Malam minggu sudah berlalu, nih. Baik yang sudah berkeluarga atau yang masih pacaran, pasti  udah ngerasain nikmatnya malam minggu kemarin.

Ehm, asyik ngga ya ? DD  sekeluarga  sih menikmati  liburan  ke taman angrek.

Enak bener, sih. Ngeliat aneka ragam bunga anggrek yang lokasi dan dekorasinya disesuaikan dengan alam tropis. Jadi seolah – olah seperti pulang kampung. 

Apalagi didalam taman yang tertutup tersebut udaranya anget bener.  Tapi setelah keluar, eh semuanya berubah jadi dingin lagi. Yaaah, beginilah Belanda.

Membaca surat yang ditulis oleh pembaca yang tinggal di Yogyakarta,  mengingatkan DD akan pentingnya  komunikasi didalam sebuah relasi.

Baik yang masih pacaran ato yang sudah berkeluarga. Komunikasi merupakan alat untuk mengenal pasangan lebih dekat.

Oke. Keliatannya sih gampang. Tapi tidak demikian didalam prakteknya. Komunikasi merupakan proses yang tiada berakhir.

Walo kita udah menikah dengan orang yang kita kenal saat pacaran, toh tetap ada sesuatu yang kita belum kita kenal.

Tidak heran, didalam perkawinan banyak ditemukan keretakan, akibat lemahnya komunikasi antara kedua belah pihak. Ditambah perbedaan karakter yang kurang bisa disesuaikan satu sama lain, menyebabkan relasi mudah patah.

Demikian juga didalam mengambil keputusan, mengkomunikasikan dengan pasangan adalah wajib. Jangan sampai akibat emosi, komunikasi menjadi  tersisihkan.

Ah, DD ngga mau menggurui, deh. Silahkan saja membaca surat dibawah ini, dan memberikan sumbang saran serta pencerahan.

Gara – Gara Gadis Webcam

Ardi – Yogyakarta

Dear DD dan pembaca yang baik,

 

Perkenankanlah saya pada kesempatan ini untuk mencurahkan hati. Sebenarnya tulisan ini lebih berkaitan dengan problem yang menghinggapi saya, dan tidak sekedar menulis curhat untuk ngikutin lomba.

Saya adalah pria yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak berusia 1 tahun.   Usia saya menginjak 31 tahun, sedangkan istri saya 2 tahun lebih muda.

Saya bekerja di perusahaan swasta, dan mempunyai usaha sampingan sebagai pengrajin perak,  yang dipasarkan disekitar lokasi wisata Malioboro.

Kalo dari luar, mungkin terlihat kami sebagai pasangan bahagia yang serasi. Hal ini bukan perasaan saya saja, tetapi saya sering mendengar seperti itu. Baik dari keluarga, teman dekat, maupun  lingkungan kerja.

Istri saya wajahnya cantik dan bodinya menawan. Dadanya montok dan bagian belakangnya padat singsat. Ini bukan ungkapan saya yang sok GR, lho. Tetapi seperti itu yang saya dengar dari lingkungan saya. Mereka memuji kecantikan istri saya.

Tak heran, mereka sering menyebut saya sebagai pria yang beruntung. Bahkan saya pernah mendengar teman  saya yang masih jomblo bercanda,

” Kalo saya punya istri begitu sih, kayaknya saya nggak bisa beranjak dari ranjang. “

Apalagi istri saya orangnya gampang bergaul dan luwes. Dia gampang diterima dalam pergaulan. Istri saya orang Padang, sedangkan saya orang Jawa tulen.

Awal mula dari persoalan yang menghinggapi diri saya ini, berujung dari cerita dua setengah  tahun yang lalu. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa di kota ini, sedangkan istri saya ini bekerja sebagai karyawati Matahari Dept Store.

Waktu  saya masih mahasiswa, saya tidak tinggal di rumah, melainkan kost dirumahnya teman. Waktu itu saya juga sudah bekerja  sambilan sebagai pengrajin perak. Saya berpacaran dengan cewek asal Jakarta. Namanya Dian. Dia mahasiswa PTS Jakarta. 

Kita berpacaran jarah jauh, dan jarang bertemu. Hanya ngobrol lewat telepon secara teratur. Saat itu istri saya ini ( sebut Upik ) memang jatuh cinta sama saya, dan nguber – nguber. 

