Saat DD duduk dibangku kereta api jurusan Amsterdam, mata menjadi terbelalak memandang sebuah judul artikel sebuah tabloit gratis De Pers,  yang berjudul ” Kemarahan Akibat  Parkiran Mobil Euthanasia. ”

euthanasia.jpg

Berita yang termuat tanggal 28 November 2007 itu, tak urung  membuat DD buru – buru membacanya. Ternyata berita yang memuat thema serius plus sensitif tersebut, masih diembel – embeli dengan sindiran yang berkonotasi sarkatis. Yang bunyinya begini :

” Tampaknya negara Swiss bukan saja mengekspor keju,  cokelat dan arloji, namun juga masih akan ditambah wisata kematian sebagai produk yang bisa dijual keluar. “

Wisata kematian ? Iya. Ato katakanlah the suicide tourist. 

Bagi siapa saja yang menderita sakit keras, kecacatan yang amat parah, dan penderita penyakit yang tidak tersembuhkan oleh dunia medis, boleh liburan ke Swiss.

Karena yang bersangkutan setelah mengikuti program ini, tidak akan pulang sembuh, lhoh. Tetapi pulang namanya saja. Karena badannya akan didandani rapi dan ditidurkan  dipeti mayat  yang sudah disediakan.

Inilah salah satu point heboh yang menyulut kemarahan masyarakat disekitar gedung penyelenggara bantuan kematian di negara Swiss, dan menjadikan bahan diskusi besar dibanyak negara.

Karena masyarakat yang berada disekitar gedung tersebut menjadi gerah, melihat banyaknya mobil yang mengantarkan orang – orang sakit yang duduk dikursi roda, dan keluar  menjadi mayat dipeti mati.

kist.jpg

Agar DD ngga keplicuk dalam mempresentasikan berita, lebih baik DD menterjemahkan berita aslinya dulu. Berita lengkapnya adalah sebagai berikut :

Organisasi Dignitas dari negara Swiss memberikan bantuan mengakhiri hidup bagi penderita yang penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Bahkan organisasi Dignitas sudah mebuka cabangnya di negara Jerman, walau dinegara tersebut jelas – jelas tindakan ini dilarang.

Hingga kini kalangan politisi di negara Jerman menyerukan penolakan dan dan pelarangan  terhadap adanya organisasi Dignitas ini.( Dignitas merupakan serapan dari bahasa Yunani yang dalam bahasa Belanda disebut waardig. Dalam bahasa Indonesia lebih tepat diartikan pantas dihormati atau dihargai )

Di negara Jerman dan Swiss muncul  berita heboh, berkaitan dengan adanya fenomena parker mobil  euthanasia. Yang juga terjadi atas dua warga negara Jerman, yang dilakukukan dikota Zurich akhir bulan Oktober tahun ini.

( DD  mencari sumber terkait di di http://www.nvve.nl   ternyata  pernah ada wanita Jerman yang mengikuti program ini dengan memalsuka dokumen. Wanita tersebut ternyata  tidak mempunyai penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Wanita tersebut menggunakan dokumen palsu, agar bisa mendapatkan bantuan untuk mengakhiri hidupnya. )

Dua pria Jerman yang berusia 50 tahun dan 65 tahun mengendarahi mobil sewaan yang ditujukan untuk orang – orang cacat, menuju negara Swiss. Disana mereka akan meminta organisasi Dignitas untuk mengakhiri hidupnya. Di Jerman tindakan seperti ini dilarang, tetapi dinegara Swiss sudah menjadi hal yang biasa.

Belum lama ini organisasi Dignitas  juga telah memberikan pertolongan untuk mengakhiri hidup (  hulp bij zelfdoding ) seorang warga kota Zurich, yang sudah dinyatakan tidak bisa disembuhkan penyakitnya.

Warga penghuni apartement disekitarnya menjadi resah, melihat banyaknya mobil yang berdatangan dengan membawa penderita dikursi roda, dan keluar dibopong dalam peti mayat.

