Jumpa lagi, sahabat !

Hmm…weekend sudah berlalu. Kayaknya cepet banget, deh.  DD bisa menikmati liburan weekend dengan baik. Kebetulan mentari di negeri kincir angin bersinar cerah. Udaranya juga ngga dingin – dingin amat, sih. Enak jalan – jalan diluar, ngajak si gendhuk  shopping kecil – kecilan.

Setelah  nongkrong didepan komputer, eh dapet berita horor di http://www.nieuwsblad.be. Kalo anda ngga tahan mendingan jangan baca berita ini, deh. DD baca sambil menarik nafas panjang, plus mengelus – elus dada.

Ini kisah tentang  IT-specialist yang super – super edan. Edan koyo uwong sing ngga nduwe udel ( edan seperti manusia yang  tidak punya udel ). Coba bayangkan  sendiri. Yang namanya orang dating, biasanya khan mau cari gacoan.  Syukur – syukur kalo bisa dijadiin  jodoh beneran.

IT-specialist asal  Jerman yang bernama Armin Meiwes, ternyata melakukan dating dengan tujuan yang  super nyleneh bin edan ! Dia pasang advertensi di internet, nyari orang yang mau dimakan !!!! 

Lha edannya, kok ada orang yang  menawarkan diri untuk dimakan oleh Pak Armin Meiwes ini.  Katakanlah, minta dimakan secara sukarela. Kasus ini terjadi pada tahun 2001.

Kisah nyata ini sudah  sudah diangkat dalam bentuk film dengan judul  Rohtenburg, titel dalam bahasa  Inggris A Grimm Love Story. Film tersebut dilarang beredar di Jerman, namun  mendapatkan penghargaan di negara Spanyol.

Kini negara  Jerman sedang heboh dengan berita munculnya kasus  Armin  Meiwes yang  diterbitkan dalam bentuk buku. Banyak yang mengatakan, bahwa buku tersebut dimungkinkan menjadi bestseller.

Berita yang DD baca dari  http://www.nieuwsblad.be   adalah sebagai berikut :

Buku berjudul Abendmahl der M’o’rder atau Avondmaal van de moordenar ( makan sore seorang pembunuh )  akan muncul minggu depan di negara Jerman. Buku yang dijamin akan menjadi buku bestseller.

Buku yang ditulis oleh seorang Patholog ( Manfred Risse ), merupakan  laporan pertama dari saksi mata, tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Armin  Meiwes ( kanibal asal Rotenburg ) terhadap  Bern Juergen Brandes.

Armin mengadakan kontak lewat internet pertama kali dengan korbannya pada tahun 2001. Brandes menyetujui pertemuan tersebut, yang memang dimaksudkan untuk dibunuh dan dimakan. Armin Meiwes memfilmkan seluruh jalannya proses  mengerikan ini.

Beberapa orang menyaksikan proses mengerikan ini. Dan patholog, Manfred Risse adalah satu diantaranya. Patholog ini mengatakan, bahwa ini merupakan kasus yang paling mengerikan sepanjang dia menekuni kariernya. Padahal dia sudah melihat dan menangani sekitar 30.000 mayat.

Risse menyelidiki, apakah daging yang terpotong – potong yang disimpan didalam lemari es, hanya terdiri dari satu orang. Manfred menemukan potongan daging yang terbungkus dan tersimpan dengan menggunakan label Cator nekfilet ( Cator daging bagian leher ).

Kata Cator merupakan nama samaran korbannya saat mengadakan kontak lewat internet. Ditemukan sejumlah 30 bungkusan daging manusia didalam lemari es,  yang disertai lebel disetiap bungkusnya.

Melihat film tersebut, merupakan pengalaman yang paling – paling mengerikan, menurut Manfred Risse.  Risse menggambarkan, bagaimana sang korban ( Bernd Jurgen Brandes ) meminta kepada Armin agar memotong penisnya, supaya mereka bisa makan penis tersebut bersama – sama pakai bawang putih.

Setelah adegan  makan penis bersama ( digoreng dulu ), Armin yang belepotan darah tersebut masih mengeluarkan sendau gurau. Jika sampai keesokan pagi korbannya tidak juga mati, maka dia bermaksud mengiris biji kemaluan korban untuk digoreng, dan dijadikan sarapan pagi bersama ( Menurut istilah bahasa Jerman, diibaratkan  dengan gorengan telor ).

Manfred seorang Patholog setelah melihat film mengerikan tersebut, harus membuat kesimpulan, apakah korban masih hidup, disaat Armin Meiwes menggorok leher korban tersebut. Ternyata jawabannya, YA. Korban  pada saat itu masih hidup !!!!

************************

Tambahan informasi :

Hingga kini kasus ini masih banyak  diperbincangkan di berbagai media di negara Jerman. Minggu depan muncul buku Abendmahl der m’o’rder, juga diadakan interviews dengan Armin Meiwes. Film dokumenter  sedang disusun.

Pada sidang pertama, Armin dijatuhi hukuman 8, 5 tahun. Hanya dengan dakwaan melakukan pembunuhan. Tetapi jaksa mengadakan  naik banding.  Dan setelah melalui sidang dipengadilan yang lebih tinggi, Armin Meiwes akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.