Berita paling menarik yang sempat DD baca beberapa hari terakhir, adalah lulusnya seorang nenek berusia 94 tahun menyelesaikan studi ilmu medis di Australia. Ini merupakan kejutan luar biasa ! Walau usia uzur, tetapi otaknya masih cemerlang.

Phyllis Turner, nenek sepuh yang  dikaruniai 7 anak tersebut  ternyata mental belajarnya tetap membara. Inilah yang namanya belajar tidak mengenal usia. Orangpun tidak akan mengatakan, kalau Turner belajar untuk mencapai kesuksesan materi. Kesuksesan apa yang ingin dicari diusianya yang sudah uzur?

Atau kuliah  merupakan pemuasan libido belajarnya saja, yang  dimasa muda tidak kesampaian ?  Jawaban apapun yang muncul, toch setiap orang akan berpikir positip.  Kesuksesan intelektual sudah dibuktikannya.

Coba anda renungkan. Jika orang yang setua itu masih doyan belajar, kenapa yang muda masih ogah – ogahan nenteng tas ke kampus ?

Belajar memang penting. Baik melalui sektor formal  maupun non formal, untuk meningkatkan kwalitas dan produktifitas seseorang.  Ini langkah awal menuju kesuksesan.

DD sengaja memuat artikel yang ditulis oleh seorang pengajar seputar pendidikan dan dunia kerja. Karena ini perlu sekali. Agar kita nggak  terpereset salah memahami tips sukses yang sepertinya nggak butuh bangku sekolah.

Seperti halnya  wejangan edan dari pengusaha nyentrik, Bob Sadino. Dalam seminarnya yang berjudul Belajar Goblok.  Bob Sadino memberikan berbagai  tips sukses dengan cara yang  sederhana. Dengan menyingkirkan dulu berbagai theori dan rumus – rumus yang ruwet, yang didapat di sekolah. Atau dalam memahami buku If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School, yang ditulis oleh Robert T Kiyosaki. Untuk menjadi pinter dan kaya memang banyak jalannya, seperti pepatah bilang : banyak jalan menuju Roma.

Selamat membaca !

Ditulis oleh  :  Sismanto

school.jpg

Tanggal 3 Agustus 2007 yang telah berlalu  beberapa minggu, memberikan moment yang menarik.  Karena pada tanggal tersebut diumumkan hasil SPBM untuk memasuki perguruan tinggi negri. Ada yang senang bercampur bahagia, namun tentu ada juga yang mengalami kekecewaan.

Ini sangatlah beralasan. Mengingat memasuki PTN adalah menyangkut gengsi. Apalagi kalau menyangkut PTN favorit. Jujur diakui, bahwa PTN secara kualitas satu tingkat  diatas PTS. Karena pada kenyataanya tidaklah banyak jumlah PTS yang bisa mengungguli PTN.

Masih belum terpenuhi harapan dan tuntutan para lulusannya, merupakan alasan klise para korban SPMB. Ini tentu tidak terlepas dari kenyataan, bahwa para lulusan pendidikan strata satu yang masih kerap disebut sebagai kelompok ” belum siap pakai. ” Disamping itu, untuk lulusan PTS-pun memang masih sangat perlu diberdayakan.

Jika merujuk pada tuntutan kompetisi global bidang pendidikan, memberikan inspirasi kepada setiap orang untuk mampu meningkatkan daya saing, agar tetap survive dan berprestasi. Kemajuan komparatif ( comparative advantages ) sebagai modal untuk bersaing, diiringi dengan kemajuan kompetitif ( competitive advantages ) yang berkualitas.  Tetapi itupun masih belum bisa  menjamin untuk bisa bersaing diera global ini.

Untuk itulah, yang menjadi harapan adalah SDM yang terus diasah dan ditingkatkan, agar anak bangsa mempunyai intelektual yang kompetitif, serta bisa bersaing ditingkat internasional.

Ilustrasi diatas, mengisyaratkan agar para lulusan SLTA yang tidak  lolos SPMB, untuk tidak berkecil hati. Indikasi demikian, mengingat masih  banyak lulusan SLTA yang enggan melanjutkan kuliah, manakala mereka tidak diterima di PTN.

Pertama, menjadi langsung tenaga kerja.

Meskipun mempuyai kontribusi yang besar dalam  sekstor industri, namun produktifitas mereka masih sangat rendah. Hal ini bisa terjadi, karena secara akademik mereka tidak  dipersiapkan untuk bekerja. 

 Oleh karena itu, sektor ketenaga kerjaan  tenaga kerja semacam ini tidak dapat dikembangkan. Karena masih bersifat eksploitasi, dan menguntungkan industri dari segi efisiensi biaya produksi. Yang menurut industri, justru dianggap sebagai keunggulan komparatif ( comparative advantage ).

Hal ini membuktikan bahwa sektor industri kita masih berorientasi pada biaya ( cost oriented ), dan belum berorientasi pada produksi ( production oriented ). Masih perlu waktu yang lama untuk  menunggu terjadinya pergeseran sistem ekonomi, dari P-ekonomy menjadi K-ekonomy.

Kedua,  berhentinya motivasi lulusan SLTA untuk kegiatan SDM-nya melalui pendidikan.

Berhentinya kegiatan ini berakibat tingkat produktifitas tenaga kerja menjadi rendah, yaitu rendahnya penghasilan mereka. Tingkat upah yang rendah,  menciptakan keterbatasan ekonomi masyarakat, juga merupakan alasan kuat bagi seseorang untuk menginvetasikan SDM-nya melalui pendidikan. Kegiatan investasi SDM akan efektif, jika terjadi perbedaan tingkat balikan yang signifikasi, antara jenjang pendidikan yang satu dengan jenjang pendidikan lainnya.

Ketiga, Faktor lingkungan seperti halnya ekonomi, sosial budaya dan politik sebagai masukan lingkungan ( environmental input ), ternyata juga begitu berpengaruh terhadap masukan mentah ( raw input ) pendidikan. Faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berhenti sekolah  dijenjang SLTA.

Pada umumnnya, mereka menjadikan unsur masukan lingkungan seperti keadaan ekonomi dan kebiasaan dimasyarakat,  sebagai faktor yang mempengaruhi mereka untuk berhenti melanjutkan kuliah.

Keempat, peningkatan kesehjateraan masyarakat bisa terwujud, dengan peningkatan  produktivitas tenaga kerja,  yang hanya didapat melalui pendidikan.

Semama tenaga kerja masih berpendidikan rendah, maka produktifitas mereka-pun masih dikatakan rendah. Perbaikan kalifikasi pendidikan,  dapat menjadi  langkah awal, dalam   memutus “ lingkaran setan “antara urgensi pembangunan ekonomi, dan pembangunan manusia.

Dalam keadaan ekonomi yang masih terpuruk seperti saat ini,  diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas,  yang dapat mengentas negeri ini dari keterpurukan. Yang tidak lain adalah manusia terdidik  yang berproduktifitas tinggi. Hal ini memperkuat bukti, bahwa produktifitas merupakan titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, lingkaran setan pendidikan rendah yang selama ini membudaya dalam duia kerja,  akan dapat dieliminir. Atau seseorang yang memperbaiki kuwalitas pendidikannya, dengan meningkatkan jenjang pendidikan, minimal sebagai batu loncatan, untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik.

                                               ****************