Masyarakat Zurich sedang berupaya lewat prosedur pemerintah, melarang sikap organisasi Dignitas yang juga mempromosikan pelayanan ini di rumah – rumah dan  di perusahaan. Karena itu, mereka mengharapkan organisasi Dignitas keluar dari area pemukiman tersebut.

Pihak kritisi juga menilai, bahwa organisasi Dignitas melakukan kegiatan ini berdasarkan  faktor komersial belaka, dan bukan sepenuhnya mercy killing ( membunuh karena belas kasihan ).

Pihak Dignitas menolak mentah – mentah pendapat ini. karena menjadi keanggotaan Dignita, hanya dikenakan uang sebesar 16 euro  setiap bulannya.  Sementara keseluruhan paket pertolongan mengakhiri nyawa ini  berkisar hingga 5.500 euro. ( 1 Euro = 1,20 Dollar Amerika )

Setiap tahunnya Dignitas menyelenggarakan bantuan ini bagi ratusan penderita, yang kebanyakan berasal dari Swiss, Jerman, Perancis dan Inggris. Tidak hanya di Swiss berita ini menjadi heboh, juga  terjadi di negara  Jerman.

Hal ini dikarenakan karena organisasi Dignitas jga sudah mendirikan cabangnya di kota Hannover, kota yang terletak di jerman bagian utara. Beberapa hari yang lalu organisasi ini  sudah mengumumkan, bahwa awal tahun 2008 pihaknya sudah bisa melayani penderita yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi penyakitnya, yang menginginkan kematian.

                                                          **********************

Sesuai dengan berita diatas, DD juga menemukan  sumber yang yang menuliskan tentang profil  penderita anggota  organisasi Dignitas.  Anggota yang sangat terkenal dan menjadi bahan pembicaraan adalah Noel Martin.  Ahli bangunan asal Inggris yang berdarah Jamaica.

Noel Martin adalah pria lumpuh yang duduk dikursi roda, yang  hidupnya tergantung pada tangan perawat yang  mengurusnya. Pria yang berusia 48 tahun tersebut,  pada tahun 1996 menangani pekerjaan di Jerman.

Dia diejek  dan dicemoóh oleh anggota neonazi, dan terlibat perkelaian.  Hal ini terjadi dikota Mahlow, Jerman bagian Timur. Akibat kasus tersebut, dia menjadi lumpuh. Dua orang yang menghajarnya  diganjar  5 tahun dan 8 tahun penjara, dan sekarang sudah bebas menghirup udara segar.

Sementara Noel Martin hidupnya semakin terpuruk, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, lewat bantuan organisasi Dignitas, yang rencananya dilakukan akhir tahun ini.

Kisah hidup Noel Martin begitu menyentuh, DD mencomot cerita ini dari  Berita Online  BN Destem yang beralamat di  http://www.bndestem.nl    yang berjudul :

NOEL MARTIN : AKU PUNYA JANJI DENGAN TUHAN

195936-1.jpg

 

” Membuat saya begitu frustasi, karena  hidup saya menjadi begitu tergantung pada orang lain, ” Ucapnya disaat wawancarai, setelah dia dibantu menyelipkan rokok dimulutnya.

Noel Martin mempunyai banyak alasan  atas kegelisahannya. karena hidupnya tak lepas dari tembok persegi empat dikamarnya. Yang hanya terdiri dari kamar kecil, tempat tidur, dan dua kursi bagi pengunjungnya.

Hari – harinya diisi dengan memberikan interviews dan mengurus keuangannya. Dia terpaksa tinggal dikamar kecil ini, karena sudah tidak memungkinkan untuk hidup secara mandiri lagi. Karena mati rasa dan penyakit lumpuhnya, dia juga mengalami infeksi hebat yang sukar dipulihkan lagi.

