Tanggal 19 Juli 2005 merupakan  ” hari kelabu ” yang banyak diperbicangkan dunia internasional,  dan terlebih lagi bagi kelompok ” holebi ” ( homo, lesbi dan biseksual ).  Kenapa ? Karena  pada tanggal tersebut,  Asgari dan Marhoni harus menghabiskan nyawanya ditiang gantungan, di monumen kemerdekaan negara Iran, dengan disaksikan ratusan masyarakat. Lihat foto asli dibawah ini.

20060317111129_iran_gay.jpg

Berita ini sungguh menjadi berita kontroversial,  sehingga mengundang berbagai organisasi kemanusiaan dan  ikatan kaum holebi internasional untuk menyelidiki latar belakang yang sebenarnya. Karena menurut pemerintah Iran, eksekusi tersebut  dijatuhkan,  karena  dua pria  belia tersebut terbukti melakukan penculikan dan  pemerkosaan terhadap seorang anak laki – laki yang berusia 13 tahun.

Alasan ini ternyata berbeda dengan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh organisasi holebi internasional perwakilan negeri Belanda. Menurut organisasi ini,  dua pria tersebut ” digantung ” karena diketahui  homoseksual, dan keduanya berpacaran. Inilah yang  mengakibatkan nyawanya melayang ditiang gantungan.

Ternyata hasil penyelidikan holebi Belanda banyak  mendapatkan pembenaran  dimata masyarakat.  Karena pada tahun 2006,  giliran Shahab Darvishi yang digantung didepan monumen kemerdekaan Iran. Bukan karena melakukan kejahatan, tetapi  karena Shahab yang gay tersebut, diketahui berpacaran dengan gay lainnya.

Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda – beda tentang keberadaan holebi. Ada yang memakhlumi, dan tidak sedikit yang memaki. Ada yang memberikan tempat, dan ada pula yang mengusirnya. Ada yang mau bersahabat, dan tidak sedikit yang menjahuinya.

Diterima atau tidak,  keberadaan mereka tetap ada. Baik secara sembunyi – sembunyi, atau yang terang – terangan. Baik dinegara bebas, atau dinegara konservatif-pun. Sebuah sosok yang kehadirannya dianggap ” lain ” diantara bentangan norma – norma,  peraturan dan nilai – nilai agama.

Silahkan menanggapi “curhat ”  dibawah ini.

Ditulis oleh Bung Harry

Menurutku, semua gender itu sama. Tak ada batasan diantara keduanya. Laki – laki atau perempuan, itu sama saja.  Namun diantara kedua jenis kelamin tersebut, hadir sosok lain yang berbeda. Yang kebanyakan dianggap tidak lazim. Mereka bisa disebut waria ( wanita pria ).

Diluar area tersebut, masih terdapat wujud gay atau lesbi. Begitupun dengan diriku. Aku hidup diantara dua alam tersebut. Namun bagiku, itu tidak menjadi masalah. Karena itu pulalah, yang membuat banyak orang berkasak – kusuk ingin mencari tau siapa jati diriku.

Aku menganggap keputusan yang kuambil, adalah pilihan yang terbaik buatku. Tak perlulah semua orang tau, dan tidak perlulah aku mempertanggung jawabkan semuanya ini didepan kalayak  orang banyak.

gay-wp2-800.jpg

 Toh, yang lebih mengenal diriku secara mendalam aku sendiri. Aku tidak terlalu pusing mendengar ucapan miring yang dialamatkan pada diriku. Akupun senang bergaul dengan siapa saja, tanpa mematok, memanda, dan memperhatikan satu sifat saja. I can go with anyone, I can do anything what I wanna do.

Aku menyadari, banyak teman sepergaulanku, sepermainanku, , seperguruanku, yang mengalami gejolak batin seperti ini. Aku menganggap semua ini sebagai hal yang biasa, dan tidak aneh. Walo aku sadari, banyak orang yang tidak sependapat demikian.

Banci atau yang disebut waria, memang sudah tidak asing denganku. Bukan karena aku termasuk  komunitas tersebut,  tetapi karena pergaulanku disitu. Aku merasa nyaman bergaul dengan mereka. Karena banci yang ada didalam pikiranku, berbeda dengan kebanyakan orang.

Walo tidak beranak dan diperanakan, tetapi populasi meraka makin hari makin bertambah.  Terbukti, semakin banyaknya waria yang terseret oleh petugas  kepolisian saat ” sidak “( operasi mendadak ) dimalam hari. Ini yang biasa aku saksikan lewat acara layar kaca, dalam berita kriminal.

Aku menilai sosok banci adalah yang memiliki “strength power “melampoi pria dan wanita.  Mengapa aku berani mengatakan demikian ?  Karena sebelum memulai kariernya didunia hiburan, mereka sudah membentengi diri dengan mental baja, tentang segala kemungkinan yang akan terjadi.

