Saya adalah seorang wanita muda, yang sekarang sedang bahagia menikmati masa – masa kehamilan.

Masa indah yang dirindukan kaum wanita, ato pasangan yang mendambakan buah hati tentunya.

Kalau tidak ada hal – hal yang mengganggu,  sekitar empat minggu lagi saya dan suami akan bisa melihat kehadiran bayi mungil, yang merupakan anak  pertama kami.

Saya tinggal di salah satu kota besar di Bali, dan bekerja  disektor pariwisata. Saya memang asli orang Bali. 

Sebelumnya saya tinggal di Jakarta dan  kuliah di  Universitas Trisakti. Setelah diwisuda, kayaknya saya sudah ngga tahan untuk bisa balik ke Bali.

Di Jakarta banyak suka dan duka yang saya alami.  Bahkan ada pengalaman  hitam, yang hingga kini pernah saya tanyakan pada diri sendiri. Kenapa saya sampai terperosok ke lembah hitam tersebut ?

Waktu tidak bisa diputar balik. Hanya ada penyesalan. Walo diri ini tidak bisa berbuat banyak, kecuali hanya mengambil hikmah dan belajar dari kesalahan yang pernah terjadi.

Sewaktu saya menekuni kuliah ditahun terakhir, ada tragedi yang menimpa keluarga saya.  Ayah saya usahanya bangkrut, dan dililit  hutang. Memang, ayah saya mempunyai hobi buruk, yaitu  berjudi.

Dan judinya bukan dengan uang yang kecil, tetapi dengan jumlah mata uang yang lumayan besar. Ibu saya tidak bisa berbuat banyak, karena ayah saya perangainya keras.

Setelah uang ludes, ayah saya menjadi  depresi. Dan tidak lama setelah itu, ayah meninggal karena serangan jantung. Perekonomian keluarga jadi berantakan. 

Ibu  saya yang sebelumnya hanya sebagai ibu rumah tangga, akhirnya  bekerja untuk menyambung hidup. Saya juga merasa kasihan melihat ibu bekerja,  karena semenjak kepergian ayah,  beliau seperti stress.

Saya tidak bisa mengandalkan uang kiriman dari rumah lagi. Saya juga tidak mau merepotkan kakak saya, karena dia sudah  berkeluarga dan sibuk membiayai anak – anaknya.

Pada saat kalut dan bingung dengan berbagai kejadian  tersebut, saya bertemu Tiara ( samaran ) sahabat saya. Dia kuliah di Universitas Indonesia.

Kami memang tetap kontak, tetapi ngga  begitu sering bertemu. Tiara adalah cewek asal Surabaya, tetapi berdarah Bali. Akhirnya saya ceritakan kepada Tiara tentang kejadian yang menimpa keluarga saya.

Dengan penuh simpati, Tiara mendengar cerita saya dan ingin membantu. Tetapi dengan jujur dia ngga  bisa memberikan jalan keluar tentang biaya sewa kamar, biaya kuliah dan sebagainya. Dia mengajak saya dipertemukan dengan seorang wanita yang suka menolong.

Saya dan Tiara menemui wanita tersebut  dikawasan blok M. Saya langsung mengenalinya, karena beliau  ternyata  seorang aktris ternama. Maáf, saya tidak perlu menyebutkan namanya. Walau usianya sudah tidak muda, tetapi beliau masih cantik. 

Setelah kenalan dan ngobrol santai,  saya dan Tiara diundang keesokan harinya untuk berkunjung kerumah beliau dikawasan Pondok Indah. Gaya penampilan beliau memang seperti aktris pada umumnya. Penuh percaya diri, dan bisa meyakinkan orang dengan kata – katanya.

Beliau menawarkan bantuan untuk kebutuhan hidup dan kuliah saya, yang sedang berada ditahun terakhir. Karena saya bisa menari  tarian  Bali, saya diberikan skema untuk memberikan show tari Bali di rumah tersebut satu minggu sekali. Untuk  menghibur anggota club Sheba, yang beliau tangani.

Saya juga akhirnya tau, kalau club Sheba seperti aliran New Age. Tetapi saya ngga  tau persis, karena keterlibatan saya tidak begitu lama. Club  ini sangat dirahasiakan. 

 
 

Anggotanya terdiri dari kalangan pria. Bahkan yang berlatar belakang seleb dan orang gedean. Ada penyanyi,  aktor , pengusaha dan bahkan tokoh politik.

Semua anggotanya disumpah untuk tidak menceritakan ke orang lain tentang keberadaan club ini. Jika melanggar, ada sangsi tertentu yang sangat keras.

Menurut Tiara, anggota club Sheba ini banyak sekali. Tetapi pada pertemuan yang diadakan  saat itu, hanya dua belas orang setiap hari Jumát malam. Konon, pusatnya berada disebuah villa dikawasan Puncak.

Saya bertugas membantu menyiapkan makan dan memberikan show tari Bali. Setelah show ini selesai, tugas saya juga selesai. Biasanya saya  ngga langsung pulang, karena nungguin Tiara. Bahkan kadang sampai larut malam.

Setelah berkali – kali saya menunggu, akhirnya  timbul juga rasa keingin tahuan. Saya sudah berusaha mencari tau ke Tiara, tetapi dia tidak mau bercerita. Saya hanya dianjurkan ikut, kalau mau. Mendengar kalo saya tertarik  mengikuti aktifitas mereka, ibu  penolongku ini merespon positip.

Hingga detik ini saya kadang, tidak mengerti. Kenapa saya sebodoh itu. Kenapa saya tidak menyadari, kalo anggota club Sheba waktu itu hanya pria.