Rumahnya yang amat mewah  di kota Birmingham ( Inggris ) sudah dijual, dan keuangannya banyak diberikan untuk lembaga – lembaga yang bergerak dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Bukan itu saja, juga seluruh uang tabungannya.

Dia juga mendirikan organisasi kemanusiaan, yang memberikan pertolongan buat orang – orang yang tidak mampu dinegara Jamaica.

Noel Martin sudah mempunyai janji  dengan organisasi Dignitas kota Zurich ( Zwiss ) untuk mengakhiri hidupnya. Sebenarnya hal ini sudah terjadi pada tanggal 23 Juli yang lalu, tetapi karena alasan tertentu akhirnya ditunda.

“Sebenarnya sih saya ingin meninggal setelah merayakan ultah saya yang ke-48. Dengan cara minum cocktail yang dicampur obat untuk melepaskan  rasa sakit saya. Tetapi akhirnya ditunda, karena urusan saya dengan notaris masih belum selesai, ”  Jelasnya.

Eutanasia di negara Inggris adalah dilarang. Karena Noel  Martin tidak bisa mengakhiri hidupnya sendiri, maka mintalah dia bantuan keluar negeri.

Dia juga tidak mau meminta bantuan teman atau familinya, agar mereka tidak  berurusan dengan pihak kepolisian. Keinginannya untuk mati sudah bulat, dan bukan sekedar  cara untuk menarik perhatian belaka.

” Keputusan saya sudah bulat. Hal ini sudah  muncul bertahun – tahun yang lalu, setelah saya  menjadi lumpuh, akibat  penganiayaan yang  saya  terima, ” Jelasnya lagi.

” Saat itu saya tinggal untuk sementara di Jerman, karena mendapatkan tugas disana. Saya mempunyai perusahaan, dan sering bekerja diluar negeri. Pada tanggal 16 Juni, saya mengendarai mobil dengan sejawat saya.

Kami bertemu dengan segerombolan pemuda neonazi yang usianya sekitar 24-an. Kami diejek dan dicemoóh. Sebenarnya sih hal ini sudah saya anggab biasa. Karena saya juga sering mengalami sikap rasisme seperti ini.

Ternyata tidak berhenti sampai cemoóhan saja. Mereka beramai – ramai mengambil batu dan menghajar kami berdua yang berada dalam mobil.  Saya mengendarai mobil dalam keadaan oleng, dan menabrak pohon besar.  Ketika saya bangun dari coma, ternyata saya sudah mengalami mati rasa dikamar rumah sakit, ” Kata Noel martin menceritakan kisahnya.

” Para pelaku sudah dijebloskan kedalam pencara, dan mereka sekarang sudah bebas. Sementara saya terpenjara didalam tubuh saya sendiri. Saya ada, tetapi tidak hidup. Saya tidak bisa merasakan apa – apa, dan saya tidak bisa menyentuh dunia lagi, ”  Ucapnya dengan  kalimat – kalimat yang menyentuh.

” Saya merindukan istri saya yang saya cintai. Dia meninggal tahun 2000 akibat  kanker lambung dan didera stress. Sebelumnya dia merupakan wanita yang bugar dan penjual bursa saham yang sukses. Karena saya  lumpuh, akhirnya dia berhenti bekerja, dan hanya merawat saya, ” Jelasnya lagi.

Noel Martin  boleh saja lumpuh, tetapi dia juga selalu menyempatkan mengikuti acara – acara kemanusiaan seperti  demontrasi  dan kampanye anti racisme.  Bahkan dia juga pernah mengundang kalangan Neonazi untuk merayakan pesta natal bersama keluarganya.

Buku yang ditulisnya sudah diluncurkan di Jerman  dan di Inggris. Bahkan ada rencana untuk dipublikasikan dinegara – negara lain. Pada saat peluncuran bukunya, dia tidak bisa hadir, dan diwakili oleh anak kandungnya. ( Noel Martin mempunyai lima orang  anak, yang tersebar di Inggris dan Amerika ).

 

 

***********************