Banci have style like womenly as u know about her ( I mean him ). Lihat saja, kaum banci yang begitu banyak menghadapi hujatan dari lingkungannya, atas pilihan hidupnya. Akan tetapi mereka tetap tegar, dan cuek  meniti kehidupan.

Apalagi kalau urusan cinta. Kaum waria tidak akan menangis berlarut – larut meratapi diri dialam kepedian. Tetapi dia cepat bangkit, dan bersemangat lagi untuk mencari pasangan yang baru. Cepet tancap gas , dan cari “mangsa ” yang baru.  Eh bukan mangsa, tapi  gacoan githu, lhoh.  Merka juga nggak gampang frustasi, seperti kaum pria saat putus cinta.

 Walo kelakuan mereka sering dipandang orang minus, tetapi mereka mempunyai jiwa entertainer sejati. Perlu bukti ? Mereka tuh selalu menutupi kekurangannya dengan cara berusaha tampil yang sempurna.  Lihat aja penampilannya. Selalu menggoda dan terlihat mak nyus githu, lhoh.

Karakteristik yang dibawanyapun jauh dari kesan cengeng. Tidak ada malu, dan semua disajikan secara transparan. Sayngnya, penampilan mereka yang elegan, kadang menimbulkan suit – suit dari mata – mata yang nakal.

Sekarang banyak kaum waria yang sukses. keberadaan mereka mulai mendapatkan tempat ( baca : diterima ) diseluruh lapisan masyarakat.  Lihat saja, profesi yang mampu mereka lakukan, juga setara dengan pria dan wanita.  Habis mau gima lagi ? Mereka  itu khan manusia seperti kita juga khan ?  Yang terdiri dari tulang, darah dan daging.  Dan bukan manusia jadian, yang terbuat dari batu atau tahu. ( becanda lagi )

Keberadaan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata oleh orang yang tidak mempunyai pengaruh apa – apa. karena mereka sudah menjadi elemen masyarakat.

Seiring dengan kaum waria, kehidupanku juga dekat dengan kaum homoseksual. Kebanyakan mereka  mempunyai “performance” yang macho, tetapi mempunyai orientasi seks yang menyimpang. Wah, sudah tidak terhitung temanku yang demikian. Ada temanku yang menyarankan aku membatasi diri bergaul dengan orang gay. Aku hanya menjawab,

” Buat apa ? “

Toh, mereka bukan penjahat kelas kakap, atau orang yang menjijikkan.  Homoseksualitas saat ini sudah bisa dipandang sebagai bagian dari gaya hidup,  dan bukan perkara yang memalukan. Aku juga heran, kenapa aku bisa terjebak dalam pergaulan seperti ini.

Bahkan pengalamanku “ditembak “oleh para pria gay bukan hal yang baru. Dan jujur saja, aku sering menghadapinya. Aku tidak tau,  daya tarik apa yang terdapat pada diriku, yang membuat mereka tergila – gila pada sosokku. tak perlulah aku ceritakan siapa saja mereka.

 Kehadiran mereka banyak memberikan inspirasi, masukan,  pengembangan dalam jati diriku.  Maksud tulisanku ini  biarlah dijadikan pandangan mengenai keberadaan kaum gay/ lesbi di masyarakat.. Pahamilah mereka apa adanya. Karena aku sendiri tidak berani mengatakan mereka sakit atau tidak normal. Biarlah mereka sendiri yang mempertanggung jawabkan keberadaannya pada Sang Pencipta.

gay00006.jpg

Tidak perlulah usil, atau memberikan sindiran miring. Pola hidup damai, itu tmbuh dan berawal dari kita sendiri. tak perlulah terpengaruh oleh lingkungan,  yang memvonis keberadaan mereka.

Semua pasti tau, kalo  hidup merupakan tanda tanya besar. Kesuksesan yang diraih oleh seseorang, pasti akan berakhir dengan kalimat ‘ and they live happily ever after. ‘  Karena apa yang terlihat enjoy secara lahiriah, siapa yang mengetahui batin seseorang ?

Kita dilahirkan dengan keunikan masing – masing. Maslow sendiri bilang,  jika setiap insan dimuka bumi ini mempunyai  keinginan untuk mirip dengan orang lain. Untuk dimengerti, diterima, diakui dan dihargai keberadaannya,  sama  dengan yang lainnya.

Kalo kita tidak kenal dekat dengan mereka, maka kitapun tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Disini aku tandaskan, bahwa aku nyaman berada diantara siapapun, bagaimanapun mereka adanya.

Salam hangat dari saya untuk seluruh pembaca DD 

                                                   ****************