Malam pengantin adalah malam yang paling dinanti – nantikan oleh kawula muda. Siapapun dia, baik pria maupun wanita. Merupakan malam yang mengukir sejarah bagi pasangan yang menikah. Karena pada malam inilah,  seks untuk pertama kalinya dipersembahkan dan dinikmati oleh kedua belah pihak.Bagi seorang wanita, merupakan kebanggaan tersendiri, bisa menjaga mahkota kesuciaanya, dan mempersembahkan untuk suami tercinta pada malam pertama. Demikian halnya dengan pria. Tak terhitung banyaknya kaum lelaki, yang merasa punya kebanggaan tersendiri, jika bisa memetik buah keperawanan seorang wanita.Setiap wanita mempunyai perasaan yang berbeda dalam mempersiapkan dan menyongsong malam pertama. Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh penulis surat dibawah ini. Silahkan anda menanggapi dan berbagi saran.

Ririn – Bogor

rik-anita-tillen_378x282.jpg

Hallo DD, dan pembaca dimana saja berada,

Menanti malam pertama seharusnya dilakukan dengan perasaan riang dan berbunga – bunga, tetapi tidak demikian dengan aku. Saat ini aku sering berpikir pusing seribu kali, jika membayangkan akan hadirnya malam pertama.

Semakin lama aku pikir, sepertinya tidak juga ada penyelesaian. Bahkan kadang aku merasa takut sekali. Untuk lebih jelasnya, biarlah aku ceritakan sejak awal. Aku kini berusia 23 tahun dan sudah  menyelesaikan kuliah di Jakarta. Secara resmi aku masih belum mempunyai pekerjaan tetap.

Masalah pekerjaan sebenarnya pada saat ini tidak terlalu kurisaukan. Karena setelah berunding dengan calon suami, aku disarankan untuk tinggal dirumah saja. Suamiku  mempunyai pekerjaan yang bagus di Jakarta, dan cukup untuk memberikan nafkah bagi keluarga. Dia ingin setelah kita menikah, langsung merencanakan memiliki anak. Sehingga aku bisa mengasuh anak dirumah.

Usia calon suamiku sudah menginjak 34 tahun. Dia bisa dibilang pribadi yang matang dan berpikiran  sangat dewasa. Dia juga orangnya baik dan taat  beribadah. Ini semua menjadi kebanggaanku pada dia. Kami sudah tunangan tahun lalu, dan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, kami hendak merayakan pesta pengantin dua bulan yang akan datang.

Calon suamiku orangnya jujur, dan sebelum mengenal aku tidak pernah pacaran serius. Bahkan suamiku juga bilang, kalo selama ini tidak pernah melakukan hubungan intim dengan wanita. Demikian juga aku, sebelum berpacaran dengan calon suami, aku juga tidak pernah berpacaran serius dengan seorang cowok. Pernah sekali,  sih Tetapi  hanya tak lebih sebagai teman jalan saja. Ciumanpun aku tidak melakukannya dengan dia.

Pada bulan Maret yang lalu aku berkunjung ke rumah calon suamiku. Waktu itu hari Sabtu. Seperti biasanya aku juga menginap dirumahnya. Calon suamiku bisa dipercaya, kalo tidak akan melakukan hal yang tidak – tidak.  Tetapi pada saat itu tiba – tiba lain. Mungkin karena kita sama – sama ingin tau dan penasaran, yang namanya seks. Karena setelah kita pikir, kita khan akan menikah.

Ini memang pikiran salah. Tetapi kenyataanya kita berdua sama – sama menghendaki.  Akhirnya kita ingin melakukan hubungan seks di rumah calon suamiku.  Pada waktu itu dia mencumbuku dan memulai pelan – pelan, agar aku rileks dan bisa terangsang. Memang sih, aku cukup kikuk dan canggung. Dia dengan telaten membimbingku.

Setelah aku dalam keadaan bugil, aku juga melucuti  pakaiannya. Tetapi setelah aku melepas celana dalamnya, aku kaget bukan kepalang. Karena aku melihat ” anunya ” begutu keras dan tegang. Itulah untuk pertama kalinya aku melihat kemaluan pria. Ukurannya juga gede sekali, yang membuatku takut. Pada saat aku memegang “anunya “aku langsung membayangkan bagaimana sakitnya, jika dimasukkan kedalam milikku.

Aku tiba – tiba menjadi begitu ketakutan membayangkan rasa sakit yang akan aku alami. Hingga membuatku berkeringat dan tegang. Calon suamiku dengan tanggap menanyakan, kenapa aku begitu   ketakutan. Ini karena setelah tangannku menyentuh kemaluan dia yang keras dan tegang, langsung aku lepaskan seketika. Sehingga muka  dia menjadi melongo.

Akhirnya kuceritakan apa adanya, kalau aku tidak siap untuk melakukan hubungan seks. Untungnya dia sangat sabar dan tidak marah. Akhirnya aku dipeluk dan didekapnya. Dia juga minta ma ‘af, karena telah mengajak melakukan hal yang sepantasnya belum boleh dilakukan.

Setelah kejadian itu, calon suamiku tidak pernah lagi menggoda untuk menuju kearah hubungan seksual. Kita masih biasa melakukan ciuman dan bercumbu mesra, tetapi tidak  pakai acara buka baju.

Pengalaman pertama kali tersebut selalu menghantuiku. Bahkan terbayang kedalam mimpi. Kadang aku bermimpi seolah suamiku akan menindihku. Dan biasanya aku menjerit dalam mimpi tersebut, seperti ketakutan. Jika ingat “anu “calon suami yang keras dan tegang itu, aku jadi takut. Bagaimana jika dimasukkan kemilikku ?

Aku tetap membayangkan rasa sakitnya, jika suatu saat nanti “anunya ”  merobek selaput daraku. Bukankah ini cukup beralasan ? Mana mungkin anu yang gede tersebut bisa masuk secara  gampang untuk seseorang yang masih perawan ?

Pikiran ini terbawa setiap hari, hingga tidak terasa  menghantuiku. Hari demi hari berjalan dengan pasti, hingga mau tak mau aku harus siap melakukan hal tersebut dimalam pertama nanti. Tetapi dipikiranku ini masih ada perasaan takut, dan membayangkan rasa sakit yang akan aku alami.

Adakah pembaca yang bisa berbagi cerita dan pengalaman dalam hal ini ?

Buat DD terima kasih banyak.