Tetapi saya tidak menanggapinya. Banyak teman – teman saya waktu itu yang heran, kenapa saya tidak membalas  cinta Upik. Lagian pacar saya khan di Jakarta. Kalo selingkuh sama Upik khan ngga ketahuan. Tetapi saya berprinsip lain.

Memang sih, didalam  kenyataannya,  Upik mencoba jurus – jurusnya untuk melumpuhkan hati saya. Tetapi setiap kali  saya bisa mengatasinya, sehingga saya tidak jatuh dalam dosa perjinahan.

Teman  saya pemilik rumah kost, doyan sekali melihat film pornografi lewat internet dirumah. Film bokep, gambar – gambar bugil, sudah menjadi menu hiburan sehari – hari. Bahkan dikamarnya, nggak ada tembok yang terlewatkan  tanpa  gambar cewek – cewek telanjang. Otaknya memang porbo habis – habisan.

Pada suatu malam  kamar saya diketok, disuruh nonton live sex show  di internet. Jujur saja, saya juga beberapa kali ikut nonton, walo ngga sering sering amat. Waktu mata saya  memandang cewek bugil yang beraksi didepan kamera webcam tersebut, saya kaget.

Karena ada satu  tanda yang membuat saya jadi  mengernyitkan dahi. ( saat itu cewek bugil tersebut masih beraksi tanpa memperlihatkan wajahnya. Dan dia  hanya mempertontonkan payudaranya, dan meremas – remasnya ).

Cewek itu mempunyai kalung perak yang saya kenali betul.  Itu kalung perak buatan saya. Itu rancangan saya  satu – satunya. Dan ada tiga huruf yang menghiasinya. Saya memastikan tidak ada kembaran kalung seperti itu. Dan kalung buatan saya tersebut, telah saya hadiahkan ke pacar saya yang di Jakarta.

Saya langsung mencurigai cewek bugil didepan webcam itu pacar saya. Apalagi suara dan  ketawanya sama persis. Tidak lama kemudian saya keluar dari kamar. 

Disamping perasaan kecewa yang begitu berat, saya nggak sampai  hati nonton pacar saya beradegan seks. Pacar saya memang nggak pernah main ke rumah kost, sehingga teman saya ini tidak mengenalnya.

Saya kembali ke kamar dan menangis sejadi – jadinya. Apalagi saat itu dia tidak bisa dihubungi lewat telepon. Tidak kusangka, cewek yang kelihatannya alim  ternyata  bugil menjual tubuhnya. Waktu saya nangis,  bahkan teman saya masih mengetuk pintu dan bilang,

” Ngapain saja kamu dikamar sendiri. Lihat tuh cewek Indonesia lagi dihabisin sama pria bule. “

“Pria bule ? Pacar saya yang alim itu diganyang pria bule ? “Suara saya dalam hati didera rasa amarah dan kecewa. Saya tetap menangis didalam kamar.

Hari – hari berikutnya pikiran saya sangat kalut. Saya sudah beberapa kali menelepon dia ke Jakarta, tetapi ngga ada nada sambung. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menelepon lagi.

Lagi – lagi Upik nggak henti – hentinya mendekati saya. Bahkan dia menunjukkan sayang dan perhatian yang semakin istimewa. Akhirnya hati sayapun luluh lantak dihadapan Upik.  Dia menunjukkan sikap kedewasaannya, dan  memulihkan hati dan perasaan saya.

Lelaki manapun akan tergoda, kalau berdekat – dekatan terus dengan cewek cantik. Demikian halnya dengan saya. Tetapi saya tidak ingin berjinah sebelum menikah. Akhirnya kami sepakat nikah siri saja, dan rencananya setelah saya diwisuda melangsungkan pesta perkawinan.

Hari – hari bersama Upik,  saya nikmati seperti layaknya pengantin baru. Dan terus terang, Upik bukan saja wajah dan bodinya yang menawan, tetapi memahami benar masalah hubungan pria dan wanita. Sayapun merasa sebagai pria beruntung, dan masalah  Dian cepat terlupakan.

