jc32-2Salah satu bentuk alam perasaan yang sangat berdampak buruk bagi kesehatan seseorang,  adalah perasaan bersalah dan perasaan berdosa.

Perasaan ini begitu menyiksa, sehingga menimbulkan tekanan psikis, yang tidak jarang membawa seseorang menuju tahapan kearah depresi.

Dan tekanan psikis ini, yang akhirnya mampu menciptakan gangguan stabilitas fisik. Sehingga daya tahan tubuh menjadi menurun.

Dan salah satu bentuk  mengeksplorasikan perasaan tersebut adalah dengan jalan menulis, untuk meringankan tekanan yang tertimbun. Apalagi kalau masalah ini tidak gampang dicurahkan ke orang lain secara terus terang.

Maka Dewa Dewi berterima kasih kepada Mr. Gundah ( samaran ), yang telah memanfaátkan  Dewa Dewi sebagai blog untuk berbagi duka dan berkeluh kesah.

Silahkan membaca dan memberikan tanggapan !

 Mr. Gundah – Luar Jawa

Saya, yang sudah bertahun – tahun menghantui pikiran dan hati. Bahkan merong – rong seluruh sendi kehidupan saya.

Perasaan tertekan ini juga sering  muncul didalam mimpi. Yang membuat mata saya tidak mampu dipejamkan lagi. Air mata yang bercucuran mengiringi  perasaan bersalah dan berdosa,  yang  amat luar biasa. Dan istri sayapun, tidak  mengetahui hal yang sebenarnya.

Saya memang orang bersalah, pelaku kejahatan, yang masih diberikan hidup. Namun kehidupan yang saya emban ini, justru terasa begitu berat. Bahkan kadang ada pikiran untuk mengakhiri hidup saja.

Untunglah saya mendapat pertolongan yang baik dan begitu profesional dari seorang psikolog. Sehingga keadaan psikis saya membaik,  dan semangat hidup Perkenankanlah saya mencurahkan hati dan perasaan saya, walo curhat ini keluar dari hati seorang yang telah berbuat biadab. Ijinkanlah saya mengeksplorasi kekalutan dan kegundahan berangsung – angsur tumbuh.

Tentang background yang membuat saya tersiksa ini akan saya uraikan. Tetapi  ada beberapa hal yang menyangkut nama, tempat, waktu,  yang sengaja tidak saya uraikan dengan jelas,  demi alasan tertentu. 

Sesuai dengan judul diatas, saya telah berbuat jahat memperkosa seorang wanita. Hal ini terjadi saat terjadi saat meletus kerusuhan Mei 1998. Peristiwa kelam,  yang membawa bangsa Indonesia memasuki periode kelabu.

Pada saat kasus ini terjadi, saya masih berstatus sebagai mahasiswa swasta disalah satu perguruan tinggi Jakarta. ( saat ini saya berprofesi sebagai pengusaha ).

Di Jakarta saya juga termasuk orang perantau, karena saya berasal dari salah satu kota di Jawa Tengah. Walo perantau, tetapi saya tidak merasakan kesukaran dalam keuangan. Karena kedua orang tua saya tergolong mampu.

Pada hari kelam ini, saya sebenarnya sedang  mengantarkan beberapa teman ke lokasi pertemuan.  Saya nggak menanyakan kepada dia,  pertemuan apa yang dimaksudkan. Karena saya tidak begitu tertarik mencampuri urusan orang lain.

Saya cuma mengantarkan, karena kebetulan sayalah yang mempunyai mobil. Mereka adalah teman – teman yang tidak begitu dekat. Karena hanya satu orang saja, yang saya kenal dengan baik.

Setelah sampai ketempat tujuan, turunlah teman – teman. Mereka bergegas menuju rumah tempat pertemuan tersebut. Pada saat itu saya sebenarnya langsung ingin pulang.

Tetapi  saya merasa haus sekali, sehingga saya  tidak menolak,  saat teman mengajak  mampir kerumah tersebut. Hanya sekedar minum coca cola.

Disaat saya minum coca cola,  seorang pria muda berambut panjang menghampiri saya. Dia minta bantuan saya untuk mengantarkan mereka  kesebuah tempat. Saya nggak nanya macem – macem dan langsung mengiyakan saja.