Kenapa saya ingin mengikuti aktifitas mereka ?

Anehnya, sebelum saya diperbolehkan mengikuti aktifitas mereka. Saya dianjurkan ibu ini ke rumah sakit untuk melakukan  general check  up. Mulai dari pemeriksaan darah, urine, dan foto dada ( rontgen ). Sebagai bukti kalau saya benar – benar sehat.

Pada hari Jumát  sore , saya tidak usah menari. Saya diundang untuk berdialog empat mata dengan ibu ini. Beliau memberikan penjelasan tentang keberadaan club ini, karena saya sudah dijadikan anggota.  

 
 

Sebagai anggota, saya dianjurkan menyebut beliau dengan sebutan Nyai Sheba. Konon Sheba adalah nama seorang ratu yang amat cantik, seksi dan cerdik asal Ethiopia.

Karena kecerdikan dan kecantikannya, sehingga ratu  tersebut bisa menggaet Raja Sulaeman, dan melalaikan istri – istrinya yang berjumlah ratusan.  Hingga akhirnya ratu Sheba ini mempunyai anak laki – laki, hasil hubungannya dengan raja Sulaeman.

Oke, saya disuruh menyebut  ibu ini dengan sebutan Nyai Sheba. Sebutan ini hanya dilakukan pada saat melakukan aktifitas ritual. Saya dianjurkan mandi dengan air yang sudah dicampur dengan berbagai  ramuan  bunga tertentu.

Setelah itu  saya diberikan jubah berwarna putih bersih dengan  kain pengikat pinggang berwarna merah. Dibalik jubah, saya tidak diperkenankan menggunakan celana dalam atau BH.  Saya harus menunggu  hingga saya diperbolehkan masuk.

Setelah menunggu  setengah jam saya dijemput Tiara dan seorang gadis yang belum saya kenal. Keduanya juga menggunakan jubah berwarna putih. Tetapi mereka menggunakan kain pengikat pinggang berwarna biru.

Dengan bimbingan Tiara dan gadis tersebut, saya memasuki sebuah ruangan yang  boleh dibilang suram. Hanya ada satu lilin, itupun terlalu kecil untuk menerangi ruangan. Jadi semuanya terlihat samar – samar.

Nampak 12 pria berjubah berjubah putih,  menari melingkari Nyai Sheba dengan musik yang menyerupai irama padang pasir.

Yang bikin saya kaget, Nyai Sheba menari dalam keadaan telanjang bulat. Beliau seperti orang yang sedang kesurupan. Setelah musik berhenti. Nyai Sheba yang seperti lunglai,  dibopong pria – pria tersebut.

Beliau dibaringkan, dan  ditutupi badannya dengan selimut yang berupa kain berwarna putih. Bersamaan dengan itu muncul musik lembut seperti musiknya aliran new age.  Pria ini membentuk lingkaran yang agak besar. 

 
 

Kedua tangannya ditempatkan didada, dan menngucapkan  kalimat – kalimat doá yang mirip mantra. Matanya tertutup. Bahasanyapun tidak bisa dimengerti dengan jelas.

 

Setelah itu saya digiring Tiara ke ranjang yang dikelilingi pria – pria yang berdoá tersebut.  Lilinpun berhenti menyala. Ruangan gelap. Hanya terdengar musik dan suara doá.  Saya tiba – tiba seperti seorang yang lemas, tidak bisa berbuat apa – apa.

Setelah itu  saya merasakan sentuhan tangan seorang pria. Dia menciumi dan mencumbui seluruh wajah dan badan saya, diiringin musik dan doá. Saya juga tidak bisa mengingat pasti, seperti  terhipnotis begitu. Yang saya tau, setelah bangun saya sudah berada disebuah kamar.

Setelah lama merenung, akhirnya saya bisa membuat kesimpulan. Ramuan yang dicampurkan kedalam air sewaktu saya mandi,  mengandung bahan untuk menurunkan kesadaran seseorang. Bawasannya saya disuruh periksa kesehatan, adalah untuk menghindari resiko penularan penyakit.

Setelah kejadian itu, saya sudah resmi menjadi anggota club Sheba. Dan boleh melakukan hubungan intim pada setiap ritual  sesuai aturan  yang diberlakukan. Ternyata dalam setiap ritual, selalu digilir. Selalu ada 12 pria dan tiga wanita.

Tiga bulan setelah saya aktif dengan club tersebut, saya agak stress karena dihantui perasaan bersalah. Saya juga sering ditemui ayah saya dalam mimpi. Hal ini saya utarakan pada Nyai Sheba.

Dia menyarankan saya mengundurkan diri, tetapi tetap membantu memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah saya hingga selesai. Tentunya dari uang yang dikeluarkan oleh anggota – anggota club Sheba. Makhlum, mereka termasuk orang – orang berduit.

Setelah saya menyelesaikan kuliah, saya  balik ke Bali. Dan saya dengar, kalo Tiara  dapat jodoh dengan bule asal  Jerman. Dan dia mengikuti suaminya kesana.Hingga  detik ini saya belum pernah lagi  kontak dengannya.

Itulah  sepenggal  kisah pahit saya sewaktu tinggal di kota metropolitan.  Hanya ada air mata setiap mengenang kejadian itu. Waktu berlalu, dan memberikan catatan kehidupan yang baru.

Kini saya berbahagia dengan suami tercinta, dan bersiap – siap menanti hadirnya buah hati. ( Dikirim Oleh Dewi- Bali)