Perkawinan merupakan tahapan periode yang sangat penting bagi setiap insan. Bahkan tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa perkawinan merupakan hari yang sangat istimewa dan terindah didalam hidup. DD juga merasakan demikian.

Berbagai polemik tentang usia perkawinan yang idealpun bermacam – macam. Ini tentunya ditekankan, agar pasangan pengantin kelak merupakan pasangan yang matang, dan  siap menjalankan peran dan tugasnya sebagai suami istri.

Lepas dari usia perkawinan yang ideal, ternyata istilah “perkawinan usia muda ” tetap lekat. Baik yang merupakan kejadian tak terduga, atau memang sudah direncanakan dengan  pertimbangan tertentu.

Beberapa hari sebelum akhir tahun 2007 koran De Telegraaf sempat memuat berita kecil, yang cukup mengundang banyak reaksi.  Bahkan DD juga ikut menulis surat reaksi didalamnya.

DD rasa ini merupakan berita yang banyak mendapatkan reaksi ( lebih dari 500-an ). Berita ini menceritakan tentang perkawinan antara pria Afganistan yang berusia 40 tahun dengan gadis yang masih berusia 11 tahun, yang diambil oleh  wartawan asal Amerika.

Foto yang diambil saat perkawinan yang terjadi tahun 2005 tersebut, meraih gelar foto terbaik tahun 2007 yang  diselengaarakan  oleh pihak UNESCO. Apakah ini bukan merupakan sindiran ?

Disana – sini masih ditemukan perkawinan usia muda, bahkan yang dipaksakan bahkan digolongkan tidak legal. 

Lepas dari semuanya, perkawinan usia muda tetap kompleks. Marilah kita baca surat dibawah ini dan memberikan sumbang saran.

Dewi Ningrum

Pernahkah teman – teman membayangkan,  pada usia  20 tahun sudah harus mengurus rumah tangga?

Saya mengalaminya saat ini. Saya lahir ditahun 1987 sehingga pada tahun 2007 ( sudah lewat ),  usia saya memasuki 20 tahun. Namun saya sudah menjadi ibu rumah tangga. Tinggal nun jauh dari kota, memasak setiap pagi, mencuci pakaian, menyeterika, membersihkan rumah, dan sebagainya.

Saya menikah dua tahun yang lalu, pada saat saya masih duduk dibangku kuliah. Suami sayapun masih kuliah, namun sedikit – sedikit ada pekerjaan sambilan. Selama saya masih kuliah, kami tinggal tidak satu atap, walau letak kampus kami amat berjauhan. Kami kos sendiri – sendiri, yang semuanya berjalan dan terasa indah. Setiap malam minggu atau saat ada waktu luang, suami akan menginap ditempat kos saya.

Saya menjalani semua dengan perasaan nyaman. Saya tidak takut memeluk erat suami saya saat membonceng diatas motor, karena sudah menikah. Kami boleh memeluk,  mencium,   dan sebagainya tanpa ada perasaan takut akan larangan Tuhan, karena kami sudah menikah. Jalan – jalan, berkeluh kesah tentang banyaknya tugas kuliah, dan sebagainya.

Sampai kemudian menjelang lulus, semester 6, saya menyadari kalau saya ternyata hamil. Saya baru saja diwisuda bulan september yang lalu. Saat itu usia kehamilan saya sudah 5 bulan.

Setelah diwisuda, timbul beberapa masalah. Orang tua menuntut suami agar segera menyelesaikan kuliahnya, karena sudah tertunda 2 tahun ( suami saya angkatan tahun 2000 ). Suami saya juga dilarang bekerja, karena dianggap mengganggu kuliah.

 Akhirnya suami saya berhenti bekerja, dan memutuskan untuk  kuliah secara total. Otomatis saya tidak ada pemasukan uang sama sekali. Karena orang tua saya juga sudah melepas saya  saat masih duduk dibangku kuliah.

