Dewa Dewi kali ini menampilkan surat yang ditulis oleh seorang pembaca, tentang agama. Tidak bisa dipungkiri, thema ini adalah sangat mendasar dan merupakan basis yang kuat dalam setiap rumah tangga. 

Karena dengan basis agama yang cukup, pasangan akan mempunyai dasar – dasar yang teguh dalam mengarungi bahtera rumah tangga.Dan merupakan dasar,    yg nantinya digunakan untuk mendidik dan membimbing anak – anak yang dilahirkan nanti. Agar     menjadi pribadi yang santun, taat dan berguna. Silahkan memberikan sumbang saran.

Anisa – Solo

_40892167_jilbab_203.jpg

Apa khabar  dengan  penulis  DD ? 

Semoga kamu dalam keadaan baik – baik saja. Saya mengikuti terus rubrik yang kamu sajikan. Dan rubrik curhat sangat menarik perhatian saya. Terus terang, sebelumnya saya agak pesimis dengan curhat di blog ini, mengingat beberapa artikel yang dipenuhi oleh materi  yang berkaitan dengan seks melulu.

Tetapi setelah saya perhatikan, pembaca DD  memberikan tanggapan disetiap rubrik curhat dengan sikap dewasa dan pemikiran yang matang.

Sebut saja saya, Anisa. Tahun ini genap berusia 26 tahun dan bekerja sebagai wiraswasta. Saya mempunya toko yang menjual baju anak – anak di kota Solo. Status saya sebagai calon istri. Karena saya sudah mempunyai tunangan, dan rencananya akan  melaksanakan pesta pernikahan beberapa bulan lagi.

Tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya, mengenai calon suami saya. Sebut saja namanya Mas Anwar. Usianya  30 tahun. Calon suami saya beberapa bulan yang lalu pulang ke Indonesia,setelah menyelesaikan gelar masternya di Amerika. Dia lahir dan besar di Bogor, dan sebelum berangkat ke Amerika, bekerja di Yogyakarta.

Calon suami saya  adalah seorang yang agak pendiam,  dan taat menjalankan ibadah. Latar belakang kehidupan keluarganya sangat harmonis. Saya sendiri  sebagai pemeluk agama islam yang taat ( menurut kacamata saya sendiri ). Dalam kata lain, rajin melaksanbakan ibadah, ikut aktif diorganisasi, dan sebisa mungkin melaksanakan hal – hal yang mencerminkan keisalaman.

Hal yang membuat saya agak sedih dan bingung, adalah menyangkut keimanan   dia. Sepertinya dia mengalami banyak cuci otak selama tinggal di Amerika. Dia  tetap menjalankan ibadah, namun memutuskan untuk tidak melibatkan diri lagi ke berbagai organisasi Islam yang sebelumnya diikuti. Kalau ditanya, dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.

Selama tinggal di Amerika, dia banyak mengadakan diskusi budaya dan agama dengan para pelajar dan perantau. Bukan agama Islam saja. Tetapi juga dengan agama Kristen, Yahudi, Hindu dan Budha.

Dari diskusi terserbut,  dia melihat fenomena yang terjadi selama ini adalah banyaknya kasus perpecahan dan pertikaian yang dipicu oleh agama. Agama tidak membuat pemeluknya menjadi tenang dan damai, tetapi adanya perasaan ketakutan yang datang setiap waktu.

Kini calon suami saya sepertinya membatasi diri dari pergaulan dengan organisasi – organisasi Islam. Saya sendiri kurang paham. Ini menandakan bahwa dia kecewa dengan agama  Islam, atau sekedar sikap selektif  ?

Mengingat dia sebelumnya adalah figur yang dekat dengan organisasi. Beberapa pihak melihat hal ini sebagai kelelahan psikis setelah menyelesaikan studi diluar negeri. Tetapi saya agak khawatir, jangan – jangan dia mulai menjauhkan diri dari agama.

Mungkin ada  saran – saran dari pembaca  DD ?

Terima kasih buat DD, yang telah memuat surat ini.

******************************************************************************************

DD Nulis :

Terima kasih atas kesediaan Mbak Anisa menulis surat yang bernuansakan lain.  Sungguh hal yang menyenangkan bagi DD. Demikian juga dengan pembaca Dewa – Dewi yang kritis, matang, dan  kreatif dalam mengemas setiap sumbang saran.

Semoga pembaca DD dimanapun berada, berkenan memberikan pencerahan !