Maáf kalo akhir – akhir ini DD nggak bisa lama – lama didepan komputer. Ada hal -hal lain yang juga menyita dan membutuhkan perhatian DD.  Oke, akhirnya kali ini bisa nulis lagi dan  mempublikasikan surat curhat.

Ehm, salah satu buku yang DD gemari, yang  cocok bagi pasangan muda yang sudah berkeluarga dan memiliki anak seperti DD ini, adalah buku yang berjudul “MAN “( pria ). Buku  unik nan kreatip berbahasa Belanda yang ditulis oleh  Michael van Eekeren ini. Buku ini membahas tentang cinta, nafsu,  perselingkuhan dan segala pernak perniknya.

Lho, apa uniknya seh buku ini ?

Yang bikin buku ini menjadi unik menurut DD, karena Michael menggambarkan tentang hausnya seorang pria akan seks. Sehingga diumpamakan seperti seorang suami yang benar – benar kelaparan akan seks, ibaratnya sudah 288 hari tanpa seks.

Oeps, 288 hari tanpa seks ? Bisa dibayangin hausnya.

Michael van Eekeren mengajak merenungkan kehidupan suami istri, yang suatu saat  kebutuhan seks ini seperti terkesampingkan, setelah seorang istri melahirkan dan disibukkan dengan  merawat anak kecil.

Istri yang sebelumnya selalu kelihatan cantik berseri dengan baju yang aduhai, adakalanya kelihatan  awut – awutan dengan popok bayi. Dia yang biasanya bikin jantung berdetak dengan bau parfumnya, eh tercium  pesing dengan si kecil yang sedang mencret.

Istri yang buah dadanya menggiurkan seperti buah apel yang ranum, eh malah keliatan  menggelantung diisep – isep bayinya. Bapaknya dicuekin ( ngiri nih , yee  ).

Pasangan suami istri yang sudah memiliki anak kecil akan terjerat betapa membagi peran dan tugas dalam proses ini tidak gampang. Organ – organ erotis seorang istri pada periode inilah, harus disadari sebagai organ yang fisiologisnya sebagai bagian dari organ reproduksi. 

Dalam buku “MAN ” seorang suami mengeluh karena istrinya sudah tidak seseksi dulu lagi. Untuk urusan ML-pun sudah nggak selalu siap sedia, karena ada si kecil. Dan seorang istri yang fungsinya seperti sampoo kemasan two in one, kadang sulit melakukan  pembalikan peran, antara sebagai istri dan sebagai seorang ibu. Istri  sebagai teman bercinta, dan sebagai ibu yang berperan merawat anak.

Apa buntutnya, kalau seorang suami ngga puas dengan kebutuhan seks di rumah ?

Seperti kebanyakan kasus yang muncul ke permukaan. Seorang suami biasanya suka nyari jajanan diluar. Bukan lemper atau pisang goreng, lhoh ? Tapi cewek – cewek cantik yang menjajakan jajanan yang bernama “kue” vagina.(  DD ini gebleg, deh.)

Menjaga keseimbangan dalam sebuah keluarga dalam pasangan suami istri yang sudah memiliki anak adalah sangat amat penting.  Menjalankan peran dan fungsi sebagai seorang istri dan suami sangat diperlukan.

Komunikasi, komunikasi dan komunikasi. Salah satu pilar yang tidak boleh terlupakan. Dan melibatkan orang terpercaya atau petugas profesional , jika terbentur permasalahan yang sudah tidak bisa dipecahkan bersama.

Eit, DD jadi kepanjangan  berceloteh. Mendingan kita baca – bareng – bareng kasus yang dialami penulis dibawah ini.

Silahkan berbagi sumbang dan saran !

 Arianti – Cianjur

_44074980_girl_jupiter203.jpg

DD yang baik,

Saya mau ikutan nulis curhat. Mudah – mudahan para pembaca yang  lebih berpengalaman, berkenan berbagi sumbang dan saran.

>Sebut saja nama saya Arianti. Umur saya 24 tahun dan memiliki seorang anak kecil yang berusia 1 tahun. Saya menikah dengan seorang pria yang saya cintai, yang usianya 4 tahun lebih tua. Sebut saja namanya  Arif.

Kami berdua mempunyai anak kecil yang mungil dan sehat. Suami saya kurang melibatkan diri pada perawatan anak. Saya juga menyadari, karena suami saya bekerja sebagai pencari nafkah keluarga. Sehingga waktunya tidak tersisa banyak.

Sedangkan saya adalah seorang istri yang berperan sebagai seorang ibu rumah tangga. Sebelumnya saya juga mempunyai pekerjaan, tetapi saya tinggalkan. Saya lebih senang bisa mengabdikan diri pada suami dan pertumbuhan anak saya.

Mungkin kelak, kalau anak saya sudah memungkinkan, saya akan bekerja lagi. Sebenarnya faktor yang membuat saya bersedih, adalah karena suami saya sepertinya nggak bergairah lagi sama saya.

Sebagai seorang istri, saya sudah mengusahakan diri agar tetap tampil menarik dan menyenangkan buat suami tercinta. Memperhatikan kesehatan, perawatan, cara berpakaian, cara merias diri, hingga yang sekecil – kecilnya.

Tetapi tetap saja suami saya cuek. Bahkan sejak melahirkan, saya cuma melakukan hubungan seks 2 kali. Setelah itu suami saya enggan berhubungan seks lagi dengan saya. Bahkan dia cenderung lebih suka nonton film biru.

Pernah sih saya tanya alasannya, dia bilang istri yang sudah pernah melahirkan itu sudah tidak enak lagi. Sudah nggak seret seperti waktu pengantin baru.  Pelayanan diatas ranjang juga sudah berkurang. Suara tangisan – tangisan bayi membuat libido jadi menurun.

Katanya saya sudah tidak “sepanas” dulu jika melayani suami di ranjang. Ah, perasaan saya nggak ada yang berubah, kok. Cuma biasanya saya tidak bisa kosentrasi penuh kalau anak saya lagi sakit, atau tidurnya tidak pulas.

Pernah saya mengkonsultasikan hal ini pada dokter. Saya juga diberikan penjelasan seputar perubahan yang terjadi pada organ vital setelah melahirkan. Saya juga diberikan penjelasan tentang banyak hal.

Kesimpulan yang saya dapat waktu itu, adalah melakukan komunikasi yang lebih baik dengan suami. Melihat apakah suami mengalami stress yang berlebihan ditempat kerja, atau suasana rumah yang perlu dievaluasi ulang.

Kadang saya  melamun dan membayangkan, betapa nikmatnya melakukan hubungan intim seperti dulu lagi. Apalagi sekarang kami berdua sudah dikharuniai seorang anak kecil sebagai mahkota cinta bersama.

Diam – diam saya juga sering melakukan pemuasan diri dengan cara  “M ” karena saya capek merengek – rengek kepada suami.

Apakah pembaca mempunyai tips berkomunikasi yang baik dengan suami ? Apakah ada faktor – faktor lain yang tidak saya lihat,  sehingga hubungan intim ini menjadi kurang harmonis ? Mohon sumbang sarannya.

**************