Saat ini aku sangat bahagia,  karena masih dalam suasana merayakan hari  perkawinan. Ya, memang perkawinan yang masih  sangat muda. Baru dua tahun berjalan.

Tetapi menurutku,  berapa lamapun sebuah perkawinan adalah sebuah prestasi.  Oh ya, sebelum melanjutkan cerita, biarlah  aku  tulis sepintas tentang  latar belakangku. Aku pria berusia 28 tahun, pelukis,  dan menetap dikota metropolitan.   Didunia seni aku sangat aktif dan produktif. Sering mengunjungi workshop sebagai pembicara, dan  menggelar pameran seni.

Istriku dua tahun lebih muda, seorang penari profesional. Agendanya padat dipenuhi dengan berbagai show bersama groupnya. Dia juga sering dikirim oleh pemerintah sebagai utusan  pengenalan budaya keluar negeri.  Dia beberapa kali dikirim ke Jepang, dan mempunyai sahabat  dekat yang tinggal disana.

Disamping Jepang, dia juga beberapa kali ke Beijing ( China ). Kebetulan dia mempunyai anggota keluarga  yang menetap disana, dan ketertarikannya  akan senam Qigong. Senam tradisional  China untuk menjaga keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Disamping bermanfaat  menjaga kebugaran, juga bisa memberikan ketenangan dan sebagai therapy.

Istriku orangnya spontan dalam bergaul, ramah dan berwajah menarik. Dia gampang diterima dilingkungan apa saja. 

Kami berpacaran hanya 6 bulan, dan itupun tidak sering bertemu. Tetapi  sering banget ngobrol lewat telpon. Bahkan boleh dibilang berlebihan, sehingga rekening telpon membengkak. Dia taat beragama,  dan memegang prinsip menjaga keperawanan.

Dan itupun dibuktikan hingga malam pertama. Aku sangat mensyukuri  menjadikan dia sebagai pendamping hidupku.

Sedangkan aku sendiri ketika masih ngejomblo, justru  sudah sering melakukan hubungan seks. Maksudku berhubungan seks dengan  pacarku sebelumnya. Melakukan seks dengan cewek panggilan aku tidak pernah. 

Beberapa hari menjelang ultah perkawinan, aku memberikan hadiah berupa buku yang ditulis oleh Charla Muller yang berjudul  365 Nights, A memoir of Intimacy. Aku rasa dia menyukainya.  Dalam buku tersebut berisi catatan Charla Muller yang memberikan hadian setahun penuh seks non stop sebagai  hadiah ultah suaminya yang ke -40 tahun.

Dengan buku yang aku berikan tersebut, bukan maksudku agar dimanjakan dengan  seks setiap hari, tetapi memberikan  cakrawala kehidupan seks yang kreatip, tidak monoton dan alami. Alami ? Ya, karena aku lebih tertarik dengan seks yang tidak begitu aneh – aneh dimataku.

Walo aku sendiri seniman yang punya ide kadang nyleneh – nyleneh  untuk lukisan, tetapi tidak demikian jika berkaitan dengan seks.  Mungkin menyangkut lokasi, yang memang menurutku harus bervariasi.

Ada kebiasaan yang mencolok yang terlihat pada kebiasaan seks istriku,  dan dia tidak mau menyebutnya sebagai kelainan. Dia lebih menyukai dengan istilah permaian. Keunikan yang dimilikinya.

Dia begitu terpesona dengan berbagai hal yang berwarna merah. Hal ini mengingatkan dia akan warna darah, sebagai simbol kehidupan ( karena tanpa darah tentu orang akan mati ). Dia juga mengasosiasikan warna merah sebagai keberanian,  perjuangan , dan sikap optimisme.

Tidak heran dirumah kami banyak dihiasi pernik – pernik yang berkaitan dengan warna merah. Terutama dikamar tidur. Termasuk lingerie tentunya. 

Hanya saja istriku  menggunakan  lingerieset yang berwarna merah, hanya untuk bercinta. ( ma’af, istriku dalam sehari – hari tidak pernah menggunakan celana dalam. Dia hanya memakai kalo sedang menstruasi agar bisa dipakai merekatkan  tena lady ).

