( Titin – Jakarta ) Saya senang bisa curhat dirubrik ini. Semoga coretan saya ini bisa ditanggapi teman – teman yang mungkin bisa merasakan  posisi seperti  saya.

Sebelumnya saya ngasih sedikit info tentang diri saya.  Kecuali nama, semua data yang saya cantumkan benar adanya.

Panggil saya, Titin. Umur saya sudah 34 tahun, dan berprofesi sebagai pagawai administrasi di sekolah swasta di Jakarta. Saya sudah menikah dengan  Mas Bimo ( samaran ) selama 9 tahun. Suami saya orang Jakarta asli, yang  usianya  sebaya dengan saya. Kami dikaruniai  seorang putri yang kini menginjak  usia 7 tahun.

Saya tinggal di Jakarta sudah 9 tahun, karena diboyong oleh suami. Sebelumnya saya tingggal dan bekerja di Solo. Hingga saat ini keluarga saya masih berada di Solo. Karena kesibukan, saya juga tidak bisa  sering mengunjungi orang tua dan famili saya di Solo. Paling tidak sekitar 2 kali dalam setahun.  Tetapi biasanya suami saya nggak ngikut. Dia  pasti punya alasan,  agar dia nggak usah ikut nyambangi mertua.

Keluarga saya juga agak kurang enak,  kalau  mau main – main ke rumah saya di Jakarta. Karena suami saya menunjukkan muka acuh. Dia juga bicaranya pendek dengan famili saya,  seperti orang  nggak bergairah ngobrol. Padahal, suami saya itu jago bicara. Ada saja yang diomongin,  bahkan saya lebih tepat menyebutnya sebagai  suami bawel !

Persoalan yang melanda saya, adalah mengenai kehadiran wanita lain dalam  bahtera cinta saya dan suami.  Sudah satu tahun ini suami saya menikahi seorang wanita muda ( sudah selesai kuliah tapi nggak punya gawean ), yang tinggalnya di Depok. Karena suami saya kerjanya di kawasan Depok. Suami saya menikah lagi dengan alasan,  bahwa saya kurang bisa memenuhi kebutuhan seks-nya.

Kalo urusan yang satu ini, suami saya memang  mementingkan sekali. Saya sendiri nggak habis pikir. Ini normal atau nggak normal. Karena saya dan suami saya, rata – rata melakukan hubungan intim 2-3 kali setiap minggunya. Ya, namanya juga punya anak. Pasti ada saja kesibukannya. Saya juga punya kerjaan, kan wajar kalo saya juga punya rasa capek atau nggak mood.

Suami saya ini mintanya setiap hari. Bahkan tidak sekali. Dan mintanya juga mendadak. Walau saya lagi capek, atau nggak ada mood, dia pasti memaksa. Salah satu hobby-nya adalah ngumpulin resep – resep obat kuat. Pernah suatu kali saya ngikutin salah satu  acara di sekolah pada malam hari. Tiba – tiba saya ditelpon,  kalo dia sudah menunggu di tempat parkir mobil. Saya disuruh nemuin dia sebentar.

Sudah saya tebak. Saya disuruh memuaskan nafsu seksnya didalam mobil. Setelah dia puas, saya disuruh ngikutin acara sekolah lagi. Padahal kalo saya mikir, apa sih susahnya nunggui hingga saya di rumah ?

Dan saya disuruh melakukan hubungan intim  di mobil ini bukan sekali saja, tetapi sering sekali.  Tetapi sejak dua tahun terakhir, memang saya ada masalah kerja. Sehingga saya juga capek, dan kalo di rumah disibukkan ngurus anak ( suami saya nggak mau tau urusan anak ). Makanya saya juga kelelahan. Bahkan saya juga konsultasi dengan psikolog di rumah sakit Cikini Jakarta.  Hasilnya bagus, walo memang membutuhkan waktu.

Karena sejak dua tahun terakhir saya hanya bisa melayani suami  2  kali seminggu, suami saya ngambek. Akhirnya diam – diam dia memutuskan menikah siri tanpa sepengetahuan saya. Tetapi toh akhirnya ketahuan juga. Karena salah satu teman saya, memergoi suami saya sedang bergandengan tangan dengan wanita muda di pantai Ancol.

Akhirnya suami saya ngaku juga. Sejak sa’at itu, kalo saya melakukan sesuatu dan tidak sesuai dengan hatinya, dia cepat naik pitam, dan memaki saya. Bahkan tak jarang dia menampar saya. Pernah saya  menangis tersedu – sedu didepan dia, setelah pipi saya ditampar,  hingga saya terjungkal ke lantai.  Dan  apa yang dilakukan suami saya berikutnya ?  Dia mengencingi kepala saya dan ngelonyor pergi. ( Mungkin anda tidak percaya, tetapi ini kenyataan ).

Sejak saat itu saya sudah nggak mau hubungan intim dengan suami  saya. Saya begitu trauma.  Kini suami saya dengan bebasnya memuaskan nafsunya dengan wanita yang dinikahinya secara siri tersebut. Kalo nggak ingat anak saya, mungkin saya sudah minta cerai. Tetapi anak saya ini dekat sekali dengan papanya.  Saya  jadi kasihan, kalo anak saya tumbuh tanpa  ayah.

Suami saya pernah juga membawa anak saya nginap di Depok (rumah kontrakan ). Tetapi ketika di rumah,  anak saya  bercerita  kalo  melihat papanya “begituan “dengan  wanita tersebut. Saya kaget sekali dan marah.  Sejak saat itu dia nggak mau lagi diajak ke sana. Pikiran anak saya bingung, la wong diajak main ke Tante,  kok papanya nidurin tante.

Kalo ada pembaca yang berkenan menolong,  bagaimana saya bisa memupuskan kembali  kehangatan rumah tangga  ini ?  Atau haruskah saya minta cerai saja ? Terima kasih atas bantuannya memecahkan masalah saya.