Beberapa waktu yang lalu DD membaca artikel psikologi yang cukup unik.  Dari hasil penelitian, ternyata otak manusia paling cepat menghasilkan alasan untuk berbohong. Manusia paling cepat untuk berbohong dan mencari alasannya yang relevan, bahkan dalam situasi yang mendadak sekalipun.

DD senyum – sentum membaca artikel ini. Emang benar, kok. Untuk berbohong sepertinnya banyak improvisasi, dan seperti terlatih. Jika kita menerima tawaran diajak makan oleh orang lain,   kadangkala  kita dengan cepat menolaknya. Misalnya dengan alasan masih kenyang dan sebagainya. Padahal kenyataannya kita masih belum makan.

 Seorang  istri yang menuduh suaminya selingkuh setelah menemukan  bekas lipstik dibaju. Dan dengan cepat suaminya bilang,  kalo  sejawatnya  secara tidak sengaja terpeleset dan jatuh, dan dia berusaha menopangnya. Akibatnya  ada tempelan lipstik dibaju. Padahal kenyataanya berbeda.

 Untuk berbohong tidak dibutuhkan waktu !

DD jadi tergelitik untuk merenungkan, nih. Berapa detik  sih,  waktu yang diperlukan seseorang untuk tergerak menolong orang lain ?

DD sampai ” njelimet ” mengukur dalam jumlah detikan, karena  waktu adalah sangat berharga dan berarti. Bahkan dalam satu detikpun !

Pernah ada seorang pria yang tanpa pikir panjang menyambar seorang wanita yang berdiri didekat rel kereta api. Pria tersebut tidak membuang satu detikpun untuk berpikir, kenapa dia harus menyambar wanita tersebut.

Semua berlangsung dengan spontan dan begitu cepat. Karena  naluri pria tersebut melihat situasi yang membahayakan wanita tersebut. Setelah kereta api melaju dengan cepat, wanita ini masih terkaget – kaget, karena ada pria yang menyambarnya.

Ternyata wanita ini mengaku, bahwa dia sedang merencanakan bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri ke rel kereta api, disaat kereta api meluncur !

Tapi rencananya ternyata gagal total. Berkat sambaran pria yang begitu cepat, akhirnya nyawanya terselamatkan !

Coba kalo kita renungkan sekali lagi, apakah anda mau  menyambar seperti pria tadi ? 

Ngapain sih pake nyamber segala, iya kalo dia mau bunuh diri. Lha, kalo dia emang sedang nunggu kereta api, khan kita  bisa digampar  mentah – mentah, karena  nyamber cewek sembarangan. Bukan jasa yang diterima, tapi bogem massa yang menanti. 

DD ngga ceramah, lhoh. 

DD sendiri mengalami, kalo kadang otak kita terlalu lama menimbang – nimbang dalam mengambil keputusan. Bahkan keputusan untuk menolong sesama.

Selamat membaca surat curhat dari penulis dibawah ini :

Sesal Di Satu Siang

Roy Thaniago

Sebuah refleksi dangkal namun penting.

Terik sekali siang itu. Dan sialnya, aku lupa tanggalnya. Matahari agaknya mulai marah, dan meneriakkan kata panas ke atas tanah pertiwi yang semakin egois. Berjalan agak lambat ia kearah barat, sembari mengepalkan tinjunya yang sebenarnya bijak.

Tapi tampaknya ia berjalan agak  cepat, atau mungkin ia sepertinya akan bergerak cepat dan berlari. Bahkan ia tidak memperdulikan 2 orang kakak beradik kegerahan yang mengelap kaca mobil, dan menengadahkan tangan diujung lampu merah. Ya, benar. Ia berlari. Mungkin mengejar setoran pikiranku.

Seperti biasa, dengan seragam putih abu – abu aku berjalan tertunduk lesu sepanjang jalan, menuju terminal bis. Tanpa menunggu lagi, aku melihat bis yang biasa tiap hari aku tumpangi. Tampaknya bis itu menungguiku lagi.

Aku langsung bergegas menuju tempat favoritku dipojok belakang, tapi tampaknya sudah ditempati orang. Ya sudah, aku tempati saja kursi tengah bersebelahan dengan seseorang. Hari ini mungkin bis cukup ramai, karena semua kursi sudah ditempati.

Ditengah perjalanan, naiklah seorang kakek. Kurasa dia kesulitan, sewaktu menaiki tangga bis yang cukup tinggi untuknya. Dia berjalan kebelakang mencari kursi, tapi tidak ada yang kosong. Tak pelak lagi, tulang terbungkusnya itu menggelantung begitu saja. Yang kuingat, hanya uratnya yang melingkari tiap jangkal daging alotnya.

Tak kusadari, aku menatapnya, dan mulai ku menatap tiap penumpang yang santai saja duduk dikursinya. Mungkin sudah bayar, pikir mereka. Bahkan seorang pemuda yang berdandan borjuis itu tetap asyik dengan kursinya, sambil mendekap tas kuliahnya, mungkin.

Tak satupun yang memberikan tempat duduk, untuk  kakek tua itu. Kemana mereka semua berpikir ? Tak ada satu orangkah yang mau berbaik hati ? Mungkin aku satu bis  bukan dengan manusia. Aku mulai menatap diriku sendiri. Ingin kuberanjak dan memberikan tempat dudukku padanya. Tapi rasanya sulit saling menggerakkan bibirku, terlebih tubuhku.

Dan pikiran ini terus berkecamuk antara iya dan tidak. Nampaknya aku mulai gelisah, dan butir – butir keringatku semakin deras mengguyur tengkuk dan punggungku. Aku akhirnya mengakhiri pertarungan batinku, dengan berkata YA.

Dan ketika aku menoleh, kakek itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah turun. Entah, memang sudah sampai ketujuannya, atau tak kuat lagi bergelantungan.

Aku lega, tapi dengan terus memaki diri sendiri. Dan pikiran itu menjadi sering menggema akhir – akhir ini dari kolong tempat tidurku. Teruslah bertarung batin, maáfkan aku menulis ini : ” Sesal Di Satu Siang. “

************