Sebenarnya saya disuruh tinggal bersama mertua, sementara menunggu kelahiran bayi saya. Dirumah mertua saya tinggal makan dan tidur. Karena ada pembantu yang membantu menyelesaikan segala keperluan rumah.

Tetapi saya tidak mau. Bukannya tidak suka tinggal dirumah mertua, lhoh. Saya hanya berusaha mandiri dan mempunyai kebebasan. Tentunya kebebasan dalam arti positip. Di rumah mertua, bisa diibaratkan hidup didalam sangkar emas. Karena semua fasilitas ada, namun saya tidak bebas pergi kesana dan kemari.

Karena itu, saya lebih memilih ikut suami saya kembali ke Yogyakarta, dengan konsekwensi yang tidak mudah.

Orang tua suami mengirim uang untuk suami saya sama seperti saat masih  belum menikah dulu ( 700 ribu ). Sedangkan untuk saya diberi 300 ribu. Bukan hal yang mudah bagi kami berdua untuk menggunakan uang tersebut selama satu bulan.

Akhirnya kami memilih kontrak rumah yang yang jauh dari kota. Harganya jauh lebih murah, daripada kontrak didaerah kota atau daerah kampus. Saya harus memutar otak, bagaimana dengan satu juta ditangan, kami bisa bertahan selama satu bulan. Makan, bensin, sabun dan sebagainya.

Mulailah saya memainkan peran sebagai ibu rumah tangga. Pagi – pagi saya ke pasar, memasak, mencuci, bersih – bersih rumah. Sore saya menyeterika pakaian. Saya tidak bisa seboros dulu, tidak jajan atau jalan – jalan seenaknya.

Saya tidak bisa semaunya pergi ke Malioboro, belanja, mencucikan pakaian di laundry, jajan dan sebagainya. Saya harus memenejemen keuangan saya dan suami.

Yang lebih parah, saya mengalami kekurangan kalsium, sehingga tangan saya terasa nyeri pada pergelangan tangan, dan sulit untuk menggenggam. Akibatnya, saya selalu kesakitan saat beraktifitas. Belum lagi usia kehamilan saya yang semakin tua, membuat saya selalu pegal – pegal.

Kadang saya merasa iri kepada teman – teman, yang hampir seluruhnya sudah bekerja. Saya kadang berpikir anak yang sebentar lagi saya lahirkan, dan akan membuat saya repot , dan menghilangkan kebebasan saya.

Saya kadang merasa benci, saat mengetahui teman – teman saya yang diterima sebagai PNS, bekerja ditempat yang baik, dan sebagainya.

Kuakui, kadang saya putus asa dan jenuh. Kadang saya membenci suami saya, dan berpikir  bahwa dia telah membuat saya tidak bahagia. Kadang saya ingin pergi saja, meninggalkan semua lembar yang membuat saya tersiksa, dan memulai kehidupan baru, dimana tidak seorangpun mengenal saya.

Namun saya berusaha menikmati semuanya, dan percaya  satu saat semua akan menjadi lebih baik. Saya menikmati dan mengatur menu makan sehari – hari, satu dua kali ikut suami saya ke kampusnya, sekedar untuk menghilangkan kejenuhan. Kadang juga menyempatkan satu dua kali, mengunjungi teman kuliah saya yang berada di Yogyakarta.

Saya ingin menjadikan semuanya indah. Maka saya tetap tertawa bahagia bersama suami saya, meskipun setumnpuk tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga menguras energi saya. Saya mencintai suami saya, dan berharap ia cepat lulus sehingga bisa bekerja, untuk saya dan anak saya. Saya juga berharap setelah melahirkan, saya bisa bekerja.

Saya tidak menyesal dengan menikah muda. Saya juga tidak menyesal dengan semua ini. Saya bahagia , dan ingin menikmati semuanya.Biarlah sekarang bersusah – susah, Namun suatu saat  saya yakin semuanya akan berubah.

 ************