Beberapa minggu kemudian saya dan Upik mengantar kerabat dekat  ke stasion kereta api Yogyakarta. Sebelum kembali pulang, Upik pergi ke toilet.  Beberapa menit kemudian, saya dibuat kaget.

Seorang  memeluk saya dari belakang,  dengan dekapan yang amat erat.  Setelah saya membalikkan badan, astaga ! Ternyata dia Dian.

” Kok kebetulan banget sih kamu disini, ” Kalimatnya memulai. ” Sorry, lama banget nggak bisa nelpon kamu. Tasku dan seisinya kecopetan di Pasar Baru, ” Tambahnya.

Saya masih kaget melihat kedatangannya yang mendadak. Mulut saya hanya menyambut sapanya dengan pendek.  Saya berdiri memandanginya, tetapi dia berpikiran lain. Dia kira saya keheranan karena dia tidak mengenakan kalung perak pemberian saya. Dan dengan cepat dia bilang, 

” Oh, ya. Saudara kembarku  sedang meminjam  kalung pemberianmu. Katanya bagus banget, sih. “

Saya menjadi keheranan lagi. Karena selama ini dia tidak pernah bilang mempunyai saudara kembar. Tidak lama kemudian muncul Upik. Dia langsung marah habis – habisan. Rupanya sejak awal dia memandang dari kejauhan. Dia juga tau saat Dian memelukku dari belakang.

Upik marah pada saya juga pada Dian. Dan yang bikin saya terkejut, ternyata Upik dan Dian saling kenal. Pada awalnya mereka bertengkar mulut dalam bahasa Indonesia, tetapi kemudian dalam bahasa Padang. Karena Dian juga orang Padang.

Karena bahasanya dicampur – campur, sehingga saya juga bisa mengikuti garis besar yang diucapkan. Ternyata mereka sebelumnya berteman saat di Jakarta. Dian mengeluarkan kata – kata seperti perempuan nakal, cewek panggilan,  yang dilontarkan  kepada Upik.

Bahkan Dian juga menuduh Upik yang membuat saudara kembarnya menjadi cewek nakal. Dari situ akhirnya saya bisa membuat kesimpulan. Ternyata yang bugil dan melakukan adegan porno di webcam bukan Dian, tetapi saudara kembarnya. Dia tidak pernah menceritakan seputar saudaranya ini mungkin karena malu.

Pantas, suara dan tertawanya juga mirip sekali dengan Dian. Rupanya mereka saudara kembar. Dalam cekcok mulut didepan umum tersebut, Upik juga malu karena rahasia masa lalunya terbongkar didepan suaminya. Dia menangis dan ngelonyor pergi.

Dian juga sikapnya menjadi berubah dan marah kepada saya. Karena dia telah mendengar suara Upik, bahwa saya sudah menikah dengannya. Saya menjadi amat bersalah. Dian mau langsung kembali ke Jakarta, tetapi saya berhasil mengajaknya minum, untuk menjelaskan duduk persoalannya.

Dalam obrolan tersebut, kami berdua diderai air mata. Saya merasa amat bersalah, dan menyakiti hati Dian. Saya juga sempat menyinggung masalah gadis webcam yang membuat saya kecewa.

Dan Dian juga cepat tanggap, karena  itu memang saudara kembarnya. Dian memang sengaja merahasiakan perihal saudaranya itu. Apalagi disaat itu  saudaranya  juga  sedang kecanduan narkoba.

Setelah obrolan usai, Dian pergi ke Jakarta. Kitapun sudah tidak mengadakan kontak lagi hingga saat ini. Saya dan Upik tetap jalan bareng, walau mental dia sempat jatuh karena masa lalunya terbongkar.  Setelah saya diwisuda, saya cepat mendapatkan kerja, dan bisa melangsungkan pesta pernikahan.

Tetapi kadang didalam hati saya masih bersuara, ternyata istri saya ini sebelumnya pernah jadi cewek panggilan. Pernah menjual tubuhnya untuk memuaskan birahi para lelaki hidung belang.

Itulah yang membuat saya kecewa dan sedih.

Seandainya pembaca berposisi sebagai saya saat ini, apa sih kira – kira yang bisa dilakukan untuk mengatasi keresahan hati ini ?

Terima kasih untuk DD yang memuat tulisan ini.