Salah satu sosok yang akrap dimata dalam kesehari – harian kita, adalah figur seorang pengamen. Sosok ini bukan hanya ditemukan dikota besar seperti Jakarta, tetapi dimana – mana.  Pengamen muncul tidak begitu saja, melainkan beragam jenis serta motivasinya.

Dari pengamen yang berlatar belakang  anak sekolahan, hingga pengamen  dari kalangan anak asongan. Haramkah kehadirannya ? Menganggukah keberadaannya ? Benarkan mereka kreatip ?   Atau seorang peminta,   bahkan pemaksa yang berkedok penjual  suara ?

Walo diangap tetap menjadi dilema, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa mengamen merupakan alat melatih  kreatifitas,  menuju profesionalitas dalam bidang seni suara. Dan banyak sekali lhoh, yang ngamen emang untuk ndapetin sesuap nasi ! Sekedar untuk menyambung hidup.

DD sudah 10 tahun meninggalkan Jakarta, dan belum sempat mengunjunginya lagi. Tulisan curhat dari pembaca asal Jakarta ini, memberikan  seuntai kenangan tetang  keberadaan pengamen dikota metropolitan.

Selamat membaca dan memberikan tanggapan !

I  Vote For The Heart

Falentina Tobing – Jakarta

Cerita ini hanyalah perenungan singkat yang saya rasa begitu mengganggu disaat – saat perjalanan saya. Awalnya mungkin karena saya sangat terbiasa naik  angkutan umum kesana sini, sehingga biasanya saya punya banyak waktu untuk bengong. Yah betul saudara – saudara, bengong.

Tapi pernahkah  ketika anda sedang asyik sendiri dengan dunia anda ( tolong jangan samakan dengan autis ) sambil menunggu kendaraan umum, dan sesekali mendengarkan walkman ( hmm udah ngga jamannya, yah ) oke-lah Ipod atau barangkali handphone anda yang dilengkapi fitur radio, MP3 or whatever anda diganggu dengan suara kecrek – kecrek yang ngga bernada ?

Ehm…. mungkin ngejreng – ngejreng asal – asalan, bahkan hanya sekedar bertepuk tangan, yang disertai gumaman lirih pengamen jalanan ?

Pasti pernah, deh.

Terganggu ? Sebagian akan berkata ya tentu saja. Yang lain mungkin akan menjawab tidak peduli. Kalo pertanyaan serupa dikembalikan kepada saya, maka saya akan menjawab, ” Itu membuyarkan semua pikiran saya, dan mulai memperhatikan. “

Ketika saya mendengarkan pengamen, setidaknya saya selalu pasang kuping. Sementara itu jauh dipikiran saya ( yang sudah terdistract tentunya ) saya akan mendengar suara – suara yang sibuk  kasih komentar.

“OMG yang ini masih kecil banget ! Kemana sih emak  bapaknya ? “

“Permainan gitar dan lagunya payah, tapi tampangnya melas. Gimana dong ? “

“Ehm suaranya bagus, sumpah deh jadi artis aja, Mas. “

” Eh, abangnya ganteng juga, ya. Boleh kenalan ngga ya ? ( yang ini sih saya mengada – ada, tolong jangan tanggepin serius deh ). “

“Ohmygoddragon ! Yang ini sih kayak preman, mintanya pake ngancem lagi. “

“Wah yang ini gue suka, kreatip banget pake acara talk show segala ( asli deh, yang model gini juga ada, lhoh ). “

Singkat kata, muncul berbagai figur pengamen dengan beragam komentar yang menyambutnya. Saya pernah iseng – iseng menghitungnya.

Bisa ada 3 – 5 pengamen yang naik bis yang sama dengan anda dalam sekali perjalanan, dengan rute yang lumayan ( kebayang ngga anda harus ngeluarin uang berapa ? ).

Saya biasanya pake theori, “Sebentar, kita liat dulu situasinya. ” Dan prioritas yang ada dibenak saya biasanya seperti ini :

1. Anak kecil.

2. Orang yang ngga mendapat sepeserpun, karena kekurangan yang ada.

3. Pengamen yang keren dan kreatip.

Terkadang banyak orang yang berasumsi begini,

“Mereka ngga mau cari kerja lain, males, badannya aja yang masih muda dan sehat. “

“Ah, paling juga buat beli  rokok, miras, drug atau buat ngelem. ( ehm memang ada yang seperti itu ) dan masih banyak lagi yang lain.

Saya tidak menyalahkan loh, semua orang khan bebas berpendapat. Itulah kenapa saya bilang, jika hati tergerak. Baru dua hari yang lalu saya mendapatkan pencerahan seperti ini

Suatu saat  saya sedang  akrap – akrapnya dengan pintu Kopaja, karena kejepit dan kebagian dipinggir pintu. Kopaja saat itu penuh sesak, kemudian masuklah beberap pengamen yang turut memperebutkan H2O dan tempat berpijak.

Karena saat itu matahari  sedang ceria, suhu udara meningkat, dan tingkat kesetressan juga meningkat. Makhlumlah, berdiri dua jam bukan hal yang enak dan indah untuk dikenang.

Ayway, saya mulai kesal dengan pengamen itu yang suaranya tidak jelas sama sekali. Saya membulatkan hati pada hari itu  ”  no more mister nice guy. ” Saya ngga kan mau ngasih. Tapi jauuuuh didalam hati ini merasa bersalah. Tapi saya menebalkan kuping, dan bersikap cuek aja. Pengamen itu turun seperti dengan tangan hampa.

Dzig… hati nurani seperti ditonjok dan berdemo minta perhatian saya Dihati saya timbul perasaan bersalah, walo ada beragam argumen.

Saya jadi inget suara sayup – sayup yang pernah aku liat di televisi, akan kebijakan pemda DKI  tentang pelarangan bagi warga yang ketahuan ngasih sedekah buat pengemis (  entah diberlakukannya dan disyahkannya kapan ).

Saya denger sih dendanya sampai besar sekali. Waktu itu saya hanya sibuk mencemoóh. Entah kenapa pemerintah datang dengan ide seperti itu. Maksudnya sih, untuk mengurangi gepeng yang memenuhi ibukota tercinta.

Keberadaannya membuat Jakarta menjadi tidak indah. Tetapi kemiskinan pasti bukan pilihan mereka. Mereka tidak merencanakan untuk menjadi miskin saja instead menjadi kaya.  Kondisi dan faktor kebodohan menjadikan mereka dekat dengan kemiskinan.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada pemimpin bangasa, bukanlah lebih baik meninjau ulang kebijakan,

“Fakir miskin dan anak – anak terlantar dipelihara oleh negara. “

Perlu dikaji bagaimana menemukan cara – cara untuk meningkatkan kesehjateraan mereka. Setidaknya mereka adalah warga negara yang sama dengan orang  – orang kaya, dan memiliki hidup yang sama.

Dengan begitu tidak ada cap lagi sebagai warga kelas dua. Karena hakekatnya mereka diciptakan secara sama oleh Tuhan. Jadi  kenapa harus mematikan  fungsi hati nurani,  sesuai dengan yang digariskan Tuhan ?