Yang hadir dirumah tersebut  sekitar sepuluh orang. Sudah ada dua mobil, jadi mereka  membutuhkan satu mobil lagi. Tanpa banyak nanya saya mengiyakan saja. Lagi pula saya  waktu itu tidak ada janji atau kegiatan. Ah, cuma nganterin pake mobil saja  kok.  Apa sih salahnya ?

Setelah coca cola habis saya tenggak, kita semua langsung meluncur ke lokasi yang sudah disepakati. Saya mengendarahi mobil paling belakang,  mengikuti dua mobil didepan saya. Perasaan waktu itu biasa – biasa saja, nggak ada yang mencurigakan.

Setelah saya memparkir mobil dipinggir jalan, kita semua masih harus berjalan menuju sebuah lokasi pertokoan. Letaknya tidak jauh dari mobil yang diparkir. Dari sini kita semua berhamburan menuju pertokoan.

Saya baru sadar, kalo saat itu sedang terjadi kerusuhan di lokasi. Disekitar pertokoan ramai sekali. Banyak orang – orang yang menyerbu toko dan menjarahnya. Pemandangan orang yang keluar masuk toko sambil menenteng barang – barang curian banyak sekali.

Sadar saya berada dilingkungan kerusuhan, saya sebenarnya mau pulang saja. Tetapi tiga orang yang masih bersama saya, mengajak untuk mendekati lokasi.

Saya juga goblok, kenapa saya mau saja. Padahal tidak ada yang saya cari disana. Rekan – rekan yang lainnya sudah meluncur ke lokasi dengan cepat. Mereka berhamburan, dan bersemangat sekali. Sebenarnya saya tidak enak berada ditempat orang – orang yang sedang menjarah. 

Ketika kita berjalan agak cepat menuju lokasi kerusuhan, tiba – tiba datang seorang rekan yang barusan dari lokasi.  Kita semua diajak menuju kesana. Memasuki sebuah toko yang boleh dibilang mewah. Barang – barang berserakan. Rupanya penjarah sudah habis beroperasi disini.

Saya diajak menuju keruangan bagian dalam. Betapa saya begitu kaget. Mata saya melihat dua wanita muda yang sedang menangis diperkosa !!!

Kalo dilihat dari wajahnya, sepertinya kakak beradik. Keduanya wanita berdarah Tionghoa. Mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat, dan sedang dipaksa melayani nafsu bejad dua pria.

Mereka menangis dengan suara yang tidak keras, karena sudah tidak bertenaga lagi. Terlihat mata saya, bagaimana  dua pria tersebut  dengan penuh nafsu sedang melampiaskan birahinya. Yang satu diperkosa diatas lantai,  dan yang satu diperkosa  disebuah meja yang tidak begitu tinggi.

Melihat pemandangan tersebut saya menjadi mual dan ingin cepat – cepat pergi saja. Secara keseluruhan ada enam pria ditoko tersebut ( keseluruhan yang  yang berangkat bersama – sama ).  Rekan – rekan lainnya tidak saya ketahui.

Tiba – tiba seorang pria ( yang datang menghampiri saya dan rekan lainnya,  sa’at masih menuju lokasi ) berbicara dengan ucapan lantang. Kalo tidak seorangpun diperkenankan meninggalkan toko tersebut tanpa memperkosa dua wanita tersebut.

Mungkin dia khawatir,  kalo kasus ini kelak muncul kepermukaan, ada yang bersaksi dan berkhianat. Makanya, semua pria yang hadir harus dilibatkan pada kasus kejahatan tersebut. Saya juga akhirnya tau, bahwa rekan – rekan lainnya yang tidak berada di toko tersebut, sedang sibuk menjarah di toko lainnya dilokasi tersebut.

Sebenarnya waktu itu saya ingin menolak, tetapi pria tersebut berbicara sambil mengacung – acungkan sebuah pisau yang sangat tajam. Saya seperti seorang laki – laki tolol yang terjebak dalam situasi. Lelaki yang bisu yang tidak dapat menolak.

