Bagi kebanyakan orang, aku bisa dibilang wanita spontan dan type  ekstrovert,  yang mudah gaul dalam lingkungan apapun.

Tapi ada satu hal yang membuatku selalu rendah diri, walo  hal ini memang tidak selalu nampak.

Yaitu menerima kenyataan, bahwa ibuku adalah mantan pelacur. Walo ibuku awalnya merahasiakan hal ini, tetapi akhirnya aku mengetahuinya juga.

Aku memergoinya, bagaimana ibuku keluar dari resto China dikawasan jalan Basuki Rahmad Surabaya dengan seorang pejabat.

Setelah aku minta penjelasannya, ternyata ibuku mengakuinya. Ya, dia memang menjadi pelacur ! Hal inipun diungkapkannya dengan meneteskan air mata. Akupun menangis, dan memeluknya erat – erat.

Aku sebenarnya tidak ingin ibuku melakukan hal ini, tetapi ibuku yang memilih jalan ini sendiri. Sebagai seorang wanita yang  cerai karena ditinggal selingkuh suami, sebenarnya perekonomian kita tidaklah jelek – jelek amat.

Memang ibuku tidak bisa dibilang pelacur yang seperti kebanyakan pelacur. Karena ibuku hanya melakukan hal ini beberapa kali saja, jika keadaan ekonomi sedang menurun. Karena wajah dan body-nya yang memang cantik, makanya ibuku laku untuk menggaet lelaki berduit.

Bahkan keuangan ibuku ini yang menopang kebutuhanku sewaktu masih kuliah di  Belgia. Ibuku memberikan yang terbaik untukku, walo harus mengorbankan harga dirinya untuk memuaskan pria hidung belang.

Hal negatif yang begitu berpengaruh dalam hidupku, adalah  adanya kesukarnya  untuk mempercayai lelaki. Aku menjadi kawatir, jika suamiku  terjebak  kebiasaan mencicipi tubuh cewek panggilan. Tidak heran setelah menikah ( suamiku orang asing ), aku menjadi seperti wanita yang  lebih berorientasi ke masalah seks.

Didalam pikiranku, bahwa sekslah satu – satunya yang membuat seorang suami menjadi betah dengan istrinya. Hanya sekslah sebuah tali pengikat perkawinan yang kuat. Walo aku sendiri menyadiri, hal ini tidaklah selalu  benar.

Suamiku sendiri tidak pernah aku ceritakan secara terus terang tentang perasaan yang mengganjalku ini. Dia hanya membaca sekilas, seolah aku type cewek yang  memang doyan seks. Dan ini juga yang membuatnya semakin  lengket.

Aku memang berusaha memberikan yang terbaik dalam hal yang satu ini. Kuberikan hal – hal yang menarik, dan selalu mengejutkan, sehingga setiap kali bercinta selalu ada hal yang baru.

Dan biasanya  ketika aku bangun setelah melewati malam yang ‘menakjubkan’ seperti itu, mataku dikejutkan dengan ‘roti sandwich’ dan segelas ‘jus apel’ yang tertata di meja, yang bersanding dengan setangkai bunga mawar yang dipetiknya dikebun.

Tidak lupa ada coretannya diatas kertas yang berbunyi,

” Terima kasih atas malam yang indah. Aku sangat mencintaimu, sayang. “

Sebuah kalimat  kesayangannya,  yang dia tulis dalam bahasa Indonesia.  Bagaimanapun juga, hal seperti ini membuatku terharu dan begitu bahagia. Walo dia banyak berbeda dalam hal dengan diriku, dia  termasuk type suami yang  bisa menempatkan diri sebagai ‘supportive partner.”

Kita banyak belajar satu sama lain , dan saling mendukung.  Adanya  latar belakang budaya yang berbeda,  suamiku selalu bilang,

” It’s an endless conversation to talk about the differences between us, and it only creates useless argumentations. We must look ahead.

Think of what we have in common, of what we share, and we appreciate and respect each other.That’s our strenght to overcome any obstacle. “

Beberapa  hari yang lalu, kita menghabiskan malam mingguan di Paris.

Mengenang kembali saat – saat kita bertemu pertama kali.  Menikmati keindahan menara Eiffel yang berdiri di Champ de Mars ditepi sungai Seine.

Menara setinggi 325 meter tersebut seolah menjadi saksi  cinta kita berdua.

Kita juga bernostalgia menyusuri keindahan jalan – jalan yang kita lalui waktu itu.

Boulevard Haussmann, Rue de Rivoli, Avenue Montaigne dan Rue du Faubourg – saint Honore. Yang selalu marak dipadati kaum wisatawan yang berlalu lalang.

Di kota Paris yang merupakan salah satu kota terindah didunia tersebut, tiba – tiba hatiku  disapa oleh ibuku. Sapaán kangen dari seorang ibu yang merindukan anaknya. Tiba – tiba air mataku mengalir. Aku mengingat kunjungan ke Indonesia tahun lalu dengan suamiku.

Saat itu ibuku terbaring sakit keras, karena menderita sakit kanker rahim yang sudah berstadium lanjut. Dengan tubuh yang lunglai, dan hidung yang dibantu oleh slang oksigen, ibuku masih sanggup berbicara dengan suara yang lemah sekali.

Kata – katanya yang lemah terdengar, namun begitu terasa dihatiku.

” Kamu adalah anakku yang kusayangi.  Aku bangga diberi kesempatan Tuhan untuk membesarkanmu. Pergunakan hidupmu dengan baik, dan jangan pernah  melupakan sembahyang, ”  Suaranya  lemah terdengar, dan setelah itu  ibuku tidak sanggup mengeluarkan kata – kata lagi.

Aku berdoá disampingnya berdampingan dengan suamiku, denga suara isak tangis. Aku tidak sanggup menahan tangis menghadapi suasana seperti itu. Hatiku  pedih dan terasa seperti  teriris – iris, sambil menggenggm erat tangannya.

Dan tiba – tiba monitor yang  memperlihatkan denyut jantungnya menjadi lambat, dan lemah. Dan beberapa detik kemudian berhenti.  Ibuku menutup mata selamanya dengan wajah yang tenang. Aku kemudian memeluknya dan menciumnya, mengiring perpisahan terakhir ini.

“Hi, honey, ” Lamunanku tiba – tiba terpotong,  karena melihat suamiku datang,  setelah  menghampiri  petugas hotel. Dia langsung menggandengku lagi menuju kamar hotel.

Keinginanku untuk memberikan cucu,  sebelum ibuku meninggal ternyata  tidak berhasil. Padahal dia sebelumnya sudah ingin sekali  aku menikah dan memiliki momongan. Tapi rencana Yang Maha Kuasa berkehendak lain.

Dan apakah dengan sapaán ibuku di Paris ini memberikan pertanda, bahwa aku  hendak dianugerahi buah hati ? 

Semoga Tuhan mengabulkan. Amien. (  Dikirim oleh Sandra – Belgia )