanya pendamping suami, dan tinggal di rumah. Aku juga baru sekitar satu tahun di Jakarta.  Karena aku lahir dan dibesarkan dikota Menado. Dan pindah ke ibukota ini setelah menikah dan diboyong oleh suami.

Walo aku masih satu tahun di  Jakarta, namun aku paham benar dengan ibukota. Karena aku punya banyak famili di kota ini. Dan sebelumnya sering liburan ke Jakarta.

Sebagai pasangan pengantin yang masih berumur satu tahun, ternyata telah memberikan begitu banyak kepedihan dan trauma yang mendalam. Trauma fisik sih masih tidak seberapa, namun trauma psikis ini yang tidak terukur.

Mungkin cerita ini agak kontroversi, mengingat suamiku sendiri seorang pengacara. Seorang yang berkecimpung dibidang hukum. Seorang yang memahami hak dan kewajiban seseorang. Namun siapa sangka, pengetahuan tersebut kadang dimanfaátkan untuk merugikan orang lain.

Sebelum menikah dengan suamiku ini, aku memang pernah berpacaran. Tetapi sekedar pacaran saja. Akupun nggak pernah ngelakuin hal – hal yang tidak diperkenankan agama. Makhlum, keluargaku bisa dibilang taát beragama, dan selalu memberikan kontrol yang cukup. Agar tidak tergelincir ke hal – hal yang merugikan.

Suamiku memang mengetahui kalo aku pernah pacaran. Kalo dilihat dari reaksinya sih, kayaknya dia cemburu banget. Bahkan dia juga sering bercerita, kalo sering  “tidur “dengan cewek – cewek cantik, saat masih membujang. Aku sih biasanya bereaksi cuek saja.

Memang sih suamiku dari kalangan yang terpandang. Kedua orang tuanya berpendidikan tinggi dan mempunyai jabatan di pemerintahan. Bahkan ketika masa orde baru,  status kedua orang tuanya sedang jaya – jayanya. Suamiku adalah anak paling bungsu dari 3 bersaudara. Suamiku sendiri usianya sudah 38 tahun.

Yang sering membuatku resah, adalah kebiasaan suamiku yang sering menyiksaku sebelum bercinta. Ini khan aneh !

Setiap pulang kerja,  biasanya dia masih belum bisa meninggalkan situasi kerjanya. Sampe dirumah, biasanya dia menuangkan minuman alkohol yang berkadar 41 %. Dia menuangkan hanya sedikit saja, katanya untuk mengurangi ketegangan.

Aku selalu berasaha selalu tampil rapi dan menyenangkan saat suami pulang dari kantor. Memang,  sudah dari rumah aku selalu dididik untuk rapi. Biasanya aku menggunakan baju yang ” menyenangkan ” mata suami.  Wajahku  juga selalu pake make up. Dan bau parfum  tidak pernah ketinggalan.  Dan suamiku memang puas dengan penampilanku.

Suamiku biasanya selalu mesra mencium dan memelukku saat pulang. Setelah minum alkohol, nafsunya seperti tak ada kontrolnya. Berubah total. Bahkan memperlakukan aku maáf, seperti wanita panggilan. Dia mengeluarkan kata – kata  yang tak senonoh, dan melucuti bajuku dengan kasar sekali.

Setelah itu  dia  ambil film biru yang diputar diruang tamu !! Dan diruang tamulah, biasanya dia  ingin memuaskan cinta. Aku kadang  menolak. Bukan karena aku nggak mau melayani, tetapi aku  kurang kosentrasi. Mungkin ada tamu nggak diundang ngebel, khan bisa saja terjadi ?

Semakin aku meronta, nafsunya justru semakin besar. Apalagi ditambah dengan gambar dan suara – suara yang keluar dari film biru. Aku diperlakukan sama persis seperti wanita yang ada difilm tersebut. Untungnya, dia nggak bertahan lama. Setelah 15 menit, biasanya  adegan seperti ini selesai. Dan aku merasa seperti terbebas.

Suamiku juga sering pergi keluar kota untuk urusan kerja. Kesempatan seperti ini, ibaratnya sebuah kebebasan buatku. Karena kalo dia di rumah, adegan – adegan seperti yang  aku jelaskan diatas, biasa ditemukan. Memang sih dia nggak nampar yang bikin memar. Tapi perlakuan fisik yang kasar, terasa menyiksaku.

Akhir – akhir ini aku  menjadi gundah, karena dari pihak suamiku ingin mengharapkan agar aku cepet – cepet hamil. Mertuaku sudah mengidam – idamkan cucu laki – laki yang bisa meneruskan  nama garis keturunan keluarga.

Aku menjadi canggung dengan hal ini. Yang bikin aku ragu – ragu adalah sifat suamiku yang kurang aku mengerti. Dari segi keuangan, mamang nggak ada masalah. Karena itu pula  suamiku tidak mengijinkanku bekerja. Dia selalu bilang, agar  dia saja yang cari nafkah keluarga.

Kadang aku berpikir, kenapa hidupku seperti ini ?

Jika aku mengerti kalau sifat suamiku seperti ini, mungkin aku nggak mau menikah dengannya. Aku menikah dengan suami karena dijodohkan oleh orang tua. Papaku bersahabat dengan  mertuaku yang pria. Karena keduanya semasa orde baru aktif di partai politik yang sama.

Jadi kita memang nggak mengenal istilah pacaran. Setelah bertemu beberapa kali dalam kurun 2 bulan, langsung kita menikah. Karena dari pihak keluarga sudah lama mengidam – idamkan pernikahan ini.

Dibalik rumah yang megah ini, kadang  aku sering kesepian. Aku sepertinya nggak tau persis jalannya perkawinan ini. Apalagi kini aku dipanas – panasi keluarga untuk cepat – cepat hamil.

Tulisan ini juga  mengingatkan, bahwa “menjodohkan” adalah tidak selalu berakhir baik. Walo kedua belah pihak  sudah sama – sama mengetahui dan saling mengenal. Karena cinta khan nggak bisa “diciptakan” oleh orang lain ? 

Terima kasih buat DD yang memuat curhat ini.