Aku juga tidak mengerti kok kebiasaannya begitu.

Di kamar tidur  juga selalu ada selendang berwarna merah, lipstik berwarna merah , bunga mawar berwarna merah, dan sebuah belati yang disembunyikan dibawah kasur. Tidak tanggung – tanggung, belati yang tajam !

Semula aku tidak mengetahuinya, jika dia menyimpan  pisau tajam. Awalnya,  ketika  suatu kali kita sedang bercinta. Suatu malam dia menggunakan lingerie berwarna merah, dan  aku langsung tanggap.

Dan seperti biasa aku diberi service massage oleh dia  dengan menggunakan massage oil.  Tetapi mataku terlebih dulu ditutup  dengan menggunakan selendang.

Setelah itu aku melakukan massage untuk dia. Dan mataku masih tertutup selendang. Disela – sela massage tersebut dia menggodaku  dengan sentuhan benda tumpul dan tajam.

Aku tidak menyadari kalo itu pisau. Aku kira  sebuah alat permainan seks. Karena yang dipakai awalnya bagian pegangannya yang dari kayu. 

Ketika aku menanyakan benda apaan yang dipegangnya, dia menjawabnya,

” Hmmm, penasaran, yaaa? “

Dia menikmati pijitanku dengan suara menggoda, dan  dengan tetap mempermainkan benda tersebut dibagian tubuhku. Setelah acara foreplay yang cukup lama tersebut, akhirnya   dilanjutkan dengan hubungan seks ( panetrasi ).

Aku melakukan dengan gaya yang menurutku nikmat. Seperti biasa, gaya tradisional ( wanita dibawah ) dan posisi doggy style. Posisi ini juga  disenanginya. Kemudian dilanjutkan dengan posisi penutup,  aku dibawah  dan dia diatas.

Posisi ini adalah favoritnya. Dimana dia biasanya merasakan orgasme yang sangat  kuat. Aku biasanya menunda ejakulasi, hingga saat  dia mendapatkan orgasme diposisi ini. Dengan ritme dan irama gerakan tubuhnya yang begitu sempurna, membuatku sudah tidak bisa menahan lama lagi.

Dan ketika gerakan pinggulnya semakin kuat dan cepat, akhirnya dia mendapatkan orgasme, dengan  suara rintihan yang kuat. Bersamaan dengan itu aku juga merasakan orgasme yang hebat, dan kupeluknya erat – erat.

Dalam detikan yang sama dia membuka selendang merah yang menutup mataku. Betapa terkejutnya aku. Aku yang  merintih keras dengan nafas memburu, dibuat melongo melihat wajah istriku. Buah dadanya dicorat – coret pakai lipstik berwarna merah, dengan mulut menggigit pisau  tajam.

Melihat aku  yang melongo, dia  dengan enteng mengambil pisau dari mulutnya, dan mempermainkan bagian pisau yang tajam tersebut didadaku dan dibagian leher, dengan suara tawa yang manja. Setelah itu dia merebahkan badannya jatuh mendekapku.

Tidak lama kemudian dia tertidur pulas. Dan sebaliknya, aku tidak bisa memejamkan mata semenitpun. Aku masih terkejut dengan permainan yang baru saja terjadi.  

Ketika dia bangun, dia menjelaskan kalo semuanya hanya untuk kesenangan semata. Dia tidak akan menyakitiku dengan pisau tajam tadi. Dan ini juga tidak untuk menakut – nakuti.  Dia hanya menyukai permainan seperti itu.

Aku bilang kalo tidak menyukainya. Tetapi dia membuat usul. Dia ingin melakukan ini satu kali saja dalam seminggu.   Akhirnya aku menyetujuinya. Dan jika tidak dipakai, pisau tersebut disimpan di lemari. Sedangkan selendang merah selalu berada diatas tempat tidur.

Perkawinan  terasa harmonis, walo dalam hubungan seks ada hal unik dari istriku, yang kadang aku sendiri tidak mengerti. ( Dikirim oleh Sam )

Adakah  tanggapan tetang fantasi istriku  yang agak nyleneh ini ?