Rekan – rekan pria lainnya sudah melepaskan celana. Tangannya sedang sibuk meremas – remas senjatanya, dengan pandangan yang liar seperti binatang. Bahkan ada yang mengerang menikmati senggama jahanam tersebut.

Ketika giliran saya. Saya merasa berat hati sekali. Bahkan ketika saya melepas celana saya, kemaluan saya justru mengkerut, dan sama sekali tidak bisa ereksi. Agar tidak kelihatan  oleh rekan lainnya, saya menggenggam kemaluan saya.

Ketika  saya dapat giliran  menyetubui wanita muda tersebut,  hati saya berontak. Bahkan saya sebenarnya jijik, ketika kulit saya bersentuhan dengan kulit wanita tersebut yang basah dengan sperma.

Tetapi saya melakukan gerakan – gerakan seperti orang bersetubuh ( pada saat kejadian tersebut, saya sebelumnya belum pernah sama sekali bersetubuh dengan wanita ).

Saat saya melakukan persetubuhan pura – pura tersebut, nampak kalimat – kalimat yang menyemangati saya dari belakang. Saya waktu itu merasa sudah menjadi setan.

Saya melakukan hanya sebentar saja. Saya berpura – pura seolah – olah  saya sudah mendapatkan orgasme. Setelah itu, wanita tersebut digilir lagi dengan pria lainnya.

Tiba – tiba perasaan mual saya tidak ketulungan, sehingga membuat saya muntah – muntah.

Saya minta pergi dari toko tersebut, diikuti dua orang lainnya yang ingin numpang mobil saya. Selama perjalanan, saya hanya membisu saja. Mereka saya turunkan ketempat yang  diinginkan, selanjutnya saya meluncur pulang.

Sampai di rumah, saya langsung menuju kamar mandi. Dikamar mandi saya muntah – muntah. Dan tiba tiba air mata mengalir begitu deras.

Saya menangis sejadi – jadinya. Setelah  badan saya bersih, saya mengurung diri didalam kamar sambil terus sesenggukan. Saya merasa seperti orang yang paling durhaka.

Sejak kejadian itu saya merasa bersalah dan berdosa. Saya sering mimpi buruk, dan nafsu makan saya turun drastis. Kosentrasi belajar saya pudar. Untungnya saya masih mampu menyelesaikan kuliah dengan baik.

Setelah  selesai kuliah, saya langsung meninggalkan pulau Jawa. Orang tua saya juga heran,  melihat keputusan saya yang menurut mereka aneh. Karena orang tua saya mau membantu keuangan, sehingga saya bisa mengawali usaha dibidang perhotelan tanpa kendala.

Kini saya sudah menikah dan dikharuniai dua anak yang lucu – lucu. Istri dan orang tua saya, tidak pernah mengetahui pengalaman  yang jahat ini. Hingga kini, saya jarang sekali datang ke Jakarta, kecuali kalau ada urusan usaha. Dan itupun, biasanya saya lebih memilih pergi menginap di Bogor.

Kalau  saya dilanda gangguan tidur dan depresi, istri saya mengira dikarenakan masalah pekerjaan. Padahal kenyataanya tidak. Hanya psikolog yang mengetahui hal ini, karena saya  bercerita terus terang.

Saya selalu bersembahyang minta pengampunan. Setiap kali ingat kejadian tersebut, mata saya selalu bersimbah air mata, dengan hati yang pilu.

Kepada dua gadis yang diperkosa, 

Kalimatku  terlalu pendek untuk mengungkapkan permintaan maáf yang ada dihati ini. Dengan segenap hati dan kejujuran dari lubuk hati yang paling dalam,  ma ‘afkanlah  aku. Karena aku tergolong pria penakut dan picik, sehingga membiarkan diri melakukan tindakan biadap terhadap kalian.

Dimanapun kalian berada, semoga kemurahan Tuhan mengayomi kehidupan kalian  dengan kesehatan, ketabahan, rejeki, dan hidup yang  bahagia. Walau aku mengetahui,  kalian mempunyai luka menganga, yang harus kalian tanggung seumur hidup, karena kebiadapan saya dan rekan – rekan pada waktu itu.

Buat Dewa Dewi  terima kasih sebesar – besarnya.